Muhammad E Fuady

Annemarie Schimmel, Sang Dewi Welas Asih

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Minggu, 10 Februari 2019 - 00:28 WIB

Muhammad E Fuady/Dokumen pribadi
Muhammad E Fuady
Foto: Dokumen pribadi

Dewi Kwan Im adalah manusia yang mencapai pencerahan. Dalam agama Budha, manusia dapat mencapai kesadaran tertinggi (bodisatwa), seperti Siddharta Gautama, menjadi Budha.

Di Manggar Belitung, berdiri patung Dewi Kwan Im yang welas asih dan penolong. Tingginya sekitar 12 meter. Bagi nonbudha, Tao, konfusionis, Dewi Kwan Im sering kita lihat dalam berbagai serial mandarin. Dalam "White Snake Legend", ia adalah penolong Pai Su Chen, Siluman Ular Putih, mencapai hingga dapat berkumpul kembali demgan keluarganya. Dalam "Journey To The West", ia pula yang menolong Sun Go Kong unruk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dewi Kwan Im adalah manusia yang mencapai pencerahan. Dalam agama Budha, manusia dapat mencapai kesadaran tertinggi (bodisatwa), seperti Siddharta Gautama, menjadi Budha.

Dalam literatur dan khazanah keslaman, pencerahan dapat dicapai dengan riyadhoh (tasawuf). Annemarie Schimmel (2000) mengungkapkan dengan tasawuf, seni dalam beribadah, manusia akan mencapai makrifat, kasyf, tersingkap, tak ada yang lain selain Allah. Insan kamil ini selalu merasakan kenikmatan dirinya penuh oleh cinta, cahaya, hubungan dengan kekasihnya, Allah SWT dan Muhammad.

Usai membaca tulisan indah Annemarie Schimmel tentang sufisme dan lainnya, selalu terbersit dalam hati dan benak, "Mengapa ia tak bersyahadat saja. Andai menjadi seorang muslim, rasanya itu lebih indah lagi baginya. Hidayah memang urusan Allah".

Mantan Presidien Jerman, Roman Herzog, dalam peringatan wafatnya Annemarie Schimmel menyatakan, “Jika tidak ada Annemarie Schimmel, bangsa Jerman tidak akan pernah memahami Islam yang sebenarnya.”

Annemarie Schimmel, seorang nonmuslim, adalah sosok hidup dari Dewi Kwan Im, seorang akademisi welas asih, penolong Islam saat media mencibir, yang mencintai Muhammad, dan mencerahkan kita melalui karyanya.

Annemarie meminta dibacakan Al-Fatihah saat dikebumikan. Di nisannya tertera sitiran dari sayyidina Ali RA, "Sesungguhnya manusia itu tertidur, dan ketika mati dia baru terbangun"

*Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba)

Editor: Tokohkita

TERKAIT