Matthew van Niekerk, CEO of SettleMint

Teknologi Blockchain dalam Aplikasi Pemilu

  1. Beranda /
  2. Perspektif /
  3. Senin, 10 Juni 2019 - 12:10 WIB

Matthew van Niekerk/Istimewa
Matthew van Niekerk
Foto: Istimewa

SettleMint percaya bahwa teknologi ini bisa memberikan manfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Pemilu adalah contoh kasus yang menarik, karena blockchain membantu menciptakan pembuktian yang tidak terbantahkan, sehingga mengurangi/menghilangkan potensi ketidakpuasan dengan hasil pemilu.

TOKOHKITA. Kata blockchain kian menjadi kata yang cukup populer. Teknologi dibalik cryptocurrency ini menjadi bola bergulir yang menggelinding cepat sebagai buah dari perkembangan teknologi saat ini. Blockchain dapat memastikan semua transaksi dilakukan secara tepat, direkam dan disimpan secara aman, kesejarahan transaksinya juga dapat diakses secara publik.

Yang cukup menarik, pencatatan transaksi yang dapat disimpan ke dalam blockchain ini, tidak hanya berfungsi untuk transaksi keuangan saja. Ada banyak kegunaan lain yang bisa ditangani dan direkam ke dalam blockchain. Nah, salah satunya adalah untuk keperluan aplikasi sistem penghitungan suara dalam pemiihan umum. Pemilu adalah contoh kasus yang menarik, karena blockchain membantu menciptakan pembuktian yang tidak terbantahkan, sehingga mengurangi/menghilangkan potensi ketidakpuasan dengan hasil pemilu.

SettleMint memprakarsai konsep "Democracy Anchored", yaitu dengan "melabuhkan" data C1 dalam bentuk foto ke jaringan blockchain.  Sebelumnya foto tersebut akan dicek oleh algoritma mesin yang dimoderatori oleh manusia untuk menandai apakah ada tanda-tanda bahwa kertas suara tersebut ada yang salah datanya. Dengan adanya jejak kriptografik pada setiap foto (disebut dengan istilah "hash"), maka setiap foto bisa dipertanggungjawabkan keotentikannya.

Untuk lebih lanjutnya, berikut petikan wawancara Tokohkita via email dengan Matthew van Niekerk, CEO of SettleMint, terkait aplikasi teknolgi blockchain dalam industri keuangan hingga sistem pemilu.

Apa itu blockchain dan masalah apa saja yang bisa diselesaikan oleh teknologi ini?

Blockchain merupakan data yang terekam dan terus bertambah (disebut dengan istilah "block") di mana saling terhubung satu sama lain menggunakan kriptografi. Tiap blok memiliki kriptografi-kriptografi yang dibuat dari block-block yang sudah terbentuk sebelumnya, yang ditandai dengan waktu serta transaksi data. Dengan desain yang seperti itu maka blockchain sangat resisten terhadap perubahan data. Sekali terekam (recorded), maka data yang telah di "block" tidak akan bisa diubah tanpa merubah urutan-urutan yang sebelumnya. Istilahnya, perubahan data harus mendapat persetujuan dari seluruh jaringan yang telah terbentuk.

SettleMint percaya bahwa teknologi ini bisa memberikan manfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Pemilu adalah contoh kasus yang menarik, karena blockchain membantu menciptakan pembuktian yang tidak terbantahkan, sehingga mengurangi/menghilangkan potensi ketidakpuasan dengan hasil pemilu. Selain itu, teknologi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal lain seperti hak kepemilikan lahan (sertifikat tanah).

Bagaimana blockchain diaplikasikan dalam proses pemilihan umum di negara-negara berkembang? Bagaimana mekanismenya?

Di dalam sebuah negara yang geografisnya sangat luas dan rapuh dari sisi pengawasan, memilih kandidat/partai politik menggunakan kertas adalah suatu hal yang normal. Dalam kasus Indonesia, 192 juta pemilih mencoblos dengan menggunakan kertas suara yang tersebar di lebih dari 800 ribu TPS.

Kotak suara yang sudah dikosongkan lalu dihitung bersama petugas KPPS bersama para saksi di TPS. Hasilnya lalu dituangkan ke dalam form C1. SettleMint memprakarsai konsep "Democracy Anchored", yaitu dengan "melabuhkan" data C1 dalam bentuk foto ke jaringan blockchain.  Sebelumnya foto tersebut akan dicek oleh algoritma mesin yang dimoderatori oleh manusia untuk menandai apakah ada tanda-tanda bahwa kertas suara tersebut ada yang salah datanya. Dengan adanya jejak kriptografik pada setiap foto (disebut dengan istilah "hash") maka setiap foto bisa dipertanggungjawabkan keotentikannya.

Platform ini akan menangkap hasil perhitungan dalam setiap TPS dan menganggregasi semuanya ke lima tingkatan, yaitu kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Setiap orang bisa mengakses dan melihat secara langsung berdasarkan per TPS. Contohnya bisa diakses di Democracy Anchored.

Apakah blockchain bisa menjamin dan memverifikasi yang bahwa tidak ada salah hitung dalam proses pemilu?

Teknologi ini dapat memverifikasi dokumen atau file yang tidak diubah sejak pertama kali diunggah, apakah berdasarkan data yang diinput oleh para saksi maupun hasil foto. Sistem kami mengoleksi kedua elemen tersebut secara bersamaan. Cara ini memberikan nilai tambah yang besar sebagai bukti kalau sudah diinput, data tidak akan bisa dirusak/diubah. Sistem ini bisa melacak kembali saksi yang pertama kali menginput data pada TPS dan membuat semua orang bisa mengakses data-data hasil perhitungan suara tersebut. Kalau ada yang salah, kita bisa mengetahui siapa orang yang telah melakukan kesalahan tersebut. Dengan sistem yang terdesentralisasi seperti ini, maka semua orang didorong untuk berperan aktif mengawasi proses tersebut sehingga hasil perhitungannya lebih berintegritas. Kalau mereka tidak mau melakukannya, data tersebut juga dapat diakses oleh semua peserta pemilu. Masing-masing ketua KPPS  bisa mengumumkan hasil perhitungan di TPS nya masing-masing dengan disaksikan oleh seluruh anggota-anggotanya dengan transparan. Hasilnya merupakan perhitungan resmi yang akurat dan kredibel.

Teknologi blockchain ini juga bisa melakukan uji forensik dari foto formulir C1 yang diinput dan tidak diubah sejak data dimasukkan. Dalam studi kasus yang kami lakukan pada 100,000 TPS, sistem ini memberikan hasil dalam beberapa jam dengan hitungan yang akurasi 99,97 persen. Setiap orang bisa melakukan pengecekan terhadap bukti-bukti perhitungan suara terebut melalui website dan juga melihat foto C1 dari LINK.  Bukti tersebut dapat digunakan jika terjadi perselisihan pada perhitungan suara.

Menurut Professor Gazali, "Jika KPU menggunakan teknologi ini sebagai solusi perhitungan suara, maka Indonesia tidak akan jatuh pada perselisihan yang cukup panjang dan semi khaos seperti yang kita saksikan sekarang ini. Kita melihat bahwa jumlah petugas KPPS yang meninggal yang cukup besar, ditambah dengan kesalahan perhitungan dan rekapitulasi pada sistem KPU berdasarkan pengawasan Bawaslu. Dengan menggunakan blockchain pada skala besar, kita bisa menjamin bahwa perhitungan hasil suara bisa dirilis hasilnya dalam waktu 6-12 jam sejak TPS ditutup, dan mencegah tensi politik serta pemalsuan hasil perhitungan.

Apa perbedaan antara menggunakan blockchain dibandingkan dengan teknologi lain dalam hal pemilu?

Teknologi SettleMint bukanlah bertujuan untuk menunjukkan bahwa perhitungan manual dengan kertas suara merupakan sesuatu yang usang dalam pemilu. Kami bukan ingin mengganti perhitungan yang menggunakan kertas suara, namun justru ingin melengkapi apa yang selama ini sudah berlangsung. Di berbagai negara seperti Indonesia, LSM sangat aktif untuk menghitung hasil pemilu secara transparan. Mereka terus memantau perhitungan melalui sumber-sumber perwakilan di masing-masing TPS dan mengaggregasikannya ke tingkat nasional. Dalam setiap TPS, ada KPPS yang menghitung berdasarkan kertas suara, lalu mereka menyetujui hasilnya, mereka mencatumkan dalam form C1. Form tersebut lalu ditandatangani, difoto dan diunggah di WhatsApp dan media sosial.

Secara teknis, membuat database berdasarkan foto C1 bukanlah persoalan. Masalah yang timbul dalam pekerjaan "gotong royong" ini adalah spam. Mereka dibombardir dengan foto-foto palsu yang merusak kredibilitas. Mereka tidak bisa membuktikan bahwa foto-foto tersebut tidak diubah setelah mereka menginput ke database.

Jadi, walaupun hasil kerja perhitungan suara tersebut bisa dilakukan oleh mereka yang menjadi relawan, tetap tidak dapat diketahui berapa hasilnya secara akurat karena adanya potensi perubahan seperti ini. SettleMint, yang diundang oleh Profesor Effendi Gazali,  hadir untuk menyelesaikan persoalan kredibilitas hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan blockchain. Teknologi ini bisa memberikan bukti otentik yang mengkonfirmasikan hasil foto C1 secara cepat setelah perhitungan, sebagaimana bukti yang tidak terbantahkan bahwa foto C1 tidak diubah sejak pertama kali diunggah di database blockchain. Secara ringkas, blockchain menawarkan kecepatan dan transparansi.

Bagaimana blockchain bisa mendukung pertumbuhan ekonomi?

Secara umum, blockchain menyediakan lapis transaksi  untuk keamanan yang sebelumnya tidak ada. Baik transaksi keuangan (seperti pembayaran, pemesanan, pertukaran barang) atau non finansial (pemilihan umum, identitas digital, dokumen). Blokchain menciptakan berlapis-lapis keamanan untuk menjamin bahwa hanya pemilik sah yang bisa menggunakan aset tersebut untuk bertransaksi.

Contoh kasus, innklusi keuangan yang menyediakan cara efektif untuk memberikan akses kepada sistem keuangan formal sebagai hak setiap warga negara. Kemudian, sertifikasi tanah - menyediakan bukti yang kuat dan tidak bisa terbantahkan secara legal mengenai kepemilikan tanah sebagai landasan dasar pembangunan ekonomi. Hal ini terdokumentasi dengan baik di literatur Ekonomi. Blockchain menyediakan rekam kepemilikan yang bersifat permanen dan karena itulah bisa menjadi solusi terhadap dasar pembangunan ekonomi. Contoh lainnya terkait identitas, dengan  blockchain bisa membuktikan kepemilikan seseorang merupakan kunci dari pembangunan ekonomi. Jika saya tidak bisa membuktikan identitas saya, maka saya tidak bisa membuka akun bank saya. Dan saya harus berjuang untuk mencari pekerjaan, akan diabaikan oleh negara dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar dan pendidikan.

Editor: Tokohkita

TERKAIT