Manlian Ronald. A. Simanjuntak

Bangunan Gedung Mid-Rise di Slipi Runtuh, Ini Kegagalan Fatal

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Selasa, 7 Januari 2020 - 09:38 WIB

Dari pengamatan visual yang dipilih dari sejumlah sumber, bangunan gedung yang runtuh dapat diindikasi mengalami kegagalan administrasi proyek atau kegagalan teknis. Dari perspektif teknis bangunan gedung, hal yang perlu dicermati. Apakah fungsi bangunan gedung saat ini sesuai dengan fungsi dalam desain awal?

Runtuhnya bangunan gedung lima lantai di Slipi-Jakarta pada hari Senin 6 Januari 2020 jam 09.15 WIB menggambarkan sebagian dari potret wajah bangunan gedung di Jakarta. Selain adanya sejumlah bangunan gedung tinggi (high rise building) yang gagal, kali ini bangunan gedung dengan ketinggian menengah (mid rise building) gagal dalam proses operasional. Namun perlu ada kajian mendalam apakah benar-benar gagal dalam proses desain, gagal dalam proses konstruksi atau gagal dalam proses operasional.

Dari pengamatan visual yang dipilih dari sejumlah sumber, bangunan gedung yang runtuh dapat diindikasi mengalami kegagalan administrasi proyek atau kegagalan teknis. Dari perspektif teknis bangunan gedung, hal yang perlu dicermati. Apakah fungsi bangunan gedung saat ini sesuai dengan fungsi dalam desain awal?

Jika ada perubahan fungsi harus disertai analisis pendukung yang valid. Kemudian, apakah "desain" bangunan gedung saat ini sesuai desain awal, atau ada perubahan desain. Setiap perubahan desain harus disertai kajian komprehensif dan profesional agar kegagalan bangunan gedung tidak terjadi seperti saat ini.

Di aspek sistem struktur bisa dicermati dari pengamatan visual runtuh, terlihat secara visual elemen struktur berupa kolom, balok, plat lantai "terlepas" dan tidak mampu menahan beban yang ada. Dari pengamatan visual, bahan bangunan gedung buruk kualitasnya dan tidak mampu menyatu secara sistem untuk menahan beban yang direncanakan

Hal itu terlihat dari bangunan gedung yang telah direnovasi. Nah, apakah proses konstruksi renovasi yang dilakukan berkualitas? Dengan demikian, proses renovasi ini dapat dicermati dari elemen bangunan gedung yang lama dan yang baru, apakah menyatu atau tidak.

Insiden runtuhnya bangunan gedung lima lantai di Slipi-Jakarta ini juga bisa dianalisa dari perspektif adminstrasi proyek. Dalam hal hal ini bisa diketahui dari status desain bagunan tersebut yang terupdate dan didesain oleh pihak yang ahli. Setelah mencermati desain, hal yang paling penting juga melihat status izin mendirikan bangunan (IMB) dari bagunan tersebt. Apakah IMB yang ada sudah diperbaharui sesuai update desain dan hasil konstruksi?

Di sisi lain, bisa juga dicek kebenaranya terkait SLF (Sertifikasi Laik Fungsi) bangunan gedung yang runtuh apakah ada dan masih aktif. Yang terang, peruntukannya sesuai yang diatur dalam RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) maupun RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) Jakarta

Alhasil, dengan mencermati kegagalan yang dimungkinkan dari perspektif aspek kegagalan administrasi proyek dan kegagalan teknis di atas, sudah saatnya masing-masing pihak ikut bertanggung jawab. Pihak PEMILIK memiliki tanggung jawab yang terutama. Ketika pemilik tidak menaati aturan yang ada, kegagalan bangunan gedung yang runtuh adalah kegagalan PEMILIK. Pihak PEMERINTAH sebagai pembina jasa konstruksi di Indonesia bertanggung jawab memastikan secara administrasi proyek dan teknis, seluruh bangunan gedung andal. Kegagalan bangunan gedung ini menegur Pemerintah: Bagaimana proses IMB? Bagaimana hasil audit bangunan gedung?

Pihak PENYEDIA JASA KONSTRUKSI baik itu konsultan, kontraktor, maupun supplier bertanggung jawab terhadap desain dan konstruksi bangunan gedung secara holistik, yang faktanya:  kolom, balok, lantai, dinding,  lepas dan runtuh. MASYARAKAT umum yang mencermati dan menggunakan fasilitas bangunan gedung harus kritis mencermati kelaikan bangunan gedung yang digunakan.

*Penulis adalah Guru Besar Universitas Pelita Harapan

Editor: Tokohkita

TERKAIT