Rokhmin Dahuri

Refleksi Strategi Maritim Indonesia di Masa Depan

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Rabu, 15 Juni 2022 - 21:46 WIB

Pada tataran filosofis, Indonesia sebagai poros maritim dunia artinya, reorientasi paradigma (platform) pembangunan bangsa, dari berbasis daratan (land-based development) menjadi berbasis kelautan (marine-based development).

TOKOHKITA. Indonesia menuju poros maritim dunia dengan membangun ekonomi maritim yang pesat, kekuatan maritim yang kokoh, dan peradaban maritim yang kuat. Sumbangan ekonomi maritim terhadap PDB meningkat dari 10,4% tahun 2018 menjadi 15% TAHUN 2030, dan 25% tahun 2045.

Demikian diutarakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS saat menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ““Past, Present, Future of Maritime Strategy” yang digelar Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) secara daring, Rabu, (15/6/2022).

Untuk mencapai cita-cita menjadi poros maritim dunia tahun 2045 mendatang, Rokhmin menyebutkan terdapat tiga tahapan yang harus dilalui. Pertama, membangun ekonomi maritim. Caranya, dengan meningkatkan peranan ekonomi maritim menjadi sekitar 12,5?ri PDB pada tahun 2045 dengan fokus pada pembangunan konektivitas laut yang efisien dan efektif, industrialisasi perikanan berkelanjutan dan berdaya saing, dan pariwisata bahari yang inklusif.

Kedua, peradaban maritim. "Pada tahap ini bisa tercapai dengan cara menciptakan kualitas sumber daya manusia maritim yang unggul, inovasi teknologi kemaritiman, dan budaya maritim yang kuat sebagai basis peradaban bahari," terang Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan Periode 2020–2024 ini.  Ketiga, Indonesia memiliki kekuatan maritim. Pada periode ini, Indonesia bisa mewujudkan kemampuan pertahanan keamanan maritim yang kuat dan andal menghadapi tantangan regional dan global, sehingga posisi negara kita menjadi poros maritim dunia.

Memang, untuk menjadi poros maritim dunia, bukan hal yang mudah. Meski demikian, cita-cita tersebut bukan hal yang tak mungkin. Alasannya, Indonesia merupakan kepulauan terbesar di dunia, yang 75% wilayahnya berupa laut (termasuk ZEEI). "Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi yang luar biasa besar, sekitar US$ 1,4 triliun per tahun atau 1,4 kali PDB dan potensi serapan lapangan kerja untuk 45 juta orang," ungkap Rokhmin. 

Menurut Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini, hingga 2020, potensi ekonomi kelautan ini baru dimanfaatkan sekitar 20?ri total potensinya. Di sisi lainm, posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia sangat strategis, karena berada diantara Samudra Pasifik & Hindia dan Benua Asia & Australia, diapit Laut Tiongkok Selatan & Indo-Pasifik, dan 45% seluruh barang perdagangan global dengan nilai ekonomi sekitar US$ 15 triliun per tahun ditransportasikan via ALKI 

"Potensi ini bisa menjadi “berkah” atau “kutukan” bagi NKRI," ujar Rokhmin yang memaparkan makalahnya berjudul "Tinjauan Masa Lalu dan Refleksi Strategi Maritim di Masa Depan.

Dalam kesempatan tersebut, Rohmin juga menyinggung makna dan pengertian Indonesia sebagai poros maritim dunia. Pada tataran filosofis, Indonesia sebagai poros maritim dunia artinya, reorientasi paradigma (platform) pembangunan bangsa, dari berbasis daratan (land-based development) menjadi berbasis kelautan (marine-based development).

Adapun dalam tataran parktisnya adalah, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur dan berdaulat berbasis ekonomi kelautan, hankam dan budaya maritim serta mampu menjadi a role model (teladan) dunia dalam berbagai bidang kelautan seperti pendidikan, IPTEK, infrastruktur, ekonomi, hankam, dan tata kelola kelautan (ocean governance).

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER