Revitalisasi Sungai Citarum, Pemerintah Jawa Barat Gandeng Monash University

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. EDUKASI /
  4. Kamis, 22 Juli 2021 - 17:01 WIB

Ridwan Kamil/Istimewa
Ridwan Kamil
Foto: Istimewa

Sebelum pandemi, Ridwan Kamil sempat melakukan kunjungan ke Monash University di Melbourne, yang di antaranya mencakup pembahasan mengenai konsep co-design dan menguji pendekatan-pendekatan sosial, teknologi, dan ekonomi yang baru di sebuah desa di dekat Citarum.

TOKOHKITA. Pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Monash University mengumumkan kerja sama kemitraan melalui penandatanganan MoU dalam upaya pengembangan solusi baru untuk restorasi sungai Citarum, yang dikenal sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia. 

Kemitraan ini merupakan bentuk kerja sama antara Monash University dengan para pakar dan lembaga pemerintah Indonesia dalam upaya pertukaran ilmu dan data, serta bentuk kerja sama kedua pihak dalam memberikan solusi lewat inovasi teknologi dan sosial untuk revitalisasi sungai Citarum dan komunitas sekitarnya.  

Deputy Vice-Chancellor dan Vice-President (Global Engagement) Monash University, Abid Khan menyampaikan antusiasmenya terhadap program ini: “Kerja sama ini diharapkan dapat menghadirkan perubahan nyata bagi jutaan orang yang hidupnya bergantung pada air sungai yang sudah tercemar. Pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa akses air bersih dan kondisi lingkungan sekitar sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat”.

Lebih lanjut Abid Khan mengatakan rekam jejak penelitian lintas disiplin Monash dalam transformasi sosial dan lingkungan, yang didukung dengan komitmen pemerintah Indonesia dan mitra akademik memungkinkan diharapkan mampu mengatasi tantangan pembangunan berkelanjutan yang signifikan. “Secara kolektif, kita mampu mengembangkan solusi inovatif yang dapat membawa jutaan orang untuk hidup lebih sehat, aman, dan produktif,” tambahnya. 

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menandatangani nota komitmen kerja sama mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengatakan, “Kolaborasi dengan Monash University merupakan salah satu bentuk kerja sama strategis yang kami lakukan dalam mempercepat pengendalian pencemaran dan kerusakan di DAS Citarum, sejalan dengan PP No. 15/2018.” 

Ridwan memaparkan bahwa kolaborasi ini juga merupakan bukti sinergi pentahelix (pemerintah, akademisi, komunitas, media, dan industri) yang dilakukan dengan berbagai kampus termasuk Monash University. “Kami sangat senang dengan partisipasi Monash University dalam perumusan konsep revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik yang akan menjadi etalase keberhasilan pengendalian kerusakan dan polusi DAS Citarum,” katanya.  

Lebih jauh, Ridwan berharap kolaborasi ini juga bisa berkembang untuk lebih luas lagi. “Pada periode kepemimpinan saya sebagai Gubernur dan Komandan Satgas pengendalian kerusakan dan pencemaran DAS Citarum, kami memiliki program bernama ‘Citarum Harum’. Adapun program ini diharapkan dapat mewujudkan DAS Citarum yang bersih dengan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya kebersihan DAS, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sebelumnya Pemprov Jabar bersama Universitas Indonesia (UI) telah menjadi kolaborator aktif dengan Monash University selama beberapa tahun terakhir dalam aspek pengelolaan sumber daya air perkotaan. Pada tahun 2018, Monash University dan UI turut diundang menyumbangkan solusi inovatif baru demi mendukung program Citarum Harum – sebagai program revitalisasi berkelanjutan.

Sebelum pandemi, Ridwan Kamil sempat melakukan kunjungan ke Monash University di Melbourne, yang di antaranya mencakup pembahasan mengenai konsep co-design dan menguji pendekatan-pendekatan sosial, teknologi, dan ekonomi yang baru di sebuah desa di dekat Citarum.

Direktur Informal Cities Lab, Fakultas Desain Seni dan Arsitektur Monash University, Diego Ramirez-Lovering yang turut memimpin bersama Program Citarum menjelaskan, “Tujuan kami adalah menggunakan desain perkotaan sebagai platform integratif untuk penanaman solusi berkelanjutan demi perkembangan aspek urban yang sejalan dengan modernisasi dinamika kesehatan planet secara kompleks.” 

“Pendekatan menyeluruh yang mengutamakan kualitas lingkungan dan kesehatan ekologis untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat merupakan hal yang penting. Terutama bagi mereka yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan degradasi lingkungan,” tutupnya. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat akan menjadi mitra pelaksana utama selama 12 bulan ke depan dalam kerja sama kemitraan ini. Kepala DLH Jabar, Prima Mayaningtyas menambahkan, “Kami berkomitmen mendukung penuh kerja sama antara Monash University dan Pemprov Jabar, serta para pemangku kepentingan lain seperti Pemerintah Pusat dan UI, dalam kolaborasi pentahelix ini. Ke depannya, kami mendorong lebih banyak lagi pemerintah kota, swasta, dan masyarakat setempat untuk ambil bagian dalam revitalisasi sungai Citarum. Harapan kami, kerja sama ini dapat menjadi panutan bagi program revitalisasi sungai lainnya di Indonesia.” 

Ketua Tim Sosial Klaster Air UI, Reni Suwarso mengatakan bahwa penanganan kesehatan sungai membutuhkan komitmen lintas sektor demi mencapai manfaat yang maksimal. “Kemampuan untuk mengakses dan mendapatkan manfaat dari air yang aman dan andal memiliki kontribusi signifikan bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia, ekonomi, serta lingkungan,” kata Reni. 

Sementara Ketua Tim Riset Teknik Citarum UI, Dwinanti Rika Marthanty mengatakan, “Kami berfokus pada penelitian yang dapat memberikan dampak berupa perubahan yang berarti, transformatif, serta berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar area sungai.” 

Sejak 2018, para peneliti di enam fakultas Monash University telah bermitra dengan perguruan tinggi dunia dan Indonesia, serta institut-institut global lainnya untuk sejumlah program penelitian yang berfokus kepada Citarum (Monash Sustainable Development Institute; Art, Design and Architecture; Arts; Business and Economics; Engineering and Science)

Beragam program penelitian mencakup pemodelan rekayasa banjir, peningkatan kapasitas kebijakan revitalisasi, inovasi sosial dan infrastruktur untuk meningkatkan layanan air dan limbah, transisi ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, dan lainnya.  Upaya penelitian transdisipliner ini akan memberikan bukti baru untuk restorasi sungai dan transisi komunitas sekitar sungai menuju ekonomi sirkular dan restoratif, membuka jalan untuk mengubah daerah aliran sungai di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara beberapa dekade mendatang. 

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER