Muhammad E Fuady

Gus Dur, Cak Imin, dan Debat Cawapres

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Sabtu, 27 Januari 2024 - 08:43 WIB

Kutipan Cak Imin dalam debat cawapres dari Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari dan "Taubat Ekologis" dari Paus Fransiskus itu juga lebih menarik dibandingkan sentilan "Catatan Mahkamah Institusi". Narasi khas kalangan Nahdliyin yang inklusif dan berpihak pada kepentingan rakyat kecil ada di sana.

Tak ada yang menyangsikan bahwa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah orang yang visioner. Beliau dipandang waskita, dapat membaca tanda zaman, dan masa depan. Jauh sebelum Gus Dur menjadi presiden, Buya Syafi'i Ma'arif lah yang sempat bercerita pada wartawan koran Merdeka bahwa Gus Dur bermimpi menjadi presiden RI. 

Beberapa bulan kemudian dalam Istighasah Kubro NU tahun 1998 yang dihadiri Gus Dur dan Megawati, Pak Amien Rais lah yang pertama kali mengusung ide Gus Dur sebagai presiden. Sejak saat itu Pak Amien selalu mempromosikan Gus Dur for president dimana pun hingga benarlah Gus Dur menjadi RI-1.

Gus Dur tetaplah sosok bersahaja dan apa adanya. Ia lah yang mendesakralisasi istana negara dan kursi presiden RI. Istana Negara yang dahulu tampak seram dan berjarak, di masa kepemimpinannya terbuka bagi publik. Apalagi Gus Dur tetap apa adanya, sering berkumpul diskusi dengan para sahabat "kabinet malam" hingga dini hari, seambil makan kacang rebus atau nasi goreng dari pedagang gerobak dorong yang dipanggil  masuk ke halaman istana. Itu cara Gus Dur mendesakralisasi Istana Negara dan sosok presiden. Gus Dur memanusiakan manusia sebagai mana mestinya

Sebagai pendiri PKB, Gus Dur pernah berkonflik dengan keponakannya, Muhaimin Iskandar. Mirip perselisihan antara Gus Dur dan Pak Yusuf Hasyim (Pak Ud) yang masih terbilang pamannya Muhaimin Iskandar alias  Cak imin pernah berseteru dengan Gus Dur pasca kepemimpinan Alwi Shihab. Cak Imin diberhentikan sebagai Ketua Umum PKB. Di pengadilan, gugatan Gus Dur kalah dan Cak Imin diputuskan sebagai Ketua Umum PKB.

Sejatinya, ada apa sesungguhnya di antara mereka berdua, hanya mereka yang tahu. Namun di jaman now, misteri sedikit terkuak. Cak Imin pada 2008 itu tak ingin berseteru dengan Gus Dur.  KH Sahal Mahfudz menasihati, Cak Imin harus berniat "ndandani" (memperbaiki) PKB dan bukan melawan Gus Dur.

Barangkali niat baik itulah yang membuat ia dapat bertahan sebagai Ketum PKB karena pakemnya, siapapun yang melawan Gus Dur biasanya kena tulah

Muncul juga tafsir bahwa saat itu Cak Imin sedang diuji Gus Dur. Bila mengambil ilustrasi, mungkin mirip kisah KH Hamim Thohari Djazuli alias Gus Miek yang ditempeleng keras beberapa kali oleh Mbah Jogo Rekso. Jika Mbah Jogo Rekso menguji tamunya dengan hal yang tidak menyenangkan, ia akan menjadi orang besar. Terbukti, di kalangan nahdliyin, Gus Miek termasuk waliyullah yang keramat. 

Mungkinkan Cak Imin sedang melakoni perjalanan serupa? Belum tentu. Namun sebagai sebuah penafsiran Cak Imin sedang "digojlok" Gus Dur, itu sah saja. Terbukti ia berhasil memimpin PKB selama 15 tahun menjadi partai besar. 

Cak Imin juga menjadi cawapres Anies Baswedan berdasarkan "informasi langitan". Beberapa kiai langitan dan khos, di Jatim dan Tidore, pernah menyampaikan jodoh Cak Imin adalah Anies Baswesan. Suatu "hal yang mustahil" jika dipertemukan saat itu. Namun takdir kini membuat mereka menjadi pasangan capres dan cawapres

Pada debat keempat, Cak Imin mendapat sentimen positif dari netizen. Drone Emprit mengukur sentimen di debat sebelumnya dengan debat Ahad (21/1) malam. Pada debat lalu, Cak Imin menjadi bintangnya. Ia mendapat sentimen positif dan hadiah videotron dari fandom

Biasanya politisi yang memberi janji pada publik. Dalam kasus ini berbeda. Justru netizen yang memberikan janji hadiah videotron jika Cak Imin tampil maksimal

Kutipan Cak Imin dalam debat cawapres dari Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari dan "Taubat Ekologis" dari Paus Fransiskus itu juga lebih menarik dibandingkan sentilan "Catatan Mahkamah Institusi". Narasi khas kalangan Nahdliyin yang inklusif dan berpihak pada kepentingan rakyat kecil ada di sana.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba)

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER