Muhammad E Fuady

Romi dan Brenton, Dua Wajah Dunia

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Minggu, 17 Maret 2019 - 01:13 WIB

Muhammad E Fuady/Dokumen pribadi
Muhammad E Fuady
Foto: Dokumen pribadi

Siapapun di tanah air dan seluruh dunia, dengan nuraninya turut merasakan duka mendalam atas korban penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru. Tindakan terorisme Brenton Tarrant dapat dilakukan siapa saja. Terorisme bukan perbuatan orang beragama.

Jumat (15/3) siang, publik dikejutkan oleh dua peristiwa di lokasi berbeda. Kedua peristiwa itu seakan menjadi wajah dunia hari ini. Ada wajah kebengisan yang melahirkan duka dalam
& keserakahan yang menguatkan ketidakpercayaan. Satu peristiwa di Christchurch, Selandia Baru, amatlah memilukan, dan peristiwa lainnya di Surabaya sangat memalukan.

Di Selandia Baru, seorang warga Australia menembaki pria, wanita, dan anak-anak yang sedang berada di dalam masjid. Brenton Tarrant, pelaku penembakan, menyiarkan serangan itu melalui media sosial. Dari video yang sempat beredar di media sosial, aksi itu mirip game online genre first person shooter.

Pada media, seorang jamaah yang menggunakan kursi roda, Farid Ahmed, mengungkapkan peristiwa penembakan terjadi ketika khutbah baru akan dimulai. Lebih dari 40 orang tewas akibat aksi brutal Brenton. Sungguh memilukan.

Siapapun di tanah air dan seluruh dunia, dengan nuraninya turut merasakan duka mendalam atas korban penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru. Tindakan terorisme Brenton Tarrant dapat dilakukan siapa saja. Terorisme bukan perbuatan orang beragama.

Di tanah air, publik juga dikejutkan berita operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK. Romahurmuzy alias Romi, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Surabaya. Ia diduga terlibat suap (risywah) pengisian jabatan di Kementerian Agama. Beberapa media mengungkap proses penangkapan Romi diwarnai keributan dan aksi kejar-kejaran di sekitar hotel. Mungkin mirip adegan film era 80-an, "Kejar Daku Kau Ku Tangkap".

Bukan kali ini saja pimpinan partai agama ditangkap KPK. Publik tahu pelaku terbanyak dan jumlah uang yang mengalir dalam kasus suap dan korupsi jiga berasal dari partai lain. Namun, label agama yang diusung partai sementara pimpinannya ditangkap karena kasus membuat publik merasa bila peristiwa itu amat memalukan.

Rasanya anekdot bahwa lempar jumroh itu jangan dilakukan di Mina benar adanya. Cukup dilakukan di tanah air saja. Setan mungkin tak ada di sana. Ini anekdot lama yang pernah disampaikan oleh seorang tokoh nasional belasan tahun lalu. Ia membuat sebuah sarkasme tentang korupsi di tanah air.

Tindakan buruk dilakukan segelintir orang. Kita mafhum, mereka adalah oknum namun getahnya menempel kemana-mana. Pada kasus yang dihadapi Romi, partai Islam dan Kementerian Agama akan terkena guncangan. Stigma buruk akan melekat pada partai dan kementerian. Pada tragedi di Selandia Baru, tak terbayang bila pelaku penembakan berjanggut dan mirip etnik tertentu dengan korban siapapun.

Labelling teroris akan menghiasi halaman media massa dan media sosial. Islam akan disebut sebagai agama teror. Berapa kasus yang di-blow up sebagai terorisme bertahun lalu, saat pelaku diketahui bukan muslim, media mengubah istilah. Alih-alih terorisme, aksi itu disebut sebagai tindak "kekerasan" atau "penyerangan" saja.

Publik menunggu perkembangan peristiwa memilukan dan memalukan itu. Pada kasus risywah, asas praduga tak bersalah harus diutamakan. Kasihan orang-orang jujur di kementerian agama yang bekerja sungguh-sungguh. Mereka akan disorot publik akibat kasus ini. Berempati pula pada politisi yang kini sedang berusaha mengubah wajah bopeng kekuasaan. Meski wajahnya sedari dulu memang tak banyak berubah. Semoga tak terulang kejadian memilukan dan memalukan publik.

*Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba)

Editor: Tokohkita

TERKAIT