Komunitas Depok Bersih Bersih Kali Ciliwung

  1. Beranda /
  2. Komunitas /
  3. Senin, 25 Februari 2019 - 01:27 WIB

Komunitas Ciliwung Depok (KCD)/Istimewa
Komunitas Ciliwung Depok (KCD)
Foto: Istimewa

Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, setiap hari sekitar 7.000 ton sampah dibuang di Sungai Ciliwung. Praktik membuang sampah terjadi sejak hulu sampai hilir sungai. Paling parah terjadi di wilayah Bogor dan Depok.

TOKOHKITA. Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional, puluhan aktivis dari Komunitas Ciliwung Depok (KCD) turun ke bantaran Sungai Ciliwung di kolong jembatan Kompleks Grand Depok City (GDC), Pancoran Mas, Kota Depok, untuk membersihkan sampah, Minggu (24/2/2019).

Sinta Saptarina Soemiarno, Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menganggap para aktivis tersebut sebagai pahlawan lokal (local hero) dalam hal pembersihan sampah di Sungai Ciliwung.

"Semua inisiatif yang seperti ini kami anggap bisa menjadi local hero, yang harus diduplikasikan di mana-mana," ujar Sinta di bantaran Sungai Ciliwung kawasan GDC seperti dikutip Wartakota.

Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, setiap hari sekitar 7.000 ton sampah dibuang di Sungai Ciliwung. Praktik membuang sampah terjadi sejak hulu sampai hilir sungai. Paling parah terjadi di wilayah Bogor dan Depok.

Dari 7.000 ton sampah itu, hanya 75% yang dapat diangkut, delapan persen atau sekitar 180 ton mengendap di Sungai Ciliwung, dan sisanya terbawa sampai ke laut. "Padahal mikroplastik itu sangat bahaya, mengingat itu bisa masuk ke dalam semua biota laut yang bisa kita makan dan permasalahan ini juga sudah menjadi perhatian internasional," bilang Sinta.

"Jadi kegiatan hari ini ada inisiatif yang bagus sekali dari Komunitas Ciliwung Depok untuk bersih-bersih sampah. Kami dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat apresiasi kegiatan ini karena memang setiap 21 Februari itu diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional," tuturnya.

Sinta menyampaikan, inisiatif dari masyarakat sangat dibutuhkan karena target penanganan sampah secara nasional tahun 2025 adalah 100%. Terdiri dari target pengelolaan sampah 70?n pengurangan sampah melalui 3R (reuse, reduce, recycle) sebesar 30%.

"Nah, masyarakat bagian penting dari pengurangan. Jadi pengurangan itu akan sangat baik ketika dari hulunya. Konsep 3R itu sangat berperan di dalam masyarakat karena masyarakat sebagai penghasil (sampah) dia sangat berperan untuk mengurangi dari awal," kata Sinta.

"Misalnya, sudah tidak menggunakan produk yang akan menimbukan limbah plastik, seperti gelas plastik, kantong plastik, sedotan plastik, seperti itu. Karena Indonesia sudah dilihat di mata internasional sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia," jelasnya.

Sementara itu, para penggiat lingkungan terlihat antusias menyusuri Kali Ciliwung dengan menggunakan perahu karet dan alat keamaan lengkap. Sampah anorganik yang dikumpulkan nantinya diolah menjadi ecobrick. “Saya berharap makin banyak kegiatan memungut sampah terutama di Sungai Ciliwung,” kata Pembina Komunitas Ciliwung Depok Des Taufik. 

Selanjutnya, acara diikuti dengan sosialisasi pembuatan ecobrick. Ecobrick adalah metode yang cukup efektif digunakan negara maju untuk mengurangi sampah plastik. Cara membuatnya sampah plastik dipadatkan dalam botol plastik.

Nantinya, ecobrick bisa disusun dan digunakan sebagai bangku dan meja. Kegiatan ini pun  mendapat apresiasi dari pemerintah.  “Jadi ini inisiatif dari masyarakat. Kami berharap pengelolaan sampah pada 2025 akan terkelola dengan baik,” timpal Sinta.

Editor: Tokohkita

TERKAIT