Adji Kurniawan

Bekali Pula Ilmu Pendakian Kalau Anak Ingin Mendaki Gunung

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Gaya Hidup /
  4. Rabu, 6 Maret 2019 - 10:27 WIB

Mendaki gunung/Travelplus
Mendaki gunung
Foto: Travelplus

Tragedi tiga remaja belasan tahun asal Indramayu yang tewas di Gunung Tampomas, Sumedang, Jawa Barat baru-baru ini, membuktikan masih banyak pendaki pemula yang tidak dibekali ilmu pendakian saat mendaki gunung

TOKOHKITA. Padahal mendaki gunung tak cukup bermodal ransel, logistik dan atau sekadar rame-rame ikut open trip pendakian.Masih banyak yang perlu diindahkan agar tak mengalami petaka apalagi sampai merenggut nyawa.

Pertama kesiapan fisik. Pendaki pemula yang berusia belasan dan dua puluh tahun-an, tentu staminanya sedang dalam kondisi kuat-kuatnya dibanding pendaki senja yang sudah berkepala 40 tahun ke atas. Kendati masih muda belia, tetap saja fisik harus dipersiapkan. Misalnya dengan jogging atau lari rutin minimal seminggu 2 kali.

Medan jogging-nya pun harus variatif, jangan datar semua tapi diselingi track yang berbukit-bukit, menanjak dan menurun. Mental pun harus ditanamkan sejak awal. Harus diingatkan mendaki gunung itu bukan seperti berkemah di bumi perkemahan, apalagi seperti di ruang tamu/kamar di rumah untuk bersantai-santai.

Atmosfir di gunung jelas amat berbeda. Oleh karena itu, mental harus benar-benar sudah siap dan ikhlas menerima untuk  keluar dari zona aman dan nyaman. Kalau masih bermental manja inginnya bermalas-malasan, ngemil sambil nonton TV, tidur berlama-lama, ya sudah lebih baik di rumah saja.

Cuaca dingin menikam belum lagi ditambah hujan bahkan mungkin badai bisa terjadi sewaktu-waktu saat pendakian, dan itu harus dipahami pendaki pemula agar tidak kaget.

Solusinya, bawa perlengkapan yang memadai seperti ponco/jas hujan (lebih praktis dari pada payung), beberapa kaos/celana ganti yang kering/hangat buat istirahat/tidur, sweater, raincoat, sleeping bag, sarung, balaklava/penutup kepala, handscoot/sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu mendaki yang nyaman, gaiters/penutup sepatu/kaki, senter, matras, dan obat-obatan pribadi dan P3K standar).

Selain itu tentu saja tenda, perlengkapan masak/makan yang praktis, air minum yang cukup, dan logistik/bahan makanan yang ramah lingkungan, artinya yang mengurangi penggunaan kantung/kemasan plastik. Kalau pakaian yang dikenakan basah karena hujan atau keringat, segera ganti dengan yang kering.

Jangan sekali-kali tidur dengan memakai baju basah/lembab, sebab bukan saja bisa masuk angin pun terserang hipotermia sebagaimana dugaan sementara yang mengakibatkan tiga pendaki muda asal Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat yakni Ferdi Firmansyah (13), Lucky Parikesit (13), dan Agip Trisakti (15) meninggal dunia di Gunung Tampomas yang berketinggian 1.684 Mdpl, dan jenazah ketiganya ditemukan tim Basarnas Jawa Barat pada Minggu (3/3/2019).

Biasanya pendaki yang terserang hipotermia bisa dilihat gejalanya mulai dari pusing, menggigil, sampai berhalusinasi seperti orang kesurupan. Untuk menjaga fisik tetap prima, sebaiknya saat pendakian, makan dan minumlah seperti coklat dan wedang jahe agar tetap bertenaga dan tak mudah mengalami penurunan suhu badan.

Hindari istirahat atau nge-camp (mendirikan tenda) di tempat basah, terbuka dan terlalu berangin. Selain karena tekanan suhu dingin, hipotermia juga bisa terjadi karena kelelahan fisik yang disebabkan oleh keadaan alam atau lingkungan.

Oleh karena itu kenali kemampuan fisik. Kalau lelah sebaiknya istirahat sejenak. Jangan langsung memacu langkah terlalu cepat/terburu-buru (ngebut) diawal-awal pendakian, sebab fisik bisa kaget. Sebaiknya atur ritme langkah secara bertahap agar fisik bisa beradaptasi.

Tak kalah penting, biasakan berdoa sebelum memulai pendakian, saat beristirahat, dan ketika menemui rintangan alam/cuaca serta tetap tunaikan shalat wajib 5 waktu di manapun. Tak lupa jaga mulut, sikap, dan tingkah laku serta patuhi aturan tak tertulis yang berlaku di gunung tersebut.

Naskah & foto: Adji Kurniawan-Travelplus

Editor: Tokohkita

TERKAIT