Bung Hatta

Sang Konseptor, "The Man Behind The Gun"

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Gaya Hidup /
  4. Jumat, 15 Maret 2019 - 21:31 WIB

Bung Hatta/Istimewa
Bung Hatta
Foto: Istimewa

Banyak yang sudah tahu kisah Bung Hatta yang uang tabungannya tidak cukup untuk membeli sepasang sepatu merek Bally. Ia sangat keras memerangi korupsi sekecil apapun. Setelah beliau wafat muncul Bung Hatta Anti Corruption awards, sebuah penghargaan untuk insan Indonesia yang anti korupsi.

TOKOHKITA. Semua pasti tau Bung Karno dan Bung Hatta adalah proklamator kemerdekaan Indonesia. Tapi tahukah kamu bahwa mereka membagi tugas dengan sangat baik. Bung Karno sang orator ulung yang sekali bicara bisa menggerakkan jutaan massa, Bung Hatta sang pemikir yang dalam kesunyiannya menelurkan banyak konsepsi kebangsaan. Buktinya? Bung Karno mempercayakan Bung Hatta untuk membuat konsep tulisan proklamasi di atas.

Banyak yang sudah tahu kisah Bung Hatta yang uang tabungannya tidak cukup untuk membeli sepasang sepatu merek Bally. Ia sangat keras memerangi korupsi sekecil apapun. Setelah beliau wafat muncul Bung Hatta Anti Corruption awards, sebuah penghargaan untuk insan Indonesia yang anti korupsi.

Cerita lainnya adalah pada tahun 1952 Hatta melakukan ibadah haji dengan uang sendiri, menabung dari honor buku. Ia menolak tawaran pesawat dari Soekarno karena dirinya ingin berhaji sebagai orang biasa, bukan sebagai wapres. Dua tahun sebelumnya 1950, Hatta juga memilih menyewa mobil ketimbang memenuhi usul saudaranya untuk memanfaatkan mobil dinas menjemput ibundanya dari Sumedang ke Jakarta.

Bagimana dengan integritas terhadap keluarga? Salah satu kisah yang paling fenomenal adalah saat Bung Hatta merahasiakan informasi sanering (pemotongan nilai uang) kepada istrinya Rahmi Hatta. Alhasil, saat esok hari Negara mengumumkan Rp.10.000 nilainya hanya menjadi Rp.100, istri Bung Hatta langsung tidak mampu membeli mesin jahit yang selama ini ia telah tabung uangnya. Bung Hatta ingin berlaku adil kepada siapapun dan tidak memberikan keistimewaan bahkan kepada keluarga sendiri.

Hatta memiliki sumpah untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Sejalan kata dan perbuatan, Hatta menikah pada tanggal 18 November 1945, tiga bulan setelah Indonesia merdeka. Sang istri Rahmi Hatta (yang diperkenalkan oleh Soekarno) saat itu masih berusia 19 tahun, terpaut 24 tahun dengan Bung Hatta yang sudah berusia 43. Bung Hatta memberikan maskawin berupa sebuah buku karangannya sendiri berjudul Alam Pikir Yunani.

Saat pulang dari studi di Rotterdam Belanda, Hatta membawa 16 peti besi berisi buku. Ia begitu mencintai buku sampai muncul quote beliau yang terkenal: "Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku-buku". Selain kutu buku, beliau juga dikenal serius, kaku dan disiplin. Tak banyak canda, tepat waktu, sampai ke jadwal hariannya dikenal sangat disiplin. Ibu Meutia Hatta bercerita bahwa Bung Hatta kalau keluar ruang tidur tidak pernah memakai baju tidur, beliau pasti sudah berganti pakaian.

Mereka berdua jelas bersahabat baik, istri bung Hatta pun dicarikan Bung Karno. Tapi dalam persoalan kenegaraan, jalan mereka berdua akhirnya bersimpang. Bung Hatta memutuskan untuk mundur menjadi wakil presiden saat Bung Karno mendaulat diri sebagi pemimpin besar revolusi dalam konsepsi demokrasi terpimpin. Bung Hatta tegas mengkritisi sahabatnya, dan saat kata tak lagi didengar, beliau memutuskan mundur. Namun secara pribadi mereka berdua tetap hangat, salah satu kisah yang sangat mengharukan adalah saat Bung Hatta menjenguk Bung Karno yang akan menghembuskan nafas terakhir.

"Hujan air mata dari pelosok negri, saat melepas engkau pergi. . ." Itulah secuplik lirik lagu buatan Iwan Fals saat Bung Hatta meningal di tahun 1980. Kita kehilangan proklamator tercinta, yang jujur, lugu dan bijaksana.

Editor: Tokohkita