Muhammad E Fuady

Solksjaer dan Self Fulfilling Prophecy

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Jumat, 15 Maret 2019 - 21:35 WIB

Muhammad E Fuady/Dokumen pribadi
Muhammad E Fuady
Foto: Dokumen pribadi

Kemenangan MU ini membangkitkan romantisme penggila bola pada momen final Champion dua puluh tahun lalu. Pada 1999, Ole Gunnar Solksjaer, sebagai pemain pengganti di klub Setan Merah berhasil membobol gawang Bayen Munich jelang wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Kemenangan 2-1 membuat Trofi Liga Champion menjadi milik MU. Pada laga melawan PSG, gol kemenangan juga tercipta di injury time. Misi yang mustahil berhasil MU selesaikan dengan baik.

Minggu lalu penonton laga Paris St. Germain (PSG) versus Manchester United (MU) terhenyak. Penggemar Setan Merah bersorak saat Marcus Rashford berhasil membobol gawang lawan dari titik penalti di menit terakhir. Bagi kubu tuan rumah, ini pukulan telak. Mereka terpana, tak percaya kemenangan di leg pertama 2-0 seolah sirna. Di leg kedua, PSG kalah 1-3 dari MU. Klub asal Inggris itu lolos dengan keunggulan gol tandang.

Serangan demi serangan gencar PSG ke gawang MU ternyata tak membuat Dewi Fortuna berpihak pada mereka. Berbagai peluang hanya menghasilkan sebuah gol. Harapan lolos ke babak delapan besar punah. Kylian Mbappe dkk belum berhasil menghapus kutukan melewati rintangan di babak 16 besar Liga Champion.

Kemenangan MU ini membangkitkan romantisme penggila bola pada momen final Champion dua puluh tahun lalu. Pada 1999, Ole Gunnar Solksjaer, sebagai pemain pengganti di klub Setan Merah berhasil membobol gawang Bayen Munich jelang wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Kemenangan 2-1 membuat Trofi Liga Champion menjadi milik MU. Pada laga melawan PSG, gol kemenangan juga tercipta di injury time. Misi yang mustahil berhasil MU selesaikan dengan baik.

Kekhawatiran PSG akan kalah oleh MU telah diungkapkan oleh Thomas Tuchel, sang manajer. Kepada Daily Mail, Tuchel membahas momen ajaib yang pernah dihadirkan Solskjaer saat MU menaklukkan Bayern Munich. Tuchel khawatir semangat kebangkitan itu ditularkan Solskjaer kepada para pemain MU. Tampaknya Tuchel masih "trauma" PSG mengalami nasib sial seperti musim lalu. Surplus 4 gol tak menjadi jaminan aman di leg kedua melawan Barcelona. Mereka dihancurkan klub Catalan 6-1.

Sebenarnya kekalahan dan kemenangan sebagai sebuah kenyataan dapat diwujudkan melalui pikiran. William Isaac Thomas, seorang sosiolog menyatakan bila individu menganggap situasi yang ia hadapi sebagai hal yang riil, maka konsekuensinya akan menjadi riil pula.

Robert K. Merton menyebut kondisi itu sebagai Self fulfilling prophecy (nubuat yang dipenuhi oleh diri sendiri). Pikiran negatif dan positif mengenai suatu kondisi dapat mempengaruhi perilaku hingga kenyataan terwujud seperti yang ia ramalkan. Kenyataan tercipta berdasarkan pikiran kita tentang kenyataan itu sendiri, dan tanpa sadar kita memenuhinya.

Mengutip Muhammad Iqbal, manusia adalah co-creator, “kawan” Tuhan Sang Pencipta. Manusia turut andil dalam menciptakan kenyataan-kenyataan melalui pikirannya.Kenyataan yang dikehendaki bisa diwujudkan melalui pikiran-pikiran positif atau negatif.

Jika seseorang berpikir buruk tentang dirinya,  bahwa ia gagal, maka ia akan benar-benar menjadi orang gagal. Jika ia berpikir mampu mengatasi persoalan, maka persoalan apa pun dapat dihadapinya. Jika ia berpikir bahwa sebuah laga yang dihadapinya sangat sulit dan berat, jangan heran bila kekalahan akan tiba. Jika ia berpikir bisa menghadapi permasalahan itu dan menyelesaikannya dengan baik, maka itu yang akan terjadi. “You don’t think what you are, you are what you think", begitu kata orang bijak.

Kekhawatiran akan kekalahan, ketakutan akan kegagalan, kepercayaan akan mitos bahwa klub sebesar PSG memiliki kutukan tak mungkin lolos babak 16 besar, penilaian klub lawan memiliki momen ajaib yang dapat terulang, bayangan kekalahan leg kedua seperti di musim lalu membuat kenyataan terwujud seperti yang dipikirkan Tuchel.

Sebaliknya bagi Solksjaer, momen kebangkitan di final Liga Champion 20 tahun lalu telah menjadi pelecut bagi anak-anak asuhannya. Optimisme menghadapi pertandingan, mental kuat mengalahkan lawan, semangat membalikkan keadaan, keyakinan meraih kemenangan, membuat mereka berhasil menciptakan kenyataan seperti yang mereka pikirkan.

Pemain legenda selalu memiliki kisah "magis". Publik pasti setuju, Solksjaer memiliki "tuah" yang membuat trend klub sebesar MU selalu menanjak. Keajaiban terjadi sejak ia menjadi caretaker pasca pemberhentian Jose Mourinho sebagai manajer. 

Kemenangan demi kemenangan telah mereka raih. Si "bayi ajaib", "baby face assassin", dan "super-sub" di bawah asuhan Sir Alex Ferguson, kini menjadi manajer yang mampu menularkan aura positif pada klub yang kini ditanganinya.

Sejauh ini Solksjaer telah memenuhi harapan pecinta MU. Sepak bola indah dan menyerang mulai ditampilkan. Setan merah kembali superior. Banyak gol yang telah dihasilkan.  Hubungan hangat manajer dan pemain terekam dalam dokumentasi berbagai media. Lukaku, Rashford, dan Pogba kembali tajam. Solksjaer berhasil membangkitkan potensi anak asuhnya.

Publik juga selalu menyukai sosok yang humble dalam dunia sepakbola. Solksjaer memiliki karakter itu. Alih-alih taktiknya yang jitu, ia memuji para pemainnya. "Sepakbola itu mudah jika Anda memiliki pemain-pemain bagus! Mereka adalah sekelompok pemain hebat dan kualitas mereka sulit untuk dipercaya,” tegasnya.

Para pecinta MU berharap Solkjaer sama suksesnya dengan Zinedine Zidane di Real Madrid. Suksesor yang menjadi "The Real Special One" dan "messiah" seperti Sir Alex Ferguson. Sentuhan seorang "Raja Midas" akan membuat MU kembali meraih berbagai gelar. Pecinta Red Devils menunggu momen itu tiba.

Dalam sepakbola, tak selamanya tim akan meraih kemenangan. Sesekali kalah diperlukan agar klub kembali menapaki bumi. Dibutuhkan seorang manajer yang tepat seperti Solksjaer untuk menukangi klub besar seperti MU. Seorang manajer baru memang selalu membawa harapan baru.

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba)

Editor: Admin

TERKAIT