Usai Pencoblosan, Bangsa Indonesia Harus Bersabar

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Kamis, 18 April 2019 - 12:53 WIB

Terlepas dari hasilnya, karena masih menunggu penghitungan dan pengumuman resmi dari Komisi Pemihan Umum (KPU), bangsa Indonesia patut bangga sekaligus bersyukur bisa melaksnakan tahapan pemilu yang paling rumit termasuk paling besar se kolong jagat dengan aman, lancar dan damai.

TOKOHKITA. Tahap pencoblosan Pemilu 2019 telah usai. Penghitungan di setiap tempat pemungutan suara (TPS) juga sudah rampung. Untuk sementara, pemenangnya pasangan nomor urut 01 Jokowi-Maruf Amin berdasarkan penghitungan cepat atawa quick count sejumlah lembaga survei.

Memang, belum merupakan hasil resmi. Respons masing-masing capres terhadap hasil hitung cepat pun sudah kita dengar. Terlepas dari hasilnya, karena masih menunggu penghitungan dan pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), bangsa Indonesia patut bangga sekaligus bersyukur bisa melaksnakan tahapan pemilu yang paling rumit termasuk paling besar se-kolong jagat dengan aman, lancar dan damai.

Bahkan, partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini terbilang baik. Seperti dilaporkan detikcom, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengklaim, partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 melebihi target pemerintah. Memang berapa pencapaiannya?

"Partisipasi pemilih mencapai 80,90%%. Ini lebih dari target RPJMN 2015/2019 sebesar 77,5 %. Hal ini, tunjukkan siapa pun presiden terpilih, punya legitimasi yang tinggi," ucap Wiranto kepada wartawan usai rapat koordinasi pengamanan pasca-pemilu di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (18/4/2019).

Wiranto juga menyebut pelaksanaan pemilu sampai tahap pemilihan atau pencoblosan berlangsung damai. Menurutnya, tidak ada laporan gangguan keamanan yang merusak jalannya pemilu. "Tahapan pemungutan suara berjalan aman, tertib, lancar, dan damai. Kondisi ini tidak lepas dari peran serta semua pemangku kepentingan," ucapnya.

Saat masa penghitungan, Wiranto meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan tindakan melawan hukum. Dia juga meminta masyarakat mengganggu ketertiban umum."Ingatkan kepada masyarakat untuk tetap tenang, tidak lakukan tindakan anarkis yang langgar hukum dan perundangan yang berlaku, sambil menunggu hasil resmi perhitungan suara oleh KPU," ucap Wiranto.

TNI-Polri akan bertugas menjaga keamanan sampai masa akhir tahapan pemilu. Mereka akan menindak tegas perusuh yang ganggu ketertiban. "TNI Polri akan tidak tegas untuk menindak dan netralisir berbagai aksi yang nyatanya akan mengganggu ketertiban dan semua upaya serta keutuhan bangsa Indonesia," tukas Wiranto.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman menyebutkan, quick count atau hitung cepat pemilu hanya sebuah referensi mengenai hasil penghitungan suara pada pemilu. Hasil resmi pemilu hanya dikeluarkan dan ditetapkan oleh KPU. "Kalau ada quick count, ada yang bikin exit poll, jadikan itu sebuah referensi. Jadikan itu sebagai sebuah informasi," kata Arief Budiman di Taman Suropati seperti dilansir dari kompas.com, Rabu (17/4/2019). "Hasil resminya kapan, berapa hasil resminya, ya nanti nunggu ketika KPU menetapkan hasilnya," lanjut dia.

Kubu Jokowi tidak terburu-buru dalam menyikapi hasil hitung cepat beberapa lembaga survei yang sementara mengunggulkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Capres petahana itu meminta kepada para pendukungnya agar bersabar menunggu rekapitulasi resmi dari KPU.

Dikutip dari CNBC Indonesia, dalam pidatonya, Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu sebagai saudara sebangsa dan setanah air pascapemilu. "Marilah kembali bersatu sebagai saudara sebangsa setanah air, setelah pileg [pemilihan legislatif] dan pilpres, merajut kerukunan kita sebagai saudara setanah air," kata Jokowi yang didamping Ma'ruf Amin dalam jumpa pers di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (17/4/2019). Menurut Jokowi, dari indikasi exit poll dan quick count telah kita lihat semuanya. "Tapi kita harus bersabar dan menunggu perhitungan dari KPU secara resmi," imbuhnya.

Di sisi lain, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menggelar pidato sebanyak dua kali dengan menyatakan dirinya unggul dari Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019. Capres Prabowo mengklaim menang 62?rdasarkan real count internal. Prabowo pun sujud syukur. "Saya mau kasih update bahwa berdasarkan real count kita, kita sudah berada di posisi 62%. Ini adalah hasil real count. Dalam posisi lebih dari 300 ribu TPS. Sudah diyakinkan ahli-ahli statistik bahwa ini tidak akan berubah banyak," ujar Prabowo di depan kediamannya, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Prabowo dalam jumpa pers didampingi Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri, Sekjen PKS Mustafa Kamal, Eggi Sudjana, Yusuf Martak, serta Rahmawati Soekarnoputri. Sandiaga Uno tak terlihat dalam jumpa pers itu. Prabowo dalam pidatonya menegaskan tidak akan menggunakan cara-cara di luar hukum. Prabowo mengklaim dirinya akan terpilih sebagai presiden Indonesia selanjutnya."Karena kita sudah menang rakyat bersama kita, kita bagian dari rakyat," ujar dia.

Tidak saling mengklaim

CEO Polmark Indonesia Eep Saefulloh Fatah mengimbau kepada kedua pasangan capres-cawapres dan pendukungnya, agar tidak saling mengklaim kemenangan dan bersabar menunggu hasil real count atau penghitungan dari KPU.

Menurut Eep, hasil penghitungan real count dari KPU belum dapat menjadi rujukan mengingat data yang masuk baru sedikit dari data keseluruhan. Begitu juga hasil quick count atau hitung cepat, juga belum dapat menjadi acuan karena bukan data nyata meskipun berdasarkan cara ilmiah.

"Hasil real count berbasis berita acara perhitungan suara di TPS (Formulir C1) yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi diklaim bahwa Prabowo-Sandi meraih 62% suara. Masalahnya: Yang sudah dihitung baru 'lebih dari 320 ribu TPS' atau kurang dari 40?ri seluruh TPS. Secara statistik sudah jelas angkanya belum konklusif," tulis Eep di media sosial, Kamis (18/4/2019).

Eep menyebutkan, ada tiga versi perhitungan yang sekarang sudah terpublikasi, menyebar lewat WAG dan platform lain dengan sangat deras: Pertama, Quick Count diumumkan oleh para penyelenggara Quick Count bahwa Jokowi-Amin menang dengan selisih 8-10%. 'Masalahnya: Ini hanya Quick Count. Orang bisa memperdebatkan hasilnya karena ada "margin of error. Quick Count hanya bisa dipakai sebagai bahan prediksi awal. Tak bisa dipakai untuk merumuskan konklusi. Quick Count berguna tapi ada batasnya. Tak bisa dipakai membuat konklusi resmi," ungkapnya.

Kedua, hasil real count berbasis berita acara perhitungan suara di TPS (Formulir C1) yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi. Diklaim bahwa Prabowo-Sandi meraih 62% suara. Menurut Eep, yang sudah dihitung baru lebih dari 320.000 TPS atau kurang dari 40?ri seluruh TPS. Secara statistik sudah jelas angkanya belum konklusif. Selain itu, angka ini belum bisa dipakai sebagai hasil resmi karena baru perhitungan satu pihak Prabowo-Sandi. Kubu Jokowi-Amin bisa saja membuat bantahan dengan cara berhitung yang sama. Konklusinya berpotensi diperdebatkan secara politik.

Ketiga, angka resmi perhitungan KPU yang diumumkan di website resmi KPU. Angka ini diperoleh dengan cara yang sama dengan perhitungan kubu Prabowo-Sandi, berbasis berita acara perhitungan suara di TPS2. Cuma, data yang sudah dihitung KPU masih amat sangat terbatas. "Saat saya akses pukul 04.30 pagi (18/4/2019) ini total suara yang sudah dihitung baru dari 518 dari 813.350 TPS (0,6369%). Masih di bawah 1?ri total data/suara. Jadi sekalipun ini angka resmi di website KPU tapi datanya masih amat sangat kecil untuk dipakai membuat konklusi," kata Eep.

Lalu, apa kesimpulannya? Eep menjelaskan, kesimpulannya bangsa Indonesia diminta untuk bersabar. Nah, bersabar menjalani proses pasca-pencoblosan yang sangat krusial ini. Sabar menjalani proses perhitungan suara sesuai prosedur dan mekanisme yang sudah disepakati.

Maka itu, inilah langkah yang seyogianya diambil dengan sigap: Pertama, KPU harus menyegerakan proses pendataan di websitenya berbasis Formulir C1. Berbasis teknologi yang digunakan, input data bisa dilakukan dengan cepat.

Kedua, atas nama akuntabilitas, KPU harus memasukkan data per TPS yang dilengkapi dengan gambar hasil scan Formulir C1 per TPS. Dengan itu, kredibilitas data terjaga. Berbasis pengalaman dalam Pilkada 2015, 2017 dan 2018, KPU semestinya punya kemampuan mengerjakan ini dengan cepat.

Ketiga, Kubu Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi harus sangat menyegerakan proses "quick real count": memasukkan data dari semua TPS dari semua daerah pemilihan berbasis Formulir C1. Ada baiknya proses update mereka berikan kepada publik untuk setiap tahap penting yang sudah dilewati proses perhitungan real ini: Saat suara yang dihitung sudah 50%, 60%, 80%, 90?n (mendekati) 100%.

Keempat, jika selisih cukup lebar, pada saat data masuk sudah melampaui 80?n beringsut mendekat ke 90%, maka konlusi bisa dibuat. Jika selisih tipis, maka satu2nya jalan adalah mempertarungkan perhitungan masing-masing kubu dalam proses Rekap per Kecamatan. Rekap berbasis berita acara hasil rekap suara di PPK (kecamatan) inilah yang kemudian bisa kita pakai membuat konklusi. "Mengapa? Sebab dalam proses rekap ini, kubu 01, 02, KPU dan Bawaslu resmi terlibat dalam perhitungan. Konlusi sebaiknya dibuat berbasis ini," jelas Eep.

Masih menurut Eep, yang terbijak tentu saja menunggu hasil perhitungan resmi ditetapkan KPU berbsis proses yang layak (demokratis, adil, transparan berbasis aturan main yang sudah disepakati) dari Kecamatan ke Kabupaten/Kota dan kemudian Provinsi. Kedua kubu berhak dihormati hak konstitusionalnya untuk terlibat dalam semua tahapan dalam proses perhitungan yang krusial ini.

Berikut hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei:
1. CSIS-Cyrus 
Jokowi-Ma'ruf: 56,5%
Prabowo-Sandiaga: 43,5%

2. Charta Politika
Jokowi-Maruf: 54,22%
Prabowo-Sandiaga: 45,78%

3.  Poltracking Indonesia
Jokowi-Ma'ruf: 56,47%
Prabowo-Sandiaga: 43,53%

4.  Indikator Politik Indonesia
Jokowi-Ma'ruf: 55,97%
Prabowo-Sandiaga: 44,03%

5.  Indo Barometer
Jokowi-Ma'ruf: 55,80%
Prabowo-Sandiaga: 44,20%

6. Saiful Mujani (SMRC)
Jokowi-Ma'ruf: 55,33%
Prabowo-Sandiaga: 44,67%

7. Litbang Kompas
Jokowi-Ma'ruf:54,44%
Prabowo-Sandiaga: 45,4%

8.Indobarometer
Jokowi-Ma'ruf:554,32%
Prabowo-Sandiaga:45,68%

9.LSI Deny JA
Jokowi-Ma'ruf:55,78%
Prabowo-Sandiaga:45,4%

10. Median
Jokowi-Ma'ruf:54,64%
Prabowo-Sandiaga:45,4%

11. Kedai Kopi
Jokowi-Ma'ruf:52,95%
Prabowo-Sandiaga:44,71%

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER