Saat Didin Bagito ‘Ngelawak Hoax’, Asli Ngak Lucu

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Selasa, 15 Januari 2019 - 10:15 WIB

Didin Bagito/Tokohkita
Didin Bagito
Foto: Tokohkita

Didin bilang, secara kuantitas masyarakat kita mulai peduli terhadap isu-isu politik, terutama di kalangan anak muda atau generasi milenial. “Kalau zaman dulu, mana ada anak muda yang suka urusan politik. Kini, di media sosial mereka begitu ramai bicara soal politik,” akunya.

TOKOHKITA. Akhir-akhir ini, apalagi menjelang Pilpres 2019,  dunia maya banyak dibanjiri informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah hoax oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Masifnya berita hoax di media sosial juga mengundang keprihatinan pelawak senior Didin Bagito.

Maklum, perang opini di media sosial sudah tidak lagi menunjukan kewarasan akal sehat. Justru sarat kebencian dan permusuhan yang tidak jelas dasarnya.Ini tidak terlepas dari suhu politik yang kian memanas. “Saya prihatin, banyak informasi hoax yang menyesatkan,” kata Didin saat berbincang dengan Tokohkita, usai memandu acara peresmian Posko Pemenangan Tim Kampanye Daerah (TKD) Kota Depok di Kantor DPD Partai Golkar Kota Depok di Kawasan Grand Depok City, Sabtu (12/1/2019), pekan lalu.

Didin bilang, secara kuantitas masyarakat kita mulai peduli terhadap isu-isu politik, terutama di kalangan anak muda atau generasi milenial. “Kalau zaman dulu, mana ada anak muda yang suka urusan politik. Kini, di media sosial mereka begitu ramai bicara soal politik,” akunya.

Tapi anak muda yang mulai tertarik dunia politik ini harus terpapar dengan informasi hoax yang malah sudah mencederai demokrasi itu sendiri. Ini tidak terlepas dari posisi medsos yang muai dominan mempengaruhi ruang pembicaraan publik. Semestinya, anak muda ini memdapat pencerahan politik yang positif bukan sebaliknya.

“Mari kita berpolitik yang cerdas, beda pilihan itu biasa. Memilih dengan hitungan-hitungan. Jangan hanya karena beda pilihan, pertemanan, persaudaraan menjadi rusak. Kita mau diprovokasi dengan berita hoax, terus menyebarkan lagi tanpa cek dan ricek terlebih dahulu,” harap Didin.

Atas dasar itu, Didin meminta kepada pihak yang berkepentingan agar memberikan pendidikan politik yang baik kepada generasi muda. Memang, anak muda sekarang cukup berpendidikan. Tapi faktanya jika setiap saat terus disuguhi berita hoax akibatnya fatal dan memalukan. “Ngak lucu dan malu, kan,” sindirnya.

Buktinya, banyak orang berpendidikan dari mulai guru, dosen, hingga politikus sendiri yang berurusan dengan penegak hukum akibat terlibat menyebarkan berita bohong yang menjadi viral. Makanya, “kita semua harus serius melawan hoax, ngak lucu orang pinter kemakan hoax,” sebut Didin.

Satu hal lagi yang patut dicatat adalah identitas sebagai bangsa Indonesia. “Ya, kudu diingat kita ini bangsa timur yang santun, tepo seliro atau bahasa kerennya teloransi. Itu yang harus dikedepankan. Memilih presiden itu kan hanya untuk lima tahun, dan siapapun yang terpilih adalah presiden Indonesia sesuai suara terbanyak,” tukas Didin. Ahasil, Didin bilang, buang itu jauh jauh rasa dengki, benci dan permusuhan karena kita semua bersaudara sebagai bangsa Indonesia yang cinta damai dan toleran.

Ya, jika tidak ada kehati-hatian, netizen dengan mudah akan termakan tipuan berita hoax bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah.Ingat dengan kasus hoax Ranta Sarumpaet yang menghebohkan itu! Lalu, bagaimana caranya agar tak terhasut?

Seperti yang terlansir pada halaman kompas.com, Minggu (8/1/2016), Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax. Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Ini Cara melaporkan informasi hoax

Apabila menjumpai informasi hoax, lalu bagaimana cara untuk mencegah agar tidak tersebar. Pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang tersedia di masing-masing media. Untuk media sosial Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoax sebagai hatespeech/harrasment/rude/threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, biasanya Facebook akan menghapus status tersebut.

Untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, demikian juga dengan Instagram. Kemudian, bagi pengguna internet Anda dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id. Masyarakat Indonesia Anti Hoax juga menyediakan laman data.turnbackhoax.id untuk menampung aduan hoax dari netizen. TurnBackHoax sekaligus berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoax.

Editor: Tokohkita

TERKAIT