Wenri Wanhar

Lelaki di Tengah Hujan: Bujang Parewa, Inspirator Gerakan Bawah Tanah Menuju Reformasi 98

  1. Beranda /
  2. Feature /
  3. Rabu, 6 Maret 2019 - 00:00 WIB

Wenri Wanhar-Capung (kanan)/Tokohkita
Wenri Wanhar-Capung (kanan)
Foto: Tokohkita

Bujang Parewa bersama kawan-kawannya adalah selapis kecil para “pemberontak,” yang menyiapkan bara untuk Reformasi 1998. Dimulai dari pemberedelan pers kampus, gerakan bawah tanah, peristiwa Sabtu Kelabu, dan Bom Tanah Tinggi.

TOKOHKITA. Reformasi 98 sungguh bukan hadiah yang jatuh dari langit. Bukan semata faktor krisis ekonomi regional dan jenuhnya rakyat atas rezim yang terlalu lama berkuasa, Orde Baru dibawah kendali Soeharto. Tidak juga karena kerja satu dua orang yang tiba-tiba mendapat sebutan “Tokoh Reformasi”.

Namun jauh sebelum itu, ada gerakan senyap yang dimulai awal tahun 90-an. Selapis kecil para “pemberontak” menyiapkan bara bagi terbakarnya api reformasi 98. Bukan hanya di Jawa sebagai lokus utama, tapi menyiapkan jejaring sekam di titik dan organ penting republik.  Represi dan pemberangusan adalah risiko gerakan yang setiap saat ditelan.

Banyak novel berlatar gerakan mahasiswa. Tapi, yang ini lain, Lelaki di Tengah Hujan, diangkat dari kisah nyata di balik tragedi '98. Sebuah novel sejarah karya Wenri Wanhar. Novel sejarah ini ini berkisah tentang mereka yang bergerak dalam senyap itu. Para aktivis mahasiswa yang tidak tercatat dalam narasi besar sejarah 98.

Mereka yang terus hening hingga hari ini dan tak hendak mengklaim dirinya sebagai yang paling berjasa. Karena demikianlah kehidupan, bagian terpenting sering kali bukan yang tersurat di permukaan, tapi yang tersirat di baliknya, bahkan juga yang tersuruk jauh di kedalamannya.

Adalah Bujang Parewa, seorang mahasiswa UNS yang kesadaran akan ketertindasannya mulai terbuka saat ia mengikuti kegiatan pers mahasiswa. Melalui berbagai gerakan mahasiswa yang ia pimpin, dan berbagai usaha untuk menghindari tentara rezim, Bujang Parewa dan ribuan mahasiswa lainnya berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Perjalanannya dari Solo ke Jakarta bukan hal yang mudah. Pendidikan, keluarga, sahabat, dan cinta adalah hal yang harus ia korbankan sebagai seorang aktivis sekaligus mahasiswa.

Insiden bom Tanah Tingi, membawa Bujang Parewa mendekam di balik jeruji tanahan karena dituding sebagai anggota PRD yang menjadi otak peledakan tersebut. Dari sinilah, aktor utama Bujang Parewa ini sebagai sosok pemimpin gerakan bawah tanah, yang tidak sudi rakyat ditinas oleh penguasa yang berwatak kapitalis. Pejuang demokrasi dan kerakyatan ini ingin memastikan tidak ada lagi pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dan golongan, sedangkan sumberdaya alam digadaikan, dikelola dan dikuasai negara asing.  

Di benak Bujang Parewa, Pancasila ada di setiap tarikan nafas Anak Bangsa. Baik yang ada di lorong-lorong kota maupun di lereng-lereng gunung desa-desa. Pancasila tegak setegak-tegaknya. Alhasil, hanya orang-orang beranilah yang dapat membuat sejarah. Bujang Parewa bersama kawan-kawannya adalah selapis kecil para “pemberontak,” yang menyiapkan bara untuk Reformasi 1998. Dimulai dari pemberedelan pers kampus, gerakan bawah tanah, peristiwa Sabtu Kelabu, dan Bom Tanah Tinggi.  

Sejatinya, Lalaki di Tengah Hujan, adalah buku pertama yang ditulis Wenri Wanhar. Buku ini ditulis sejak 1999, saat baru menjadi mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK). Masa itu, utuk bertahan hidup, di ibukota, dia menjadi pengamen dan tukang parkir di bioskop Megaria, kini Metrope, Cikini, Menteng.

Nah, jalanan membawa Wenri berkenalan, berkawan dan bersahabat dengan banyak kalangan. Dari pergaulan itulah, sayup sayup dia mendengar kisah-kisah senyap perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru. Agar tidak lupa, untuk menjaga ingatan, penggalan cerita-cerita itu dicatatnya di buku tulis.

Akhirnya pada 2006, atas restu si empunya kisah, sejarah gerakan mahasiswa berwajah kemerah-merahan ini dijadikan sekripsi, sebuah karya tulis ilmiah untuk meraih gelar sarjana di UBK. “Sebetulnya ini skripsi, tapi sayang kalau fakta sejarah ini hanya tersimpan begitu saja. Masyarakat harus tahu tentang kisah lain dibalik gerakan mahasiswa yang membidani lahirnya reformasi,” terang Wenri kepada Tokohkita, pekan lalu.

Tapi awalnya, cerita rahasia ini baru akan diungkap 30 tahun lagi, kata penulis buku Gedoran Depok, Jejak Intel Jepang, dan sepasang buku bertajuk Bangsa Pelaut, yang kesemuanya bergenre reportase sejarah. “Kisah ini sebenarnya rahasia,” ucap Capung, sapaan akrabnya yang sempat berkiprah sebagai jurnalis Monitor Depok (Monde) itu.

Kok, malah diterbitkan sekarang? “Kepikiran aja, ada momentum, saat ini mungkin waktunya lebih tepat, pas juga saat turun hujan,” sebutnya berkelakar. Yang terang, Capung bilang, beberapa tokoh yang terungkap dari novel yang merupakan gabungan catatan tangan, skripsi  serta sekumpulan kisah yang ditulis langsung para lakonnya, dulu, mereka itu ada dalam garis pergerakan yang sama. Sebut saja Budiman Sudjatmiko, Ranta Sarumpaet, atau Andi Arief. “Tapi sekarang mereka berseberangan,” kata pengelola rubrik sejarah di Jawa Pos Nasional Network (JPNN.com), kembali tertawa lebar.

Memang, peta politik pasca reformasi  membuat para mantan aktivis mahasiswa terpolarisasi dan satu sama lain berlabuh pada jalur perjuangan masing-masing. “Tapi mereka ini, kita lihat orang orang hebat lah,” aku Wenri. Kalau tak ada aral melintang, kisah Lelaki di Tengah Hujan bakal diangkat ke layar lebar alias difilmkan. Kita tunggu aja, ya!

Namun yang terkini, kabar mengejukan datang dari Andi Arief yang ditangkap ditangkap polisi terkait kasus narkoba di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Minggu (3/3/2019). Sejauh ini polisi menduga Andi Arief hanya pengguna narkoba. Saat penangkapan tak ditemukan barang bukti sabu, namun hasil tes urine membuktikan Andi positif menggunakan sabu. 

Kini, Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko pun angkat bicara tentang penangkapan Wasekjen Demokrat Andi Arief melalui akun twitter-nya @budimansudjatmiko, Senin (4/3/2019).  Budiman dan Andi Arief adalah mantan kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) pertengahan 1990-an. Keduanya juga menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Budiman mengaku sedih mendengar kabar penangkapan Andi. " Apa sih nikmatnya narkoba, ndi? Bukankah lebih nikmat berdiskusi ide-ide besar buah pikir orang-orang besar, dan kita sendiri," tulis Budiman. "Serta mewujudkannya dalam masyarakat? Kamu sudah memilih jalanmu dengan memilih jenis teman macam apa di sekitarmu. Sedih dan moga-moga tuduhan itu tidak benar," lanjut Budiman. "Kita berdebat di kost-kostan di Sendowo UGM, saat kita merencanakan banyak hal besar untuk Indonesia kan? Aku berusaha tetap di jalanku, tapi kamu memilih teman-teman yang tak pernah bertaruh nyawa bersamamu. Mereka datang saat nikmat," katanya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT