Idris Sandiya

Sosok Enthusiastic Entrepreneur yang Menyiapkan Ladang Pengabdian

  1. Beranda /
  2. Parlemen Kita /
  3. Rabu, 27 Februari 2019 - 07:18 WIB

Idris Sandiya /Dokumen pribadi
Idris Sandiya
Foto: Dokumen pribadi

Idris ingin mendorong sikap-sikap positif pada anak muda agar lebih percaya diri, memiliki jaringan yang kuat, dan punya semangat berbagi. Anak muda yang mandiri adalah akar kemandirian negeri.

Siapa Idris Sandiya?

Idris Sandiya adalah enthusiastic entrepreneur, seorang profesional dengan antusiasme wirausaha yang dipupuk sedari muda, sampai akhirnya menjadi pengusaha nasional dengan jaringan internasional.

Ia lahir 17 Oktober 1969 di Jakarta dari keluarga sederhana. SD, SMP, dan SMA ditempuhnya berpindah-pindah dari Bandung, Tasikmalaya, hingga Bogor. Selanjutnya kembali ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila pada 1988, kemudian menambah ilmu lagi di Fakultas Hukum. 

Masa Kecil dan Perjuangan hidupnya

Idris dibesarkan oleh kakeknya, Ahmad Sanusi, salah seorang pendiri Yayasan Islamic Center Al-Ihya di Kuningan, Jawa Barat, yang bergerak di bidang pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi. Almarhum kakeknya adalah tentara pejuang seangkatan dengan Umar Wirahadikusumah (Wakil Presiden RI 1983-1988) dan Achmad Tirtosudiro (pendiri HMI dan ICMI).

Di kala teman-teman sebayanya fokus belajar dan bersenang-senang di waktu luang, Idris selangkah lebih dulu menghadapi arti kata bertanggung-jawab terhadap masa depan sendiri. Sejak mahasiswa tingkat tiga, ia sudah bekerja untuk membiayai kuliahnya.

Berjuang dari Bawah

Dari sekadar karyawan dengan gaji pas-pasan dan naik-turun angkutan umum, sampai akhirnya menjabat vice president marketing, bahkan dipercaya sebagai managing director perusahaan multinasional. Ia pun pernah menjadi chief representative untuk sebuah perusahaan katering, perhotelan, dan logistik maskapai penerbangan independen terbesar di dunia yang bermarkas di Swiss.

Sekarang Idris Sandiya mengibarkan bendera perusahaannya sendiri, PT Sandiya Investama, yang mengelola beberapa bidang usaha.  Sukses tidak dibangun di atas sukses; sukses dibangun di atas kegagalan, kekecewaan, frustasi, dan penolakan. Nana korobi ya oki, kata orang Jepang, yang artinya “Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali” adalah pepatah favorit suami dari Dewi Sandiya ini.

Idris mengalami jatuh bangun yang tak terhitung. Bekerja sampai tengah malam itu biasa. Baru saja menikah, harus kehilangan pekerjaan. Pernah tidak bisa mengeluarkan anak dari rumah sakit karena tak punya uang. Pahit. “Panjang sekali kalau mau diceritakan, mungkin satu saat kelak,” kata ayah dua putri ini.

Semangat wirausaha Idris Sandiya telah menjadi mata air kehidupan bagi banyak orang. Pecinta motor gede ini aktif di Harley Owner Group (HOG) dan sekarang didapuk sebagai Pembina di perkumpulan tersebut. Idris juga menyalurkan hobi dan jiwa sosialnya lewat Ikatan Motor Indonesia di mana ia dipercaya menjadi salah seorang pengurus (Ketua Komisi Wisata-Touring IMI 2016-2020).

Arti Perjuangan Hidup

Dalam berbagai kesempatan ngobrol-ngobrol, Idris Sandiya selalu mengatakan: “Sukses adalah buah fokus, ketekunan, dan menjaga kepercayaan. Berbuat baik itu wajib. Kalau orang tak membalas, biarlah Allah SWT yang memberi ganjaran. Mulailah dengan Bismillahirrahmannirrahim saja.” Ini pedoman hidupnya yang lain, yang lahir dari padang pasir pengalaman dan pertemanan dengan berbagai kalangan.

Kini Idris Sandiya, enthusiastic entrepreneur yang sudah selesai dengan ambisi-ambisi pribadinya, dihadapkan pada ladang pengabdian baru yang menantang. Tanpa pernah ia rencanakan, dirinya dipercaya sebagai Caleg DPR RI dari PAN Nomor Urut 1 Daerah Pemilihan Kota Depok dan Kota Bekasi. “Itu seperti rencana dari langit,” akunya.

Apa yang akan dilakukan?

Idris menaruh minat pada perbaikan tata kelola keuangan negara yang menciptakan efisiensi anggaran, yang akan berdampak pada pelayanan publik yang lebih maksimal, tersedianya lapangan kerja dan isu-isu penegakan hukum serta keadilan dalam masyarakat.

Di samping itu, Idris ingin mendorong sikap-sikap positif pada anak muda agar lebih percaya diri, memiliki jaringan yang kuat, dan punya semangat berbagi. Anak muda yang mandiri adalah akar kemandirian negeri. Indonesia perlu sebanyak mungkin wirausaha. Negara maju rata-rata memiliki 14 persen entrepreneur, sementara di Indonesia jumlahnya baru tiga persen saja.

Dulu, 20-30 tahun silam, isu utama adalah kesenjangan teknologi. Afrika Selatan bahkan belum tahu apa itu internet. Sekarang, basis teknologi kurang lebih sama. Satu-satunya kesenjangan penting yang membedakan satu negara dengan negara lainnya adalah motivasi. Spirit optimisme itulah yang ingin ditebarkan Idris Sandiya.

"Sebagai profesional, saya terbiasa menjaga kepercayaan. Kalau bisa kembali ke waktu lampau, saya ingin memperkecil kesalahan-kesalahan di masa muda dan lebih banyak berbuat. Karena waktu sudah tidak bisa dimundurkan, maka saya ingin lebih banyak berbuat dan bermanfaat.”

https://www.facebook.com/H.IdrisSandiya/

https://twitter.com/IdrisSandiya?s=08

https://instagram.com/idrissandiya?utm_source=ig_profile_share&igshid=1ota2yxqh0464

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER