Rokhmin Dahuri

Ekonomi Maritim Bisa Pecahkan Masalah Kesejahteraan

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Sabtu, 25 Mei 2019 - 22:57 WIB

Rokhmin Dahuri/Istimewa
Rokhmin Dahuri
Foto: Istimewa

Di bidang kelautan dan perikanan terdapat 11 sektor yang bsia dikembangkan. Adapun nilai ekonominya sekitar US$ 1,4 triliun. Jumlah ini hampir 1,5 kali lipat ukuran ekonomi produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini, yakni US$ 1 triliun.

TOKOHKITA.Potensi ekonomi kelautan Indonesia sangat besar. Jika ekonomi maritim ini dikembangkan secara optimal, maka akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, khususnya di bidang ekonomi dan kesejahteraan.

Di bidang kelautan dan perikanan terdapat 11 sektor yang bsia dikembangkan. Adapun nilai ekonominya sekitar US$ 1,4 triliun. Jumlah ini  hampir 1,5 kali lipat ukuran ekonomi produk domestik bruto (PDB)  Indonesia saat ini, yakni US$ 1 triliun.

Demikian disampaikan Guru Besar Manajemen Pembangunan Pesisir dan Lautan IPB Rokhmin Dahuri saat tampil sebagai pembicara dalam Buka Puasa dan Diskusi Publik bertajuk Membaca Kabinet Jokowi-Maruf dan Prospek Pengembangan Wilayah Pesisir dan Kepulauan di Kafe Upnormal, Jakarta, Sabtu (25/5/2019).

Menurut Rokhmin, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau, yang tiga perempat wilayahnya berupa laut-ekonomi maritim. Namun, hanya sekitar 30%-35% yang berpenghuni. Pemerintah Indonesia sendiri baru mendaftarkan 13.466 pulau, termasuk 92 pulau kecil terluar ke Kantor PBB di New York, Amerika Serikat.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kekayaan kelautan Indonesia ini menawarkan segudang potensi, sekaligus memiliki peluang untuk menyerap tenaga kerja ekonomi maritime yang diperkirakan mencapai 45 juta orang. "Kalau kita fokus dan sungguh-sunggu, maka sebagian persoalan Indonesia saat ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan memanfaatkan sumber daya kelautan yang melimpah," kata Duta Besar Kehormatan Jeju Island Korea ini.

Rokhmin mencontohkan potensi komoditas udang vaname. Seandainya Indonesia bisa memanfaatkan 17% saja dari lahan pesisir yang cocok dikembangkan untuk tambak udang, maka diproyeksikan bisa menghasilkan 20 juta ton atau 20 miliar kilogram udang per tahun. Harga udang saat ini sekitar US$ 5 per kg. Alhasi, apabila 20 miliar kilogram dikalikan US$ 5 berarti US$ 100 miliar per tahun.

"PDB Indonesia saat ini hanya sekitar US$ 1 triliun. Jadi kalau US$ 100 miliar dibagi US$ 1 triliun, maka ketemu angka 10%. Artinya, udang bisa menyumbang 10% PDB kita," paparnya.

Itu sebabnya, Indonesia perlu giat mengembangkan 500.000 hektare (ha) tambak udang dalam waktu lima tahun ke depan, atau 100.000 ha per tahun hingga tahun 2024 mendatang. Menurut Rokhmin, pengembangan tambak uang seluas 500.000 ha ini mempunyai multiplier effect yang sangat besar. Sebab terdapat kesempatan kerja langsung (on farm) sekitar dua juta orang, dan tidak langsung (off farm) sekitar 1,5 juta orang.

Peluang tersebut baru dari komoditas udang saja, karena banyak sekali komoditas budidaya laut lainnya dengan nilai ekonomi sangat tinggi seperti udang windu, ikan bandeng, nila salin, kerapu, kakap, bawal bintang, kepiting, lobster, gonggong, abalone, teripang, kerang mutiara, dan rumput laut, dan lainnya.

"Kalau pengembangan ekonomi maritim ini konsisten, maka setiap tahun dari udang saja sudah bisa menyumbangkan pertumbuhan ekonomi 2%. Artinya, target pertumbuhan ekonomi sebesar 7?alah keniscayaan, kalau ekonomi maritim ini dikembangkan secara optimal,” tukas Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia.

Editor: Tokohkita

TERKAIT