Global Workplace Report 2021

Soal Masa Depan Bekerja, Pemimpin Bisnis dan Karyawan Berbeda Pendapat

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Teknologi /
  4. Kamis, 28 Oktober 2021 - 21:28 WIB

TOKOHKITA.  NTT Ltd., penyedia solusi bisnis dan teknologi global, hari ini merilis Global Workplace Report edisi 2021, yang memberikan wawasan mengenai masa depan bekerja saat bisnis di seluruh dunia sedang bersiap menghadapi realitas pasca-pandemi. Laporan tersebut menemukan bahwa para pemimpin bisnis secara signifikan lebih puas dengan bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan norma kerja baru dibandingkan dengan karyawan mereka, dan mereka menunjukkan pentingnya memiliki wawasan organisasi yang lebih jelas bagaimana melakukan evaluasi kembali mengenai apa yang dibutuhkan karyawan dari tempat kerja mereka.

Saat 1.146 wawancara di 23 negara dilakukan, NTT menemukan adanya kesepakatan hampir di seluruh dunia bahwa bekerja dari jarak jauh telah menimbulkan berbagai masalah, dengan 82% responden mengatakan bahwa hal tersebut telah memberikan tantangan pada performa organisasi dan 81% responden mengatakan bahwa karyawan tengah menghadapi tantangan kerja. 63% CHRO (Chief Human Resource Officer), sementara itu mengatakan bahwa kesejahteraan karyawan memburuk selama pandemi.

Namun, permasalahan ini tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam suatu penilaian nyata dari kemampuan organisasional. Apabila dibandingkan dengan staff operasional, 20?ri CEO lebih percaya bahwa organisasi mereka lebih efektif dalam mengatur jam kerja, 28% responden lebih percaya bahwa mereka efektif mencegah kelelahan di pekerjaan, dan 41% puas dengan kemampuan organisasi dalam mengelola Employee Experience.

Kesenjangan yang terjadi mencerminkan kurangnya kepercayaan karyawan, hanya 38% responden mengatakan bahwa organisasi tempat mereka bekerja sepenuhnya menghargai kesehatan dan kesejahteraan mereka, dan hanya 23% yang mengatakan bahwa mereka sangat senang bekerja untuk organisasi tempat mereka bekerja.

Adanya kesenjangan kepuasaan yang terjadi antara pengusaha dan karyawan, penelitian ini menemukan tingkat keberagaman yang signifikan dalam sikap karyawan terhadap preferensi bekerja dimasa depan menurut mereka sendiri. Data Voice of the Employee (VoE) menunjukkan bahwa ketika ditawari pilihan untuk dapat bekerja di rumah, secara hybrid, atau di kantor, respons yang diberikan karyawan relatif terbagi rata di antara ketiganya, masing-masing sebesar 30%, 30%, dan 39%.

 “Saat ini, narasinya adalah tentang bekerja dari jarak jauh – tetapi pada kenyataanya kebutuhan karyawan jauh lebih rumit, kegagalan pada saat melakukan evaluasi dan merespon fakta akan menghadirkan risiko serius bagi organisasi”, kata Alex Bennett, Wakil Presiden Senior Global , GTM Solutions di NTT Ltd. “Hal ini bukan merupakan pilihan yang mudah: kami menemukan bahwa saat ini keseimbangan hidup dan bekerja serta waktu perjalanan menuju kantor menjadi dua faktor terpenting yang dilihat orang saat memutuskan di mana tempat mereka bekerja, sehingga strategi tempat bekerja yang dapat meningkatnya kinerja karyawan yang terbaik akan dapat menjadi keuntungan yang kompetitif bagi organisasi.”

Kurangnya data dan informasi yang terkumpul membuat pandangan terhadap kebutuhan karyawan menjadi sulit dipaparkan. Dalam hal prioritas data, 52% bisnis melaporkan VoE sebagai fokus utama, lalu fokus kedua adalah analitik tempat kerja sebesar 54%. Meskipun demikian, hanya 39%  organisasi yang memiliki program VoE secara terstruktur, dan 37% menggunakan analisis sentimen secara real-time, dibandingkan dengan 54% yang menggunakan survei karyawan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa aplikasi data - data untuk meningkatkan Employee Experience suatu organisasi harus ditinjau lebih jauh daripada peningkatan kualitas hidup sehari-hari; 40% responden saat ini menjadikan tujuan dan nilai perusahaan menjadi faktor terpenting ketiga bagi mereka untuk memilih tempat bekerja. Di area ini, karyawan dan para pemimpin bisnis berada dalam sinkronisasi, dengan 89% menyetujui bahwa tujuan-tujuan dari lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environment, Social and Governance ESG) adalah inti dari agenda organisasi.

“Saya akan melihat hal ini sebagai seruan untuk mengubah pemikiran kita dari tindakan menjadi hasil”, lanjut Bennett. “Yang terpenting bukanlah apa yang kami lakukan untuk meningkatkan tempat kerja, tetapi bagaimana hal itu benar-benar bermanfaat bagi karyawan – dan sebuah organisasi tidak dapat mengetahuinya tanpa adanya pendekatan yang matang untuk mengukur sentimen karyawan,".

Anehnya, dua pertiga karyawan mengatakan bahwa mereka belum dilengkapi dengan semua fasilitas yang mereka butuhkan untuk bekerja dari rumah, namun 55% organisasi yang mengatakan bahwa mereka telah siap memfasilitasi karyawan untuk bekerja secara hybrid. Meskipun demikian, 82% organisasi terlibat dalam membentuk kembali ruang kantor mereka selama 12 bulan ke depan untuk mendorong inovasi lingkungan dan hubungan sosial. Jelas, terdapat kesadaran pada tingkat tertentu bahwa strategi tenaga kerja yang tidak matang dapat menyebabkan ketidakpuasan karyawan, dan memprioritaskan apa yang dibutuhkan karyawan.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER