Rokhmin Dahuri

Perikanan Setnet Solusi Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan di Masa Depan

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Sabtu, 27 Juni 2020 - 18:19 WIB

Rokhmin Dahuri/Dokumen pribadi
Rokhmin Dahuri
Foto: Dokumen pribadi

Agar kesejahteraan nelayan meningkat, perlu upaya meningkatkan produksivitas tanngkapan ikan sehingga pendapatan mereka bertambah. Adapun salah satu upayanya adalah menerapkan sistem perikanan setnet

TOKOHKITA, Sekitar 40% nelayan masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan pendapatan kurang dari US$ 300 atau setara Rp 4,2 juta per bulan. Hal itu akinat produktivitas nelayan di Indonesia masih renndah, karena sebagian besar atau 98% nelayan tradisional dengan ukuran kapal  kurang dari  20 GT dan fishing gears kurang efisien, sehingga produktivitas rendah.

Di sisi lain, mayoritas nelayan juga belum menerapkan best handling practices, sehingga kualitas ikan rendah. Agar kesejahteraan nelayan meningkat, perlu upaya meningkatkan produksivitas tanngkapan ikan sehingga pendapatan mereka bertambah. Adapun salah satu upayanya adalah menerapkan sistem perikanan setnet.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  IPB University, Prof  Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengatakan, perikanan setnet dinilai sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Tak hanya itu, perikanan setnet juga berdampak positif dalam menjaga kelestarian sumber daya ikan.

Rokhmin menjelaskan, setnet merupakan jenis teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan berbasis masyarakat yang dipasang secara menetap dan pasif di daerah penangkapan ikan. “Prinsip utama setnet yaitu menghadang dan mengarahkan kelompok ikan yang beruaya ke arah pantai sehingga memasuki perangkap kantong,” katanya  pada Webinar “Setnet Teknologi Penangkapan Ikan Masa Depan di Indonesia”, yang digelar oleh Sustainable Fishing Community, Sabtu (27/6).

Menurut dia, setnet telah lama berkembang dan sangat popular digunakan di sepanjang perairan pantai Jepang. Jenis-jenis setnet di Jepang adalah  dai ami (keddle net), oshiki ami (large set net), otoshi ami (trap net), masu ami (pot net), hari ami (fyke net), dashi ami (barrier net), dan eri ami (sero). “Di Indonesia, alat tangkap serupa setnet  antara lain  jermal, sero, ambai,  dan belat,” terang Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia  (MAI) itu.

Rokhmin menyebutkan, setnet besar dipasang pada kedalaman lebih  40 meter, setnet sedang dipadang pada kedalaman 25-40 meter. Sementara setnet kecil dipasang pada kedalaman kurang dari 25 meter. "Hasil tangkapan setnet umumnya adalah jenis ikan atau gerombolan ikan yang sedang melakukan migrasi, seperti migrasi untuk mencari ikan, migrasi untuk memijah atau migrasi lainnya,” ujarnya.  

Ikan yang memasuki setnet  ada yang bermigrasi secara soliter atau bermigrasi secara bergerombol. “Hasil tangkapan seperti jenis ikan tongkol, layang, tenggiri, selar, kembung, kuwe, layur, petek, dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine,” paparnya.

Ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) itu mengungkapkan, perikanan setnet di Indonesia baru dalam tahap penelitian atau uji coba dan belum dikembangkan oleh nelayan secara komersial. Ujicoba alat setnet pertama kali dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Laut/Balai Penelitian Perikanan Laut di perairan Pacitan, Jawa Timur pada tahun 1981.

Pada tahun yang sama, kata Rokhmin, dilakukan juga uji coba di perairan Bajanegara-Banten, kemudian diikuti uji coba di Prigi-Jawa Timur pada tahun 1982 dan di perairan Selat Sunda-Banten pada tahun 1990 dan 1993. Set net yang diuji coba berukuran relatif kecil dengan panjang penuju antara 100-300 m dan dipasang di perairan pantai dengan kedalaman  kurang dari 10 m.

Pada saat uji coba dilakukan penangkatan hasil tangkapan ikan dari kantong setiap hari. Rata-rata hasil tangkapan ikan berkisar antara 20-30 kg/angkat. Hasil tangkapan tertinggi pernah mencapai 100 kg/angkat pada saat dilakukan ujicoba di Pacitan. “Jenis ikan yang tertangkap saat itu didominasi oleh ikan demersal yang beruaya mengikuti pergerakan pasang surut seperti ikan layur, petek, mata besar dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine,” tuturnya.

Tahun 2009, BBPPI Semarang-KKP mulai uji coba setnet di perairan Teluk Malasoro, dekat Pulau Libukan, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. “Hingga akhir tahun 2012, terus diupayakan pembinaan peningkatan kinerja operasionalisasi setnet melalui kegiatan pendampingan,” kata Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020-2024 itu.

Adapun kegiatan pendampingan yang dilakukan BBPPI Semarang selama tahun 2012-2013 meliputi tahapan monitoring dan evaluasi kinerja setnet selama operasionalisasi di lapangan, penyiapan implementasi pembinaan terhadap kelompok nelayan setnet dalam menjaga keberlanjutan pengoperasian setnet.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER