Muhammad E Fuady

Apa Yang Sebenarnya Kau Cari Andi Arief?

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Selasa, 5 Maret 2019 - 20:37 WIB

Muhammad E Fuady/Dokumen pribadi
Muhammad E Fuady
Foto: Dokumen pribadi

Kasus AA sebagai kader Partai Demokrat berbeda dengan kasus yang membelit partai lainnya. Bupati Kotawaringin Timur yang notabene kader PDIP terlibat korupsi Rp 5,8 triliun. Itu angka yang fantastis dan merugikan negara. Kasus e-KTP yang membelit Setya Novanto juga merugikan negara. Juga kasus anggota DPRD kader Nasdem yang bertindak sebagai bandar sabu sebanyak 105 kilogram dan 30 ribu pil ekstasi.

Bagi orang Sunda, AA adalah panggilan kesayangan atau penghormatan pada seorang laki-laki. Entah itu anak, kakak, adik, orang yang dihormati, suami, atau kekasih. Kita mengenal AA Boxer, AA Gym, dan AA lainnya. Beda dengan AA Tarmana, itu memang nama mantan walikota Bandung.

Dulu, pada 1955, Bung Karno, Jawaharlal Nehru, dkk melangsungkan sebuah Konferensi AA alias Asia Afrika. Memang, lebih dikenal dengan sebutan KAA. Perhelatan para pemimpin berbagai negara itu dilangsungkan di Gedung Merdeka, yang terletak di Jalan AA alias Asia Afrika. Jalan yang bersejarah. Sejak dibenahi Walikota Ridwan Kamil pada periode kepemimpinannya, jalan itu selalu ramai dengan pengunjung.

Di era 80 hingga 90-an, tak jauh dari Jalan Asia Afrika, tepatnya di Cibadak, ada sebuah toko grosir alat kantor. Namanya saya lupa. Semasa kanak-kanak, orangtua selalu mengajak ke sana membeli perlengkapan sekolah untuk dijual lagi di toko kami. Tak lupa puluhan pak buku tulis AA. Buku tulis AA ini terkenal dan laris sejak dulu hingga saat ini. Buku AA memang populer dan "menyejarah".

Kini, kita sedang heboh dengan AA lainnya, yakni Andi Arief. Seorang politisi yang kerap membuat cuitan dan menarik perhatian publik. Mulai mahar Rp 500 miliar, "jenderal kardus", tujuh kontainer dengan surat suara telah dicoblos, dan masih banyak lagi.

Tak kalah heboh, kemarin, AA tertangkap tangan. Beberapa media menyebutkan bahwa ia terlibat penggunaan narkoba, desas desus adanya perempuan yang bersamanya, alat kontrasepsi, dan bong. Ia diduga menggunakan metamphetamine alias sabu. Apa yang sesungguhnya terjadi, belum jelas memang. Pihak kepolisian juga membantah ada upaya penghilangan barang bukti dan lainnya. Publik hanya dapat mengetahuinya dari media massa dan media sosial.

Isu AA mengagetkan publik. Ia dinilai sebagai politisi yang cukup kritis kepada kawan dan lawan. Ia pernah menjelaskan secara detail kasus penculikan aktivis pada era Orde Baru. Bagi AA, Prabowo tak bersalah. Penculikan itu dipandang sistemik dilakukan TNI dan Kepolisian. Namun, ia juga pernah menyentil Prabowo sebagai "jenderal kardus" saat Partai Demokrat akan mengusungnya. AA menganggap Prabowo mengabaikan komitmen dengan Demokrat, meski kemudian semua mencair kembali.

Kasus AA sebagai kader Partai Demokrat berbeda dengan kasus yang membelit partai lainnya. Bupati Kotawaringin Timur yang notabene kader PDIP terlibat korupsi Rp 5,8 triliun. Itu angka yang fantastis dan merugikan negara. Kasus e-KTP yang membelit Setya Novanto juga merugikan negara. Juga kasus anggota DPRD kader Nasdem yang bertindak sebagai bandar sabu sebanyak 105 kilogram dan 30 ribu pil ekstasi.

Ia terancam dijatuhi hukuman mati. Semua partai sama-sama mengamini bahwa itu kasus personal, tak ada kaitan dengan partai. Pada akhirnya semua partai akan membuat pernyataan yang sama meski kasusnya berbeda. Mereka adalah oknum.

Apakah AA memang pengguna sabu atau bukan, kita hanya dapat mengetahui dari penjelasan pihak kepolisian. Hasil tes urine menunjukkan AA positif mengonsumsi metamphetamine. Satu hal yang pasti, kasus AA itu merugikan dirinya sebagai seorang politisi. Meski membelit AA sebagai pribadi, kasus itu amat menohok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Di saat Partai Demokrat berusaha meraih hati publik, setelah kasus korupsi beberapa kadernya di masa lalu. Kasus AA juga merusak konsentrasi kubu 02 yang sedang berusaha meningkatkan elektabilitasnya. Bagi kubu 01, isu ini berpotensi menahan laju lawan politik.

Sebagai politisi yang kritis, sosok AA menjadi ironi. Kasus AA ini merisaukan publik yang berharap lahir politisi-politisi bermoral, yang dapat menjaga diri dan konstituennya. Publik ingin politisi memiliki moral dan komitmen untuk Indonesia yang lebih baik. Itu semua diawali dari diri politisi itu sendiri.  Publik kemudian berhak bertanya kepada AA, "Apa yang sebenarnya kau cari AA?".

*Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba)

Editor: Tokohkita

TERKAIT