Wenri Wanhar

Catatan Perjalanan Penulis Buku Bergenre Reportase Sejarah

  1. Beranda /
  2. Kiprah /
  3. Rabu, 6 Maret 2019 - 00:41 WIB

Wenri Wanhar/Dokumen pribadi
Wenri Wanhar
Foto: Dokumen pribadi

Dalam terminologi jurnalistik, yang dilakukan Wenri itu mungkin bisa disebut sebagai ”jurnalisme partisipatif”. Seperti jurnalisme partisipatif yang bisa melahirkan tulisan-tulisan yang hidup, ”penelusuran partisipatif” ala Wenri juga bisa menghasilkan temuan-temuan segar dan mengejutkan.

TOKOHKITA. Wenry Wanhar bisa dibilang sejarawan yang unik, langka. Buku-buku karyanya ditulis dengan berupaya merasakan langsung denyut peristiwa bersejarah. Untuk menulis kekalahan Belanda di Selat Bali, dia rela berperahu tradisional kala subuh.  

Subuh itu, di tengah Selat Bali, Wenri Wanhar akhirnya paham mengapa Belanda bisa kalah berperang di sana. Kuncinya ada pada ombak di perairan tersebut, yang ternyata memang tinggi di pagi buta seperti itu. ”Pasukan M menang atas Belanda karena mengandalkan pemahaman terhadap kejadian di laut,” tutur Wenri tentang pertempuran pada awal April 1946 yang tak diketahui banyak orang itu.

Pasukan M merupakan sebuah pasukan dari Tentara Keamanan Rakyat Divisi Laut (TKR Laut) yang menggunakan perahu Madura. Sedangkan yang mereka hadapi 69 tahun silam sudah menaiki kapal modern jenis landing craft mechanized.

Dia menjelaskan, ombak tinggi kala subuh di Selat Bali menyulitkan kapal Belanda untuk menembak. ”Di sisi lain, perahu pasukan M yang dikira nelayan setempat bisa bebas mendekat dan kemudian melemparkan granat ke kapal Belanda,” paparnya.

Agar bisa mendapatkan gambaran denyut pertempuran 69 tahun silam itu, sejarawan alumnus Universitas Bung Karno tersebut juga berperahu tradisional Madura dalam survei empat tahun silam itu. Jadi, juga merasakan terombang-ambing dihajar ombak.

Dari sanalah, kemudian dia menghasilkan Pasukan M (2012), satu di antara empat buku karya sejarawan kelahiran Padang, Sumatera Barat, itu. Tiga buku lain, Gedoran Depok, Jejak Intel Jepang, dan Semangat Sirnagalih, juga ditulis dengan metode khas Wenri. Khas yang dimaksud di sini, tiap kali hendak menulis karya, dia tak cuma berkutat berjam-jam di perpustakaan arsip nasional. Tapi juga berupaya melebur ke dalam nuansa peristiwa sejarah.

Caranya bukan hanya mengunjungi setiap tempat terjadinya peristiwa sejarah yang sudah jamak dilakukan sejarawan lain. Tapi sekaligus merasakan sendiri peristiwa yang akan ditulis. Secara umum, historiografi atau ilmu penulisan sejarah sebenarnya bisa dilakukan lewat riset pustaka dan oral alias wawancara saksi mata atau sumber yang terkait dengan sebuah peristiwa sejarah.  

Dalam terminologi jurnalistik, yang dilakukan Wenri itu mungkin bisa disebut sebagai ”jurnalisme partisipatif”. Seperti jurnalisme partisipatif yang bisa melahirkan tulisan-tulisan yang hidup, ”penelusuran partisipatif” ala Wenri juga bisa menghasilkan temuan-temuan segar dan mengejutkan.

Bagi pengasuh rubrik Historiana di situs JPNN.com itu, di hadapan penulisan sejarah negeri ini yang masih dipenuhi banyak ruang gelap, kegigihan dalam pengungkapan fakta seperti itu sangat penting. Itu dilakukan agar semua sisi yang selama ini tenggelam dan tidak diingat bisa muncul lagi ke permukaan.

Yang memasok granat itu ternyata seorang intel asal Jepang yang bernama Arif Tomegoro Yoshizumi. ”Dia ini kepala intel Jepang dan tangan kanan Laksamana Maeda. Tomegoro ini pula yang mengatur acara penyusunan teks proklamasi,” ujarnya.

Meski Tomegoro memiliki peran begitu besar, ternyata tak mudah mendapatkan informasi soal dia. Mungkin karena posisinya sebagai intel yang memang mengharuskannya selalu bergerak di balik layar.

”Saya coba hubungi beberapa kawan yang tinggal di Australia, siapa tahu ada informasi di perpustakaan nasional di sana. Sebab, Arif Tomegoro pernah tertangkap pasukan sekutu di Palembang dan dikirim ke kamp tahanan di Australia,” terangnya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Wenri mendapatkan beberapa lembar informasi soal intel asal Jepang tersebut. Dari informasi itu juga, dia mengetahui bahwa ada sebuah monumen di sekitar Tokyo Tower, Jepang, yang memuat puisi dari Soekarno, presiden pertama RI. ”Dalam puisi itu, Soekarno ternyata menyebut nama Tomegoro,” tuturnya.

Kegigihan Wenri dalam upaya turut merasakan langsung denyut peristiwa sejarah juga dibuktikan dalam penelusurannya ke sebuah rumah di Jalan Cikini, Jakarta. Rumah milik pahlawan nasional Achmad Soebardjo itu pernah didatangi Tomegoro.

Peneliti sejarah lain mungkin sudah akan puas jika sudah bisa menemukan atau sekadar berkunjung ke rumah tersebut. Tapi, tidak demikian Wenri. Dia ingin masuk, berbincang dengan sang pemilik, dan ”menggeledah” isi rumah.

Sebab, dia tahu bahwa kandungan sejarah di rumah itu sangat tinggi. ”Di rumah di Jalan Cikini itu, Tomegoro pernah bertemu dengan Tan Malaka. Di rumah itu pula, Soekarno juga bertemu dengan Tan,” tuturnya.

Untuk mewujudkan keinginan itu, Wenri pun mulai mencari cara. Kebetulan, di seberang rumah tersebut ada sebuah restoran masakan Sunda. Akhirnya, selama seminggu dia ”memata-matai” rumah itu dengan menjadi pengunjung restoran. ”Kapan pemilik datang dan bagaimana aktivitasnya harus diketahui,” paparnya.

Setelah merasa bahwa informasinya cukup, Wenri memutuskan untuk ”nyanggong” di depan rumah itu pada suatu sore. Tak lama kemudian, pemilik rumah itu pulang. ”Saat itu saya langsung menyapa dan obrolan tentu saja soal Achmad Soebardjo. Ternyata pemilik rumah itu sekarang anaknya Soebardjo, Rohadi Soebardjo,” ujarnya.

Berbagai cerita soal Soebardjo akhirnya menghangatkan hubungan keduanya, Wenri dan Rohadi. Kepada Rohadi, Wenri menuturkan bahwa ada sebuah paviliun di rumah tersebut yang sebenarnya sangat bersejarah. Paviliun yang selama seminggu dihuni salah satu pelaku kemerdekaan yang paling misterius, Tan Malaka. ”Namun, pembicaraan itu belum membuat Rohadi mengajak saya melihat paviliun tersebut,” ujarnya.

Karena itulah, Wenri mendatangi rumah Rohadi saat pemiliknya pergi. Penjaga keamanan yang mengetahui bahwa Wenri teman si pemilik mengizinkannya masuk. ”Saat itulah saya kemudian bisa masuk paviliun itu. Paviliun bersejarah itu ternyata gelap, bahkan tidak ada aliran listrik,” paparnya.

Namun, dengan berhasil masuk ke paviliun tersebut, setidaknya dia bisa menceritakan bagaimana detail bangunan untuk bahan buku Jejak Intel Jepang. ”Arsitektur bangunan hingga kondisinya sangat berarti untuk diketahui,” ujarnya.

Untuk menjaga hubungan baiknya dengan Rohadi, Wenri akhirnya tetap menceritakan bahwa dirinya telah masuk ke paviliun tanpa izin. Di luar dugaannya, bukan marah, Rohadi malah menawarinya untuk mengadakan berbagai acara di rumah tersebut. Khususnya di paviliun itu.

Wenri menduga, Rohadi kangen dengan suasana awal kemerdekaan. Yakni, ketika rumah itu menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh bangsa untuk berdiskusi.

Kelebihan Wenri, dia bisa menulis dan bertutur lisan dengan sama memikatnya. Lewat tangannya, sejarah menjadi terasa segar. Lewat tuturannya, sejarah bisa dipahami sembari berkali-kali terpingkal.

Misalnya ketika menuturkan penciptaan lagu Bersuka Ria oleh Soekarno dengan bantuan Ismail Marzuki. Atau bagaimana ketika Bung Karno menagih janji Bung Hatta untuk menikah setelah Indonesia merdeka. Hatta saat itu berumur 44 tahun. Meski untuk urusan asmara tak seflamboyan Soekarno atau Sjahrir,  Hatta ternyata sudah punya nama pilihan.

”Yang dipilih itu Rahmi Rachim, yang saat itu berumur 19 tahun. Pilihan Hatta itu membuat Soekarno terheran-heran. Namun, mau tidak mau, Soekarno akhirnya melamarkan Rahmi untuk Hatta,” ujarnya. Wenri berharap, banyak sisi gelap sejarah Indonesia yang bisa terus dibuka. Sejarah Indonesia harus ditulis dengan jujur. ”Sebab, kalau orang bilang, sejarah itu bukti tingginya peradaban bangsa,” ujarnya.

Sumber: JPNN

Editor: Tokohkita

TERKAIT