Momentum Dirgahayu RI, Jamkrindo Resmikan Operasional Rumah Sampah di Garut

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Minggu, 15 Agustus 2021 - 23:16 WIB

Rumah Sampah Salarea/Tokohkita
Rumah Sampah Salarea
Foto: Tokohkita

Rumah Sampah Salarea dikembangkan oleh Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation) dan mendapat dukungan serta fasilitasi penuh dari BUMN sektor keuangan, yakni PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo). Adapun rintisan bank sampah ini telah hadir di tiga lokasi, yakni Cikoang dan Loji di Kecamatan Cibatu, serta Pasir Waru, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

TOKOHKITA. Peringatan Ulang Tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia adalah momentum penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia juga menjadi tonggak sejarah bagi aktivitas Rumah Sampah Salarea, yang mulai beroperasi di bulan Agustus ini.

Kehadiran Rumah Sampah Salarea yang merupakan rintisan pengembangan bank sampah berbasis komunitas dan pemberdayaan masyarakat ini menjadi bagian dari ikhtiar dalam membangun kesadaran dan kepedulian kolektif terhadap aspek lingkungan, khususnya persoalan sampah yang semakin akut dan kompleks.

Rumah Sampah Salarea diinisiasi dan dikembangkan oleh Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation) dan mendapat dukungan serta fasilitasi penuh dari BUMN sektor keuangan, yakni PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo). Adapun rintisan bank sampah ini telah hadir di tiga lokasi, yakni Cikoang dan Loji di Kecamatan Cibatu, serta Pasir Waru, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sekretaris Salarea Foundation Cecep M Tosin mengatakan, khusus untuk rumah sampah di Loji berbasis bank sampah sekolah di SMA PGRI Cibatu, yang berkolaborasi dengan Komunitas Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Loji, sebagai bagian entitas dari Salarea Foundation di gerakan peduli lingkungan. "Kami sangat mengapresiasi atas dukungan, fasilitasi juga pendampingan dari pihak Jamkrindo pada pembangunan Rumah Sampah Salarea sebagai rintisan bank sampah berbasis komunitas dan pemberdayaan masyarakat," katanya di Garut, Minggu (15/8/2021).

Menurut Cecep, rumah sampah di Cikoang menjadi induk dari dari dua cabang rumah sampah di Loji dan Pasir Waru. Artinya, semua manajemen dan pengolahan dikoordinasikan oleh rumah sampah induk. "Kami berharap, dari tiga bank sampah ini bisa berkembang ke beberapa wilayah-wilayah lainnya di Garut, terutama yang menghadapi problem penanganan sampah liar," jelasnya. 

Untuk menopang operasional rumah sampah, Salarea Foundation telah mendirikan simpul-simpul relawan MPL antara lain MPL Loji, MPL Pasir Waru, dan MPL Kampung Warung, yang mencakup area kerja di tiga kecamatan. Kini, terdapat 75 relawan sampah yang terkonsentrasi di tiga simpul MPL tersebut. MPL juga memproduksi paving block dari sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang.

"Dengan semangat peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, kami berharap kerja-kerja pemberdayaan dalam konteks lingkungan ini terus berkembang secara berkesinambungan lewat kolaborasi unsur organisasi penggiat lingkungan, masyarakat dan pihak korporasi [swasta dan BUMN], juga pemerintahan. Sehingga, akan semakin banyak tumbuh simpul-simpul kelompok peduli lingkungan," harap Cecep.

Sekretaris Perusahaan Jamkrindo, Abdul Bari menyebutkan, pihaknya terus memperluas jangkauan pemberdayaan masyarakat, termasuk di wilayah Garut. Sebelumnya, Jamkrindo sukses menjalankan pemberdayaan masyarkat di Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark dan Cikidang, salah satu kawasan ekonomi rakyat potensial di Kabupaten Sukabumi. 

"Di Garut, Jamkrindo tidak hanya membantu pengembangan ekonomi petani kopi lewat pembuatan demplot kopi dan sejumlah fasilitasi serta pelatihan-pelatihan seperti pembuatan kompos. Saat ini kami berupaya masuk ke solusi masalah sampah dengan mendirikan rumah sampah berbasis komunitas dibawah naungan Salarea Foundation," paparnya.

Bari bilang, kehadiran rumah sampah ditargetkan mampu menjawab tantangan sampah liar yang semakin mengkhawatirkan di wilayah Cibatu dan sekitarnya. Bahkan, untuk pertama kalinya sejumlah wilayah di Cibatu yang dekat dengan bantaran kali kebanjiran cukup parah pada awal tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah banyak kali yang dangkal dan menyempit akibat dipenuhi sampah plastik. Padahal, Cibatu ini dikenal sebagai wilayah terparah di Garut Utara yang langganan krisis air bersih saban tahun saat musim kemarau," ungkap dia.

Atas dasar itu, Jamkrindo yang terus berkomitmen dalam pemberdayaan masyarakat dan merespon positif upaya pengembangan rumah sampah guna mengatasi problem sampah tersebut. "Ke depan, tidak hanya solusi sampahnya tapi sisi ekonomi dari pengolahan sampah bisa menjadi insentif bagi kelompok-kelompok masyarakat peduli lingkungan. Untuk itu, Jamkrindo juga telah membantu pengadaan mesin cacah plastik untuk mengolah sampah menjadi bernilai ekonomi. Artinya, muncul ekonomi sirkular dari pemanfaatan sampah," tukas Bari.

Yoni Nugraha, Kepala Desa Pasir Waru mengaku, bangka dengan kehadiran rumah sampah dan aktivitas MPL Pasir Waru, karena berdampak posotif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. "Saya sebagai warga Kampung Ikar, Pasir Waru, merasa bangga dengan adanya rumah sampah ini. Karena yang tadinya sampah di Kampung Ikar ini berserakan dan kurang disiplinnya masyarakat terhadap lingkungan. Alhamdulillah, sekarang sampah telah dikelola dan ditampung di rumah sampah," tuturnya saat meninjau rumah sampah di MPL Pasir Waru. 

Hal senada diutarakan Suryana, Pengurus Bundes Pasir Waru yang juga mengapresiasi dukungan Jamkrindo dan Salarea Foundation dalam pembangunan rumah sampah. "Semoga ini menjadi inspirasi positif bagi pengembangan dan pembentukan sumberdaya manusia potensial, terutama generasi muda dan benar-benar menjadikan sampah menjadi berkah bagi semua. Sehingga, dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat secara kreatif dan inovatif, sekaligus linggkungan menjadi bersih, sehat dan sejahteta," imbuhnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER