Gundala, Memanusiakan Jagoan

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Gaya Hidup /
  4. Sabtu, 31 Agustus 2019 - 11:41 WIB

Sepanjang 119 menit, penonton disuguhi cerita panjang Gundala dengan berbagai karakter pendukungnya. Beberapa karakter memang hanya mendapat sedikit porsi. Adegan kekerasan yang cukup menggigit nampaknya tidak ramah anak.

TOKOHKITA. Jagat Sinema Bumilangit telah merilis film pertamanya: Gundala (2019). Film arahan Joko Anwar ini bisa ditonton di bioskop tanah air mulai 28 Agustus 2019. Jagoan karya komikus Harya Suraminata atau Hasmi yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Tapi, ia malah membantahnya. “Aku bukan jagoan,” kata Sancaka.

Dia menolak membantu para aktivis pasar melawan preman pasar. Lalu seseorang tiba-tiba memukul Sancaka dengan balok kayu dari belakang, berniat menjajal kekuatan Sancaka. Benar saja, seketika dia pingsan. Sancaka memang manusia biasa. Para aktivis pasar mengira Sancaka memiliki kekuatan super. Dia pernah sekali mengeluarkan petir dari tangannya ketika dikeroyok 30 preman. Namun ternyata itu tidak disengaja Sancaka. Lalu siapa Gundala jika bukan jagoan?

Selain karena Sancaka adalah manusia biasa secara fisik, dia juga manusia biasa secara mental. Dia lahir dari kelas sosial paling bawah, seorang anak buruh. Dia lalu tumbuh menjadi anak jalanan dan bertahan hidup di kota yang keras. Kebutuhan untuk bertahan hidup membuatnya menjadi individualis. Sancaka selalu berusaha untuk tidak peduli pada hal sekitar. Dia tak mau terlibat urusan orang lain. Dia layaknya orang biasa yang tinggal di rumah susun dan harus sibuk kerja untuk makan.

Meski akhirnya kondisi sosial yang semakin buruk dan menyebabkan berbagai kekacauan membuka kepeduliannya, Sancaka tetap mengalami proses hidup seperti kebanyakan orang. "Kita mementingkan diri sendiri. Yang orang kaya, mereka merasa bisa melanggar hukum karena mereka bisa lepas dari itu (karena) punya uang. Yang di bawah juga seperti itu, mereka melanggar hukum karena mereka mencari uang," kata Joko Anwar seperti dikutip Historia.

Ketika telah menjadi Gundala, Sancaka ditanya, “kamu siapa?” “Rakyat,” jawab Gundala. Terlepas dari apakah membawa nama ‘rakyat’ terlalu berlebihan, dia terlihat hanya berusaha untuk tidak di-jagoan-kan. Seperti hendak mengatakan "tak perlu jadi jagoan untuk berbuat baik". Sesederhana itu. "Gundala kan kita semua. Banyak dari kita yang tidak peduli ketidakadilan. Orang di-abuse, dilecehkan di depan kita, kita diam saja. Banyak banget di Indonesia. Sama seperti Sancaka di awalnya," kata Joko Anwar.

Joko Anwar juga memasukan drama dan humor yang pas di beberapa adegan. Kadang lugu, kadang lucu, bahkan kadang Sancaka terlihat cupu. Ini membuat Sancaka sangat manusiawi. Selaras dengan itu, tokoh-tokoh di Gundala lainnya juga tidak digambarkan "hitam putih". Pengkor misalnya, sebagai musuh Gundala, bukan berarti dia jahat secara murni. Ada latar belakang kenapa dia menjadi jahat serta ada bagian di mana dia bukanlah orang jahat.

Tokoh Pengkor hendak mengatakan bahwa seseorang tidak pernah menjadi jahat sejak orok. Bahkan dia mengajak penonton mempertanyakan ulang mana yang baik dan mana yang buruk.

Disambar Petir
Bicara soal kekuatan Gundala, hubungan Sancaka dengan petir bermula sejak kecil. Sancaka kecil, sangat takut dengan petir. Setiap hujan turun dan petir mulai berkilatan, Sancaka langsung bersembunyi. Ternyata, dia trauma karena pernah disambar petir. Hingga dewasa, petir terus mengikuti Sancaka. Jika dia ada di luar ketika hujan, sudah pasti disambar petir. Untuk mencari tahu persoalan petir itu, dia harus membaca buku. Dia juga belajar bagaimana alam bekerja.

Tentu saja, Joko Anwar tidak akan memberi kuliah ilmu fisika di film ini. Tapi dia membuat munculnya kekuatan petir serta keterkaitannya dengan desain kostum Gundala menjadi masuk akal. Komik superhero seringkali dianggap murni fiksi alias tidak ilmiah. Dalam versi komik sendiri, episode Gundala Putra Petir (1969) yang menceritakan awal mula Gundala, Gundala mendapat kekuatannya dari Kaisar Kronz dari Kerajaan Petir.

Namun, tidak sepenuhnya cerita dibuat asal-asalan. Anton Kurnia dalam "Komik Superhero Indonesia: Gundala dan Telur Columbus", di harian Sinar Harapan, 2003, mencontohkan komik Gundala episode Dr. Jaka dan Ki Wilawuk yang menurutnya memiliki dasar gagasan yang kuat. Hasmi, menurut Anton, memiliki wawasan dan menggunakan riset untuk membuat episode itu.

”Seperti sekilas terbaca dari Dr. Jaka dan Ki Wilawuk, komik kita ternyata bisa cerdas, intelek, imajinatif dan oleh karenanya memperkaya para pembacanya. Ia membuktikan bahwa tuduhan sebagian orang bahwa komik kita cenderung dangkal, abai terhadap riset dan referensi, tidak mendidik dan membodohkan, ternyata tak sepenuhnya benar,” ungkap Anton.

Sedangkan soal wujud petir yang dibuat dengan Computer-generated imagery (CGI) dalam film ini sendiri sudah cukup memuaskan. Nampaknya kurang tepat bila hendak membandingkannya dengan garapan Marvel Studios misalnya.

Joko Anwar memang hanya meminjam tokoh Gundala. Dia tidak serta merta meniru cerita komik Gundala karya Hasmi yang dibuat sejak 1969 tersebut. Sebagian besar cerita dibuat menyesuaikan konteks Indonesia hari ini. “Kita membuat karakter ini relevan dengan Indonesia sekarang. Concern Indonesia sekarang itu apa? Jadi harus dimasukan. Kalau kita punya tokoh Gundala yang besar banget, orang semua kenal dan kalau kita tidak menggunakannya untuk menyuarakan apa yang tejadi di Indonesia kan sayang banget,” kata Joko Anwar.

Sejak awal Joko Anwar berusaha menyentuh persoalan buruh yang menjadi latar belakang masa kecil Sancaka. Dia kemudian juga menarasikan kehidupan kaum miskin kota serta relasi rakyat, penguasa, dan mafia. “Pak Hasmi dan bapak-bapak yang dulu bikin komik, bikin tokoh-tokoh jagoan ini, mereka ingin bersuara, saya yakin. Cuma zaman dulu kan tidak bebas seperti sekarang. Jadi mereka pakai satir, sindiran, komedi. Di masa kini, kita punya kesempatan bersuara lebih bebas kalau nggak kita suarakan, kita mengkhianati kebebasan itu,” kata Joko Anwar.

Abimana Aryasatya, pemeran Gundala, mengaku tidak terlalu sulit menjadi Gundala yang hidup dalam kondisi sosial tersebut. “Emang kamu pikir saya nggak pernah jadi buruh. Hahaha. Tapi nggak mungkin diceritain panjang. Saya (pernah) hidup di level sosial ekonomi yang sama dengan Sancaka. Jadi nggak perlu research terlalu berat,” katanya kepada Historia.

Abimana mengaku pernah tinggal di rumah susun yang menjadi rumah Sancaka dalam film. “Rumah susun yang dipakai syuting, saya pernah tinggal di situ. Jadi research-nya juga lebih gampang kan. Jadi nggak perlu gua harus tinggal di sana, gua tinggal recall memori saja,” ungkapnya.

Sepanjang 119 menit, penonton disuguhi cerita panjang Gundala dengan berbagai karakter pendukungnya. Beberapa karakter memang hanya mendapat sedikit porsi. Adegan kekerasan yang cukup menggigit nampaknya tidak ramah anak. Sebagai pembuka sekaligus pengantar ke Jagat Sinema Bumilangit selanjutnya, Gundala terbilang epik.

Editor: Admin

TERKAIT


TERPOPULER