Angela Oetama

Gradana Menangi Ajang Kompetisi AETP dari Pemerintah Switzerland

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. STARTUP /
  4. Rabu, 23 Oktober 2019 - 23:28 WIB

Angela Oetama/Istimewa
Angela Oetama
Foto: Istimewa

Ajang ini merupakan validasi atas kehadiran Gradana sebagai platform yang menjembatani masalah kebutuhan pembiayaan properti yang selama ini sering dihadapi oleh masyarakat Indonesia bagi para peminjam dan sebagai alternatif investasi properti bagi para pendana

TOKOHKITA. Perusahaan peer to peer lending khusus properti, Gradana, menjadi satu-satunya perwakilan startup bidang tekfin yang memenangi ajang The Asia Entrepreneurship Training Program (AETP) yang diadakan baru-baru ini oleh pemerintah Switzerland. Dari 250 startup yang berpartisipasi, terpilih 20 finalis yang berhak mengikuti babak berikutnya. Finalis tersebut diseleksi lagi sehingga ditetapkan empat pemenang yang akan diberangkatkan ke Swiss di bulan Desember untuk bertemu  calon investor ataupun mitra dalam program business matching.
 
Menurut co-founder Gradana, Angela Oetama, ajang ini merupakan validasi atas kehadiran Gradana sebagai platform yang menjembatani masalah kebutuhan pembiayaan properti yang selama ini sering dihadapi oleh masyarakat Indonesia bagi para peminjam dan sebagai alternatif investasi properti bagi para pendana. Awalnya, Gradana hanya melayani pembiayaan pembelian rumah. Berdasarkan kebutuhan yang ada dan permintaan para konsumen, Gradana kemudian merambah ke pembiayaan sewa dengan GraSewa dan renovasi dengan GraRenov hingga yang terbaru melalui GraStrata untuk kebutuhan pembiayaan pembelian rumah secondary.

"Diversifikasi ini sebenarnya adalah respon kami terhadap berbagai kebutuhan pasar yang bermacam-macam terkait properti itu sendiri, dimana biaya sewa dan renovasi pun cukup tinggi dari segi nominal dan kebutuhannya  dan permintaan an property secondary yang sudah siap untuk langsung digunakan dan dihuni serta secara harga biasanya lebih murah dari yang baru atau primary,” katanya dalam keterangan resminya, Rabu (23/10).

Adapun The Asia Entrepreneurship Training Program (AETP) hadir di Indonesia sebagai sebuah program yang diinisiasikan oleh Zürcher Hochschule für Angewandte Wissenschaften (ZHAW – Zurich University of Applied Sciences) dan Eidgenössische Technische Hochschule Zürich (ETH Zurich–Swiss Federal Institute of Technology in Zurich. Tujuan diselenggarakannya acara ini untuk mendapatkan startup-startup potensial dari kedua negara untuk dipertemukan dengan para venture capital dan stakeholders.

“Menjadi pemenang dari ajang seperti ini tentu patut kami syukuri. Sebagai sebuah startup, kami masih ingin terus bertumbuh dan berkembang baik dari sisi pasar maupun dari sisi teknologi.  Dengan dipertemukannya nanti di Swiss bersama calon-calon investor, kami berharap  Gradana mendapatkan “cheaper cost of fund” untuk bisa melayani konsumen Indonesia dengan lebih luas lagi dan dengan rate yang semakin terjangkau," harap Angela.

Dia mengungkapkan, bahwa potensi pasar di Indonesia masih sangat luas dan terbuka. Baru-baru ini, Gradana menjalin kerjasama dengan salah satu agen properti di kota Samarinda, Kalimantan. Menurutnya, rencana pemerintah untuk memindahkan ibukota ke daerah Kalimantan berdampak positif terhadap pertumbuhan industri properti di sana. Sebagai kota terbesar di pulau Kalimantan ditambah dengan rencana perpindahan ini, Samarinda memiliki potensi pasar properti yang cukup prospektif.

Samarinda memiliki jumlah penduduk di atas 800.00 jiwa, cukup padat dibandingkan kota-kota lain di Kalimantan yang penduduknya masih rendah. Selain itu, penggerak utama ekonomi di kota ini adalah perdagangan dan sumber daya alam. Pemindahan ibukota jelas akan berpengaruh terhadap ekonomi Samarinda. "Properti sebagai industri yang selama ini belum begitu signifikan pertumbuhannya, akan menjadi penggerak ekonomi selain sektor-sektor lainnya. Inilah yang mendasari kami untuk masuk ke pasar Samarinda,” jelasnya.

Tidak hanya pembelian properti, tambah Angela, Gradana pun memberikan solusi kepada warga Samarinda yang ingin menyewa rumah di kota tersebut. Menurutnya, tidak semua orang memiliki kemampuan atau keinginan membeli rumah permanen karena alasan-alasan khusus. “Misalnya, ada orang yang memang berencana tidak untuk menetap selamanya di Samarinda. Mungkin karena faktor pekerjaan yang membuat mereka harus berdomisili di sana. Maka fasilitas layanan kami seperti GraSewa bisa menjadi solusi. Apalagi tidak semua perusahaan menyiapkan tempat tinggal buat karyawan-karyawannya,” ujar dia.

Luthfi Juharta, Associate di Coporate Venture Capital UMG Idealab dan Project Coordinator wilayah Jakarta dan Yogyakarta untuk Asia Entreprenuership Training Program mengamini apa yang dikatakan oleh Angela. Menurutnya, Gradana menunjukkan kinerja yang konsisten dalam pertumbuhan bahkan sejak pertama kali ikut pitching competition AETP di Jogjakarta. “Jumlah lender dan borrower Gradana berkembang cukup pesat dan juga berhasil mendapatkan pendanaan. Saya sangat antusias melihat Gradana telah bisa berkolaborasi dengan startup lain dari AETP seperti Khaira Enery,” ungkapnya.

Luthfi menambahkan, keempat startup yang akan berangkat ke Switzerland ini diharapkan dapat bekerjasama dengan para pemangku kepentingan di sana baik untuk investasi, penetrasi maupun kolaborasi untuk mengembangkan produk. “Dalam kasus Gradana sendiri, kami dari panitia berharap dapat mendapatkan lenders dari Switzerland Institutions dengan bunga yang lebih rendah sehingga dapat memberikan bunga yang lebih atraktif untuk para borrower yang ingin membeli property di Indonesia,” tukas Luthfi.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER