Muhammad E Fuady

Dan "Pembunuh Berdarah Dingin" Itu Adalah Rocky Gerung

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Jumat, 25 Januari 2019 - 10:22 WIB

Muhammad E Fuady/Istimewa
Muhammad E Fuady
Foto: Istimewa

Di era modern, orang tak lagi berjibaku dengan pedang. Manusia modern bersilat dengan pikiran. Dengan logika, mereka berdialektika, memberikan argumen demi argumen untuk membuat lawan bicara mengerti dan paham.

"Rocky.. Rocky..!!",  seru emak-emak dan para pemuda di Medan, beberapa hari lalu. Aku kira mereka meneriakkan nama Rocky Balboa, seorang petinju legendaris berbadan atletis dalam sebuah film box office empat puluh tahun lalu.Tak dinyana yang muncul hanyalah seorang pria berusia separuh baya, berbadan kurus, rambutnya beruban, perawakannya kecil dengan kaus berkerah. Melihat sosoknya, biasa saja, tak ada yang istimewa.

Perawakannya mirip Kenshin Himura, sang pembantai (battosai). Karakter utama dari manga dan anime karya Nobuhiro Watsuki yang sangat populer di Indonesia. Takeru Satoh sebagai pemeran Kenshin Himura (Live Action) bertubuh kurus, tak sebanding dengan lawan-lawannya, hingga kerap kali diremehkan lawan. Namun parut X di pipinya menjadi petanda siapa ia sesungguhnya. Sekali sabet, dengan jurus Hiten Mitsurugi-ryu, lawan langsung terkapar.

Di era modern, orang tak lagi berjibaku dengan pedang. Manusia modern bersilat dengan pikiran. Dengan logika,  mereka berdialektika, memberikan argumen demi argumen untuk membuat lawan bicara mengerti dan paham. Membuat lawan terbungkam sebenarnya bukanlah sebuah tujuan dari sebuah perdebatan. Meski sesungguhnya dirinya sendirilah yang tak siap dan akhirnya terbungkam dengan sendirinya.

Perdebatan itu sejatinya bukanlah mencari kemenangan, membuat lawan terpuruk dalam kekalahan. Perdebatan bukan pula untuk beretorika, menghasilkan kata-kata indah tanpa makna. Seperti yang ditegaskan Aristoteles berabad silam, perdebatan dan retorika itu sejatinya untuk mengungkapkan kebenaran itu sendiri. 

Kini emak-emak dan generasi milenial menggandrungi seorang pria yang kerap tampil memukau di setiap panggungnya, dalam setiap perdebatannya. Argumentasinya mampu mencuri perhatian publik. Penjelasannya logis, sesuai dengan akal sehat.

Kerap kali ia membuat analogi dengan hal yang ada di sekitarnya. Mulai istilah "bekas barang" dan "barang bekas", "bekas presiden" dan "presiden bekas", kode akal miring dan akal sehat, kuis nama ikan dan kuis yang lebih berkualitas, IQ 200 sekolam, etika berdemokrasi, dan etika moral. Cuitannya di twitter pun secara massif dipropagasi tweeps.

"Negara tidak melindungi pendapat siapa pun. Yang dilindungi negara adalah hak untuk berpendapat. Jadi haknya yang dilindungi, bukan pendapatnya. Negara nggak ada urusan dengan pendapat orang," tutur jebolan Universitas Indonesia ini menanggapi larangan terhadap aksi 2019 ganti presiden.

Pria yang digadang sebagai presiden akal sehat ini menjelaskan konsep keadilan secara sederhana. "Emak emak itu dari awal dia tau cara bagaimana membagi keadilan. Bahkan, ketika dia mengandung, dia tau bagaimana membagi nutrisi pada bayinya", tuturnya. Tak heran kaum emak selalu antusias membanjiri panggung yang disiapkan untuk pria yang hobi naik gunung ini.

Rocky Gerung, pria kurus itu, namanya kini nyaring dielukan publik, pengagum, dan pecintanya. Tak ada yang menyangsikan, seperti Kenshin Himura sang pembantai, Rocky adalah seorang "pembunuh berdarah dingin". Dengan logika, argumentasi, dan kata-kata satire, ia membuat lawan terbata, bungkam, terkapar tanpa daya. Jejak digital kepiawaiannya berdebat bertebaran di laman media sosial.

Kehadiran Rocky Gerung memang selalu dinanti. Itulah mengapa kemudian Datuk Karni Ilyas dalam Indonesia Lawyers Club  menahbiskannya dengan jargon yang amat populer, "No Rocky, No Party".

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung

Editor: Tokohkita

TERKAIT