Rokhmin Dahuri

RI Produsen Terbesar di Dunia, Ranjungan Bisa Berperan Pulihkan Ekonomi

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Senin, 5 Oktober 2020 - 17:56 WIB

Rokhmin Dahuri/Istimewa
Rokhmin Dahuri
Foto: Istimewa

Indonesia merupakan produsen terbesar rajungan di dunia, dengan share hingga 49,5 persen produksi dunia pada 2018. Periode 2006-2018, produksi rajungan semakin meningkat rata-rata 24,6 persen per tahun

TOKOHKITA. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengatakan rajungan merupakan komoditas ekspor perikanan utama Indonesia memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia.

“Tidak hanya berupa devisa, tapi juga penyerapan tenaga kerja. Tahun 2019, rajungan menyumbang devisa Rp 6 triliun,” katanya saat menjadi narasumber Webinar Quarterly Meeting (Q3) yang diadakan Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), akhir pekan lalu.

“Bisnis rajungan mempekerjakan  lebih kurang 90 ribu nelayan dan lebih kurang 185 ribu perempuan dalam pemrosesan, pengemasan, dan penjualan,” terangnya. Rajungan, lanjut Ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Indonesia itu memiliki kemampuan pemulihan stok yang cepat karena usia reproduksi yang cepat. Sementara itu, permintaan domestik dan ekspor akan rajungan cenderung meningkat over time.

Indonesia merupakan produsen terbesar rajungan di dunia, dengan share hingga 49,5 persen produksi dunia pada 2018. Periode 2006-2018, produksi rajungan semakin meningkat rata-rata 24,6 persen  per tahun. “Periode 2015-2019, ekspor kepiting-rajungan Indonesia didominasi oleh produk olahan (secara volume rata-rata 52,3 persen dan secara nilai rata-rata nilai 70,2 persen),” ungkapnya.

Rokhmin menambahkan pengembangan rajungan di Indonesia masih menghadapi tantangan dan permasalahan. Salah satunya, ancaman terhadap keberlanjutan (sustainability) sumber daya rajungan di alam (laut) akibat eksploitasi berlebihan, fishingtechnology yang tidak ramah lingkungan, pencemaran laut, dan degradasi ekosistem pesisir.

Tantangan lainnya adalah pengetahuan, kesadaran, dan kapasitas nelayan untuk melakukan responsiblefisheries (penangkapan yang ramah lingkungan, mencatat dan melaporkan hasil tangkapan/logbook) umumnya masih rendah. Sementara itu, tekonologi budidaya rajungan (pembenihan dan pembesaran) belum begitu berkembang, risiko masih cukup tinggi, sehingga usaha penangkapan masih lebih menguntungkan (menarik).

Persyaratan tentang standar kualitas, keamanan pangan (food safety), traceability, ramah lingkungan, dan sertifikasi (seperti MSC, Seafood Watch, dan SFP Rating) dari negara-negara tujuan ekspor semakin ketat juga menjadi tantangan tersendiri.

Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020-2024 itu menekankan pentingnya implementasi Pengelolaan Rajungan Berkelanjutan berbasis WPP dan Permen KP N0.12/2020; pemenuhan kebutuhan bahan baku Unit Pengolahan ikan (UPI) melalui penambahan armada tangkap, kapal angkut, percepatan perijinan, perluasan usaha budidaya; kemudahan ijin pemasukan bahan baku untuk tujuan ekspor (terutama komoditas sub tropis); peningkatan nilai tambah melalui pengendalian ekspor rajungan utuh beku; dan peningkatan kepatuhan pemenuhan persyaratan ekspor negara tujuan (Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan/SHTI, Marine Mammals Protection Act, dan lain-lain).

Di samping itu, diplomasi penanganan hambatan ekspor dan penurunan tarif bea masuk ekspor (Jepang, EU, EFTA, Iran, Australia, RCEP); peningkatan nilai tambah produk melalui pembangunan Sistem Rantai Dingin (integrated cold storage, cold storage, dan lainnya); dan peningkatan kompetensi SDM Kelautan dan Perikanan. “Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membangun spirit ‘Indonesia Blue Swimming Crab Incorporated’,” katanya.

Terkait dengan pandemi dan upaya pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, Rokhmin menilai komoditas rajungan punya peran strategis memulihkan dan membangkitkan roda ekonomi meski bisnis rajungan sendiri terpengaruh oleh pandemi berupa turunnya permintaan.

Sebelum pandemi Covid-19, permintaan domestik maupun ekspor rajungan dan produk olahan rajungan meningkat dari tahun ke tahun. Dan, tren  ini diperkirakan akan terus meningkat.  “Namun, sejak pandemi Covid-19 (Maret 2020), ekspor rajungan menurun,” ungkap Rokhmin.

Meskipun belum ada data tentang tren  konsumsi (pasar) dalam negeri, tetapi diperkirakan menurun selama pandemi ini. “Selama pandemi, pemerintah membantu peningkatan konsumi dan pasar domestik rajungan via paket bansos dan stimulus ekonomi,” ujarnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER