Aditya Lesmana

Peran Teknologi dalam Menunjang Industri Otomotif Indonesia

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Senin, 6 Januari 2020 - 21:25 WIB

Aditya Lesmana/Istimewa
Aditya Lesmana
Foto: Istimewa

Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara. Lebih dari separuh dari total 270 juta populasi Indonesia telah terhubung ke internet dan banyak di antara mereka merupakan generasi muda yang hanya dalam beberapa tahun lagi akan bersiap-siap membeli mobil pertama mereka.

Teknologi erat kaitannya dengan perkembangan industri otomotif. Pada 1913, Henry Ford merevolusi industri otomotif hingga menjadi industri otomotif yang kita kenal hari ini dengan memperkenalkan jalur perakitan bergerak (moving assembly line) pertama yang dapat memproduksi mobil secara massal. Jalur perakitan bergerak dari Ford berhasil mentransformasi pasar dan memberikan keuntungan bagi masyarakat, seiring dengan kemampuannya dalam mengurangi jumlah waktu yang dibutuhkan untuk merakit mobil, biaya produksi, serta membuat hasil akhir perakitan dapat diakses publik dengan mudah. 

Kita juga telah melihat bagaimana model jalur perakitan milik Ford tersebut ditingkatkan kemampuannya oleh industri manufaktur di Jepang dan Korea untuk membantu lebih banyak orang di dunia untuk mendapat akses terhadap mobil. Saat ini, sayangnya, diskusi seputar inovasi di bidang otomotif cenderung berkutat dengan penggabungan konsep-konsep tingkat lanjut seperti kendaraan otonom (autonomous vehicle), integrasi dengan perangkat digital melalui Internet of Things (IoT), serta bagaimana mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil dan beralih ke bahan bakar ramah lingkungan. 

Barisan topik diskusi tersebut akan menjadi semakin panjang seiring dengan masuknya kita ke dalam era berkembangnya inovasi di bidang otomotif. Namun, kita juga perlu bertanya: sampai ke titik manakah bentuk-bentuk baru inovasi akan mampu membawa keuntungan yang nyata bagi orang kebanyakan?

Saat ini, kita memerlukan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi di industri otomotif secara keseluruhan. Negara-negara yang masih sangat bergantung dengan penggunaan mobil pribadi, seperti Indonesia, memang masih membutuhkan jumlah produksi mobil yang tinggi untuk mendorong perekonomian. Namun demikian, dengan rata-rata usia pemakaian mobil yang singkat, hal ini justru mendorong peningkatan angka pertumbuhan mobil bekas di dalam negeri.

Menariknya, terlepas dari meningkatnya kemampuan untuk membeli, orang Indonesia cenderung memilih mobil bekas daripada mobil baru. Namun, ini bukan berarti orang Indonesia cenderung memilih kendaraan dengan kualitas rendah, tetapi lebih dikarenakan banyaknya mobil bekas di Indonesia yang belum terlalu lama usia pemakaiannya, antara tiga hingga tujuh tahun. 

Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah, selama satu dekade terakhir, sektor perbankan Indonesia telah menjadi semakin matang yang mendorong maraknya kemunculan opsi pendanaan yang lebih fleksibel, khususnya untuk kredit kendaraan. 

Walaupun sektor otomotif untuk mobil bekas tengah mengalami kebangkitan, terdapat beberapa hal yang tetap harus diperhatikan, antara lain apakah penjual mobil bekas tersebut dapat dipercaya dan bagaimana kondisi mobil bekas yang dijual kepada dealer itu sendiri.

Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara. Lebih dari separuh dari total 270 juta populasi Indonesia telah terhubung ke internet dan banyak di antara mereka merupakan generasi muda yang hanya dalam beberapa tahun lagi akan bersiap-siap membeli mobil pertama mereka. Generasi muda yang tumbuh bersama internet tersebut cenderung tidak akan mengunjungi dealer tanpa mengumpulkan informasi secara online sebelumnya. Pergeseran perilaku tersebut memperlihatkan kesempatan bagi pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Selama satu dekade terakhir, kita sudah melihat berbagai car listing mengalami proses digitalisasi dan bergeser dari penggunaan media cetak ke media digital. Namun demikian, car listing hanya dapat menyediakan informasi yang terbatas. Mobil yang dijual mungkin sekilas terlihat bagus, namun kebanyakan masalah baru muncul ketika konsumen telah melakukan pembelian dan mengendarai mobil tersebut di jalanan.

Bagi dealer mobil yang ingin meningkatkan daftar inventaris mereka, proses untuk memastikan bahwa sebuah mobil memiliki kondisi yang cukup layak untuk dijual kembali boleh jadi agak rumit. Akibatnya, masalah sering muncul di kemudian hari dan dealer terpaksa harus melepaskan mobil-mobil bermasalah tersebut agar tetap dapat menjalankan bisnisnya.

Di sisi lain, penjual dari pihak perorangan cenderung memilih untuk menitipkan mobilnya ke dealer untuk dijual kembali dengan alasan kemudahan transaksi. Namun demikian, adanya komisi dan biaya perantara cenderung mengurangi harga jual mobil tersebut.

Situasi yang demikian memunculkan ide untuk menciptakan online car listing dan mengubahnya ke dalam marketplace untuk produk otomotif. Melalui aplikasi seluler, marketplace otomotif memanfaatkan banyaknya pengguna ponsel pintar dalam membantu mendorong penjualan kendaraan hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Hal ini memungkinkan penjual untuk mendaftarkan kendaraannya ke dalam marketplace dan mendorong iklan mereka untuk tersebar dalam waktu singkat. Oleh karena itu, marketplace otomotif yang ada saat ini telah mampu membuat proses penjualan menjadi lebih cepat dan transparan.

Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi anak muda yang semakin melek teknologi, marketplace otomotif dapat menciptakan dampak yang signifikan pada sektor otomotif di Indonesia. Teknologi seluler sangat berguna khususnya bagi negara kepulauan seperti Indonesia, di mana penduduknya sering terpisah akibat batas-batas secara fisik. Internet seluler telah menjadi suatu anugrah bagi banyak perusahaan dalam menjangkau basis konsumen yang lebih luas di berbagai lokasi, khususnya seperti e-commerce yang merupakan sektor yang tumbuh dengan pesat di Indonesia. Sekarang sudah saatnya bagi kita untuk membawa semangat yang sama untuk mengembangkan industri otomotif di Indonesia.

*Penulis adalah Co-Founder Carro

Editor: Tokohkita

TERKAIT