Wayan Supadno

Propaganda Kekuatan Latah

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Rabu, 13 Februari 2019 - 01:01 WIB

Wayan Supadno, Pengamat dan Praktisi Pertanian/Dokumen pribadi
Wayan Supadno, Pengamat dan Praktisi Pertanian
Foto: Dokumen pribadi

Jika kekuatan latah, kita berdayakan dengan baik untuk kebaikan niscaya jadi kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Karena bergelombang mampu menggerakkan masyarakat secara massal aktif berpartisipasi.

Sesungguhnya latah adalah sebuah sindroma, pikiran perkataan dan tindakan spontan mengikuti apa yang terjadi di sekitatnya, hampir tak tersadarkan oleh yang bersangkutan. Disadarinya jika sudah usai.

Masyarakat kita banyak yang tanpa sadar dan sadar kadang juga melakukan proses latah secara bersama-bersama, bisa berdampak negatif dan positif. Tergantung dari sudut pandangnya dan pemanfaatannya.

Misalnya saja, di dunia bisnis, beberapa tahun silam saat ramai dengan usaha wartel, bunga aglonema dan anturium (gelombang cinta), kini urban farming. Satu melakukan diikuti banyak orang bagai kegandrungan saja, harganya hingga melambung. Aakhirnya satu tutup usahanya maka lainnya ikutan tutup juga .

Jika kekuatan latah, kita berdayakan dengan baik untuk kebaikan niscaya jadi kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Karena bergelombang mampu menggerakkan masyarakat secara massal aktif berpartisipasi.

Selasa 12 Februari 2019, saya lagi memenuhi undangan salah satu "Kampus Tua Ternama" di Surabaya. Tugas saya mengajak berwirausaha kepada segenap mahasiswa dengan pola mengisahkan kiat-kiat di lapangan mengawali bisnis dari titik nol, ajakan dengan keteladan, melangkah nyata dengan bekal ilmu hikmah.

Target yang harus diemban secepat mungkin melahirkan Pengusaha Muda Inovatif secara massal, karena pendapat pimpinan kampus bahwa sesungguhnya masalah serius dan mendesak bangsa Indonesia adalah minimnya jumlah pengusaha muda kita. Total jumlah pengusaha kita saat ini hanya 3,1% (Data Kemen Kop & UKM) dari idealnya minimal 5?ri total penduduk kita.

Artinya, kekurangannya masih 2% lagi dari total penduduk kita, yaitu 5,3 juta orang lagi. Itu baru minimal. Jika tidak terpenuhi, sekalipun banyak investasi dan pertumbuhan ekonomi kita cukup tinggi, maka sama saja dengan kita mencetak angka gini rasio (kesenjangan sosial). Idealnya naiknya jumlah investasi dan naiknya pertumbuhan ekonomi seyogianya linier dengan penambahan jumlah pelaku usaha baru.

Kalau beberapa waktu lalu pihak kampus telah mengundang eksportir agar berbagi ke mahasiswa tentang banyaknya peluang pasar di luar negeri hal produk turunan hasil pertanian, kali ini saya mengajak pemilik pabriknya, Pabrik Nuansa Inovasi yaitu Mas Hadi dan petani juga sebagai contoh sumber bahan baku berlimpah siap diolah. Agar langsung "jeglak-jeglek beres" tanpa banyak wacana, tapi justru langsung pada jadi Pengusaha Muda Inovatif.

Dengan pola di atas, pola menularkan pengalaman kiat-kiatnya di lapangan oleh pelaku langsung, diharapkan para mahasiswa pada ketularan dan latah baik, memanfaatkan energi positifnya yang sangat dahsya yaitu latah. Semoga juga dampaknya tak ubahnya rame seperti di zamannya wartel dan gelombang cinta juga karena latah massal.

Tapi kali ini justru rame membuat agroindustri olahan hasil petani yang kaya inovasi teknologi pangan target pasar ekspor siap mencetak lapangan kerja, pajak dan devisa, juga karena latah. Agar ke depan bisa menjadi investor sehingga tidak harus mendatangkan dari luar negeri lewat skema penanaman modal asing (PMA)

*Pengamat dan Praktisi Pertanian

Editor: Tokohkita

TERKAIT