Rokhmin Dahuri

Jika Optimal, Sektor Akuakultur Bisa Sumbang 2% untuk Pertumbuhan Ekonomi

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Jumat, 4 Oktober 2019 - 17:58 WIB

Rokhmin Dahuri/Istimewa
Rokhmin Dahuri
Foto: Istimewa

Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya atau akuakultur terbesar di dunia dengan potensi sekitar 100 juta ton per-tahun di atas China. Namun dari sisi produksi kita saat ini berada di posisi kedua.

TOKOHKITA. Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof. Rokhmin Dahuri terus mendorong pemerintah untuk serius memaksimalkan potensi kelautan dan perikanan, khususnya dari sektor perikanan budidaya atau akukultur karena memiliki cadangan produksi yang paling besar di dunia.

Hal ini diutarakan Rokhmin saat menjadi keynote speech “A Productive, Clean, Green, Blue and Inclusive Industriization Toward Sustainable Aquaculture Development” pada Konferensi Internasional Akuakultur atau International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2019 di Hotel Mercure, Surabaya, Jum’at (4/10/2019).

“Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya atau akuakultur terbesar di dunia dengan potensi sekitar 100 juta ton per-tahun di atas China. Namun, dari sisi produksi kita saat ini berada di posisi kedua,” ujar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

ICAI 2019 sendiri merupakan forum internasional akukultur tahunan membahas pembangunan dan pengembangan sektor perikanan budidaya. Tahun ini, ICAI 2019 dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari 16 negara dan berbagai kalangan seperti peneliti, dosen, pengusaha, pemerintah, mahasiswa, dan LSM.

ICAI 2019 menjadi memomen yang penting dan strategis bagi Indonesia, karena salah satunya terkait pembangunan dan pengembangan akuakultur bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui forum bisnis. “Di ICAI ini juga ada forum bisnis sektor budidaya seperti kerapu dari budidaya ikan tangkap, udang khususnya vaname, lele, ikan patin dan nila yang nanti akan dibahas dari hulu dan hilir,” ungkap Rokhmin yang juga Guru Besar IPB itu.

Kelak, Forum ICAI 2019 akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah dalam upaya membangun sektor akukultur agar berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. “Jika rekomendasi atau jurus-jurus pengembangan akuakultur itu dapat diterapkan oleh pemerintah, kita optimistis sektor tersebut mampu menyumbangkan minimal 2% untuk pertumbuhan ekonomi,” sebut Ketua DPP Bidang Maritim PDIP ini.

Menurut Rokhmin, apablila saat ini pemerintah sulit keluar dari pertumbuhan ekonomi yang hanya mentok di 5%, maka dengan optimalisasi pembangunan sektor akuakultur menuju pertumbuhan 7% Insya Allah akan mudah tercapai.

Di sisi lain, salah satu isu penting yang juga menjadi pembahasan dalam ICAI 2019 adalah menyangkut soal sustainability atau kelestarian lingkungan dalam pembangunan dan pengembangan sektor akuakultur, yang mana dalam implementasinya tidak boleh melampaui daya dukung lingkungan.

“Pembangunan akuakultur (laut atau offshore, payau/, tambak, air tawar seperti waduk maunpun kolam) prinsipnya tidak boleh melampaui daya dukung lingkungan. Setiap kawasan kita sudah punya perhitungan daya dukungnya,” tukasanya.

Sebagai contoh, Rokhmin mengatakan, setiap permukaan danau atau perwadukan sesuai aturan daya dukung lingkungan maksimal untuk keramba jaring apung adalah 10%. “Jangan sampai seperti Waduk Cirata yang sudah 60%, sehingga selain fungsi irigasinya berkurang. juga merugikan untuk dunia perikanan. Sebab setiap tahun terjadi up failing atau pembalikan masa air sehingga zat beracun naik ke atas dan membuat ikan banyak yang mati,” terang Rokhmin mengingatkan.

Untuk itu, MAI berharap pemerintah harus hadir dan berkomitmen menjalankan aturan, tapi juga bukan dengan main larang ini larang itu. "Harus dengan tawaran solusinya juga untuk masyarakat,” kritik Rokhmin.

Editor: Admin

TERKAIT