Jeanne Noveline Tedja.

Banting Stir untuk Sebuah Keyakinan

  1. Beranda /
  2. Kiprah /
  3. Sabtu, 16 Maret 2019 - 02:37 WIB

Jeanne Noveline Tedja./dokumen pribadi
Jeanne Noveline Tedja.
Foto: dokumen pribadi

Rasa keingintahuan yang tinggi membawanya lebih dalam di dunia politik. Terlebih, selama dia menggeluti dunia politik, pekerjaannya sama sekali tidak terganggu. Sampai akhirnya dia harus memilih karir profesional atau politik.

TOKOHKITA. Perubahan dalam hidup adalah hak semua orang. Baik atau buruk dikembalikan pada orang itu. Tak terkecuali, Jeanne Noveline Tedja. Wanita ini mengalami perubahan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Berangkat dari seorang profesional, Nane sapaan akrab Jeanne dengan berani memutuskan untuk meninggalkan karier yang sudah dibangunnya selama 12 tahun di dua perusahaan multinasional.

Sampai akhirnya meyakinkan dirinya untuk terjun ke dunia politik, dunia yang dahulu tak pernah dipedulikannya. Kala itu, warga Tapos, Depok ini menjadi Coorporate Communication Manager di PT. Cognis Indonesia. Posisi yang tidak mudah untuk mencapainya. Banyak orang yang bilang dirinya gila saat memutuskan untuk banting stir ke dunia politik, terutama rekan wartawan yang juga dekat dengannya.

Bersentuhan langsung dengan masyarakat memang bukan hal baru baginya. Posisinya di perusahaan swasta itu mengharuskannya merancang program CSR (Coorporate Social Responsibility) yang sudah pasti bersetuhan dengan berbagai lapisan masyarakat, seperti bakti sosial dan pengobatan gratis.

Kegiatan itu pun bukan satu atau dua kali dilakukan, berkali-kali kegiatan semacam itu dilaksanakan. Mulai saat itulah Nane mengaku batinnya mulai terusik. Kegiatan itu dilakukan hanya untuk perusahaan, lalu di mana kontribusinya untuk kota yang jadi tempat dia dan keluarganya tinggal. Ditengah pergulatan batin yang dialami, dalam salah satu acara CSR yang dibuatnya, Nane bertemu dengan pengurus Partai Demokrat, Agung dan Wahyudi.

Dari beberapa pembicaraan ringan akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini. “Saya suka figur Pak SBY. Ideologi partai juga saya suka, nasionalis religius. Saya enggak suka partai agama. Jadi saya gabung di Partai Demokrat," terang wanita kelahiran Jakarta, 1 November 1974 ini.

Rasa keingintahuan yang tinggi membawanya lebih dalam di dunia politik. Terlebih, selama dia menggeluti dunia politik, pekerjaannya sama sekali tidak terganggu. Sampai akhirnya dia harus memilih karir profesional atau politik. Ini bukan pilihan yang ringan untuknya. Dalam memilih, Nane menyempatkan diri untuk umroh ke tanah suci Mekah berharap mendapat petunjuk dari Sang Khalik, pilihan mana yang akan dijalaninya dan diridhoi. “Ternyata, Allah mudahkan saya ke politik,” ungkapnya seperti ditulis depoklik.com.

Pasca-keputusan itu diambil, dia memutuskan untuk keluar dari PT. Cognis Indonesia pada 2008. Lepas dari situ dia langsung menyiapkan diri dalam pencalonannya pada pemilihan anggota legislatif 2009 silam. Pada masa sosialisasi kepada masyarakat selama sembilan bulan, suatu ketika ada momen yang tak pernah dilupakannya hingga kini. Saat di salah satu RW di Leuwinanggung, Nane dihampiri seorang janda tua bungkuk. Selesai sosialisasi, dia baru duduk di mobil, janda tua itu menghampirinya untuk bersalaman dengannya.

Nane spontan memberikan uang Rp 50.000 pada nenek tua itu. Tak ayal, nenek tua itu langsung mencium tangan Nane depan dan belakang. Dari situ saya tahu kalau uang itu sangat berarti. Mungkin buat kita biasa aja, tapi buat dia berarti banget," ungkapnya sambil membasuh air mata yang mulai mengalir. Sejak saat itu, dia bertekad menjalankan tugasnya sebagai anggota dewan dengan baik.

Dilantik sebagai Anggota DPRD Kota Depok masa bakti 2009-2004 pada tanggal 3 September 2009, Nane memulai karir politiknya. Semasa menjabat sebagai anggota dewan, Nane terkenal lantang menyuarakan hal-hal yang dianggap perlu disuarakan yang bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat.  Dia juga kerap mengkritik kebijakan-kebijakan Pemerintah Kota yang dianggap tidak bermanfaat, tidak tepat sasaran, ataupun tidak efektif dalam implementasinya. Kritik tidak hanya disampaikan didalam ruang rapat maupun sidang paripurna, namun Nane juga kerap menyuarakan kritik dengan aktif menulis di media (harian lokal).

“Saya tegaskan itu dan saya minta pernyataan itu dimuat di media saat itu," ujarnya. Ibu dari Alifyo (11), Nadine (9), dan Diandra (7) ini mengaku lebih peka terhadap masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat setelah dia menjadi anggota dewan. “Buat saya, semua itu dimulai dari diri sendiri dan dari hal yang kecil. Dan itu yang saya pengang sampai sekarang," ujarnya.

Pada tahun 2014 Nane memutuskan untuk tidak mencalonkan diri menjadi anggota DPRD kembali dan memilih untuk fokus menyelesaikan studi S3 di Jurursan Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Indonesia. Pada tahun 2017, Nane lolos 18 besar Calon Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) periode 2017-2022. Baru pada tahun ini ia memutuskan untuk kembali terjun ke dunia politik praktis dengan pindah ke partai Golkar dan menjadi Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil Jabar 8 Kota Depok dan Kota Bekasi.

Editor: Tokohkita

TERKAIT