Pemkab Garut dan Yayasan Bakti Barito Gelar Program Sekolah Adiwiyata

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Rabu, 1 Februari 2023 - 12:48 WIB

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Garut, Jujun Juansyah, mengatakan bahwa sekolah memiliki sumber sampah yang cukup kompleks di antaranya seperti sampah makanan dan minuman, sampah kegiatan sekolah, alat tulis kantor, maupun aktivitas belajar dan mengajar.

TOKOHKITA. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut berkolaborasi dengan Yayasan Bakti Barito menggelar Rapat Koordinasi Program Sekolah Adiwiyata dalam bentuk Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) yang dilaksanakan di Meeting Room SMPN 1 Garut, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (31/1/2023).

Sekretaris Daerah (Sekda) Garut, Nurdin Yana, mengungkapkan, pendekatan, pemanfaatan, dan pembudayaan lingkungan harus ada dalam _mindset_ anak-anak sekolah. Menurutnya, proses adiwiyata merupakan pendekatan yang adaptif terhadap pengelolaan lingkungan khususnya lingkungan sekolah.

"Melalui proses adiwiyata inilah sebetulnya kita ingin mendekatkan ini loh yang adaptif terhadap pengelolaan lingkungan seperti begini, begitulah kurang lebih,  sehingga kerusakan yang ada nan jauh di sana akan menjadi tanggung jawab mereka, karena bisa saja menjadi pengganti kita di lingkungan," ucap Sekda Garut.

Nurdin menambahkan, jika anak-anak tidak memiliki pengetahuan terhadap pengelolaan lingkungan yang baik, maka kondisi lingkungan ke depannya akan sangat sulit dan mengkhawatirkan. Hari ini anak anak kita, besok orang tua mereka akan peduli lingkungan dan mereka di daerah yang kondisi, maaf, kebutuhan real kehidupan seharinya, maka ketika ini diberikan setidaknya akan membekas, jadi tidak akan terlalu sporadis dalam eksploitasi alam nah ini yang inginkan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Garut, Jujun Juansyah, mengatakan bahwa sekolah memiliki sumber sampah yang cukup kompleks di antaranya seperti sampah makanan dan minuman, sampah kegiatan sekolah, alat tulis kantor, maupun aktivitas belajar dan mengajar.

"Dan ini tentu saja akan memberikan satu produk yang dalam bentuk sampah kayak gitu, plastik sisa makanan, daun, ranting, kertas, dan sampah lainnya," tuturnya.

Maka dari itu, imbuh Jujun, perlu dilakukan pemetaan potensi dan masalah yang ada lingkungan di sekolah. Tak hanya itu, integrasi perlindungan hidup pada mata pelajaran di sekolah juga diperlukan sebagai bentuk penekanan atau pembiasaan perilaku atau norma lingkungan hidup di sekolah.

Ia memaparkan, bahwa program GPBLHS merupakan aksi kolektif secara sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh sekolah dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan hidup. "Outputnya adalah perilaku bertanggung jawab dalam upaya pelestarian lingkungan hidup serta peningkatan kualitas lingkungan hidup dan upaya pendukung ketahanan bencana sekolah," tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Garut, Asep Wawan, mengungkapkan bahwa program GPBLHS ini memiliki banyak dampak positif terhadap sekolah-sekolah yang mengikuti kegiatan ini. Maka dari itu, ia berharap seluruh jenjang pendidikan baik itu TK, SD, SMP, SMA ataupun Mts dan MA dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan Sekolah Adiwiyata.

"Sebab dengan mengikuti kegiatan ini tentunya kita ya, bapak/ibu selaku pengelola sekolah akan bertambah wawasan pengetahuan tentang bagaimana cara me-manage sekolah yang ramah lingkungan," ungkapnya.

Ia juga berharap, bagi sekolah-sekolah yang belum sama sekali mengikuti kegiatan ini, dapat mendaftarkan diri untuk menjadi peserta Program Sekolah Adiwiyata di tahun ini.

"Diharapkan kerja sama dari para pengawas, pembina, terutama yang hadir dan tentunya lebih mengetahui tentang kondisi sekolah didata, didorong sekolah, dimotivasi agar semua sekolah terutama yang belum pernah sama sekali mengikuti kegiatan ini untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah," tandasnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER