Rokhmin Dahuri

Perguruan Tinggi Harus Manfaatkan Teknologi Ciptakan Lapangan Kerja

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. EDUKASI /
  4. Selasa, 15 Oktober 2019 - 18:56 WIB

Insan perguruan tinggi mengasah jiwa kewirausahaan (entreprenuership), yaitu suatu kemampuan untuk merubah sesuatu yang tidak atau kurang ada gunanya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bernilai tambah, dan bernilai ekonomi.

TOKOHKITA. Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB dan Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Indonesia (PTN) Indonesia (HIMPUN) menyelenggarakan seminar nasional “Perubahan Paradigma Dunia Usaha Berbasis Transformasi Digital” di Kampus IPB Darmaga, Bogor, Selasa (15/10/2019).

Guru Besar IPB yang juga Pakar Kemaritiman, Prof Rokhmin Dahuri didaulat menjadi keynote speach pada acara yang dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia tersebut. Dalam paparannya, mantan menteri kelautan dan perikanan itu mengajak para alumni perguruan tinggi memanfaatkan tranformasi teknologi informasi yang ditandai oleh revolusi industri 4.0 untuk terjun ke dunia usaha mengembangkan sektor produksi dan ekonomi real untuk menciptakan lapangan kerja.

“Seluruh rakyat Indonesia, termasuk  civitas academica dan segenap alumni perguruan tinggi, sangat mendambakan segera terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju, adil-makmur, dan berdaulat sesuai dengan cita-cita kemerdekaan NKRI,” paparnya.

Pasalnya, hingga saat ini Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah atawa lower—middle income country, dengan pendapatan nasional kotor atau Gross National Income (GNI) sebesar US$ 3.870 per kapita berdasarkan data Kemenko Perekonomian tahun 2019. Artinya, belum menjadi negara makmur atau high-income country, dengan pendapatan nasional kotor diatas US$ 12.165 per kapita (Bank Dunia, 2018). 

“Selain itu, berdasarkan pada kapasitas Iptek, bangsa Indonesia belum berstatus sebagai negara maju. Karena, kapasitas Iptek kita sampai sekarang masih berada di kelas tiga. Artinya, lebih dari 75% kebutuhan Iptek nasional berasal dari impor. Sedangkan, negara maju adalah mereka yang kapasitas Iptek-nya mencapai kelas satu yaitu lebih dari 75% kebutuhan Iptek-nya dihasilkan oleh bangsanya sendiri,” ungkap Guru Besar Mokpo National University Korea Selatan itu.

Selain soal Iptek, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu menyebutkan, sektor primer seperti pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pertambangan sebagian besar dikerjakan secara tradisional sehingga belum secara optimal dikembangkan menjadi industri berskala nasional. “Sektor sekunder misalnya manufacturing, processing dan packaging itu produktivitasnya juga masih rendah, sementara akses UMKM terhadap lahan usaha permodalan sarana produksi juga minim,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Rokhmin mengajak insan perguruan tinggi mengasah jiwa kewirausahaan (entreprenuership), yaitu suatu kemampuan untuk merubah sesuatu yang tidak atau kurang ada gunanya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bernilai tambah, dan bernilai ekonomi.  “Dalam bahasanya Pak Ciputra, seorang entrepreneur adalah yang mampu mengubah sampah menjadi berkah. “An entrepreneur is someone who spots an opportunity and acts to make it into a commercial success” ujarnya.

Ciri-ciri utama seorang entrepreneur adalah kreatif, inovatif, bisa membaca dan menciptakan peluang, berani ambil resiko (risk taker) yang terukur (calculated risks), pantang menyerah, disiplin, tekun, berorientasi pada hasil (result-oriented), dan sabar. “Seluruh alumni muda jadilah entrepreneur (pengusaha-red). PTN di Indonesia harus bersatu menjawab berbagai problematika diatas,” tukasnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT