Sama Sama Hobi Motor Gede

Begini Sosok Idris Sandiya di Mata Chef Juna

  1. Beranda /
  2. Feature /
  3. Selasa, 5 Maret 2019 - 22:09 WIB

Chef Juna dan Idris Sandiya
Chef Juna dan Idris Sandiya
Foto:

Memang, Idris Sandiya terbilang sudah cukup lama hobi motoran. Bahkan, Owner PT Sandiya Investama ini tergabung di Ikatan Motor Indonesia (IMI). Ia dipercaya menjadi Ketua Komisi Wisata-Touring pada kepengurus IMI Pusat periode 2016-2020.

TOKOHKITA. Dukungan terhadap Idris Sandiya yang maju sebagai Calon Anggota Legislatif dari Partai Amanat Nasional (PAN) terus bertambah. Tidak hanya dari kalangan warga di Bekasi dan Depok, teman dekat pun turut memberikan doa dan dukungan agar Idris Sandiya bisa terpilih pada pileg 2019 sehingga menjadi wakil rakyat di Senayan. 

Kali ini, dari Juna Rorimpandey. Anda yang hobi masak, pasti tahu dengan Chef Juna, ya. Selain seorang chef ternama di Indonesia, pria kelahiran Manado, 20 Juli 1975 ini merupakan teman dekat Idris Sandiya. Lah, gimana ceritanya, ia bisa kenal Chef Juna. Usut punya usut, yang mempertemukan keduanya tak lain karena memiliki hobi yang sama. Baik Chef Juna maupun Idris Sandiya adalah penggemar motor gede alias moge.

Memang, Idris Sandiya terbilang sudah cukup lama hobi motoran. Bahkan, Owner PT Sandiya Investama ini tergabung di Ikatan Motor Indonesia (IMI). Ia dipercaya menjadi Ketua Komisi Wisata-Touring pada kepengurus IMI Pusat periode 2016-2020. Tak heran, Idris Sandiya juga kerap memanfaatkan waktu luang di sela kesibukannya untuk touring bersama-rekan-rekan penggila moge.

Nah, dari kegiatan touring inilah, Chef Juna mengenal sosok Idris Sandiya. "Ketemu pas makan siang di Pondok Indah saat touring," ungkap koki spesialis makanan Jepang dan Perancis yang telah menghabiskan waktu selama kurang lebih 12 tahun di luar negeri.

Menurut Chef Juna yang namanya meroket setelah menjadi salah satu juri dalam ajang Master Chef Indonesia ini, kegiatan touring bareng Idris kerap dilakukan pada acara-acara grup besar atau resmi yang meibatkan organisasi pecinta motor. "Tapi sering juga hanya touring kita-kita aja," aku koki yang masa mudanya tergolong anak berandalan. Maklum, saat usianya masih 17 tahun, dia membuat geng bernama Bad Bones. Geng ini selalu mengendarai Harley Davidson .

Lantas, seperti apa sosok Idris Sandiya di mata Chef Juna? "Beliau kalau saya lihat sangat tenang dan berwibawa dalam mengambil keputusan, juga bijaksana. Jadi menurut saya, itu cocok untuk menjadi pemimpin," ungkap pria ganteng yang memiliki tato di kedua lengannya ini.

Itu sebabnya, Chef Juna sangat mendukung penuh ketika mengetahui Idris mendapat kepercayaan jadi caleg DPR untuk dapil Bekasi dan Depok. "Sukses, Kang [Idris]. Semoga terpilih, kami doakan. Dan saya yakin, Kang Idris bisa terpilih," ucapnya mendoakan.

Bagi Idris Sandiya, Chef Juna adalah teman yang baik. "Beliau adalah teman dekat saya. Kami pertama kali dipertemukan dan kini pun dipersatukan adalan melalui kecintaan kami terhadap dunia otomotif," tutur Idris. Bisa berkawan dengan seorang Juna  merupakan sebuah kebagaan tersendiri. "Sebuah kebanggan bagi saya bisa mengenal beliau. Terima kasih, Chef, untuk testimoninya. Saya doakan semoga sehat selalu," tukas Idris Sandiya balik mendoakan.

Sementara itu dalam berbagai kesempatan, Idris mengatakan, alasannya maju menjadi caleg ingin mendorong perbaikan taraf hidup bagi masyarakat Kota Depok dan Kota Bekasi. Ia menaruh perhatian pada dua hal yang selalu disampaikan masyarakat kepada dirinya. "Ketika melakukan sosialisasi kebanyakan masyarakat itu minta aspek pendidikan, dipermudah. Itu ada sampai ibu-ibu bicara, tolong supaya diperjuangkan di kecamatan saya ada SMA karena anak saya mau ke SMA jauh enggak bisa dan kuotanya terbatas gitu, dan terutama lagi lapangan pekerjaan," kata Idris.

Terkait lapangan pekerjaan, Idris selalu berupaya mendorong agar masyarakat bisa memberdayakan dirinya, yaitu melalui wirausaha. Ia berkeyakinan setiap anggota masyarakat memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan melalui wirausaha. "Misalnya ojek ya, sekarang booming karena di-monetize kan, dikembangkan lewat aplikasi. Nah, masyarakat kan butuh monetize seperti itu kan, yang bisa apa. Tapi kan tidak mungkin semua jadi tukang ojek, ya kan," ujar dia. "Bikin yang lain. Misalnya, bikin cireng, kue, tapi kan kadang tidak tahu (cara mengembangkannya), itu perlu dipromosikan, diberikan pelatihan kewirausahaan, gitu," sambungnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT