Indonesia Butuh Generasi Cerdas Iklim

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. LINGKUNGAN /
  4. Selasa, 1 Desember 2020 - 13:15 WIB

Di tengah fokus pada penanganan pandemi COVID-19, kita harus juga tetap menaruh perhatian besar pada ancaman perubahan iklim.

TOKOHKITA. Saat ini Indonesia butuh generasi muda yang cerdas iklim agar mereka dapat menjadi aktor utama upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Hal ini penting karena generasi muda sekarang yang akan paling merasakan dampak jika perubahan iklim makin menjadi kenyataan di masa depan.

Jadi, generasi muda seperti mahasiswa sangat penting memahami dan memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim serta upaya-upaya mitigasi dan adaptasinya. Apalagi saat ini laju perubahan iklim terus meningkat, bukan melambat. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengatakan tanda-tanda dan dampak perubahan iklim - seperti kenaikan permukaan laut, hilangnya es, dan cuaca ekstrem - meningkat selama 2015-2019, yang ditetapkan menjadi periode lima tahun terhangat yang pernah tercatat.

Sebagai program sosialisasi dan edukasi ke generasi muda khususnya mahasiswa mengenai upaya mitigasi perubahan iklim melalui energi bersih, Yayasan Perspektif Baru (YPB) bersama Konrad Adenauer Stiftung (KAS) bekerja sama dengan FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menggelar Webinar Nasional dengan tema “Hidup Baru dengan Energi Terbarukan” pada Senin (30/11).

Hadir sebagai pembicara dalam Webinar Nasional tersebut adalah Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, dan Dosen FISIP Universitas Sebelas Maret Siti Zunariyah, S.Sos, M.Si. Tampil sebagai keynote speaker Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kini dampak perubahan iklim mulai menjadi kenyataan. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) mengatakan ketika pandemi COVID-19 mengamuk, perubahan iklim tidak berhenti mendatangkan malapetaka.

Dalam laporannya, tentang bencana global, yang dimuat di situs IFRC, menunjukkan bahwa dunia telah dilanda lebih dari 100 bencana - banyak di antaranya terkait iklim - sejak Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan pandemi COVID-19 pada Maret 2020. Lebih dari 50 juta orang terdampak. IFRC juga mengingatkan bahwa tidak ada vaksin untuk bahaya perubahan iklim.

Wimar Witoelar menyatakan bahwa pandemi ada karena tidak bijaknya orang menggunakan teknologi. Karena itu Bill Gates misalnya bisa meramalkan adanya pandemi. Jalannya pengatasan pandemi sejalan dengan pertumbuhan energi terbarukan. Menjaga resources alam itu sama dengan menjaga resources manusia. Jika dilakukan secara analitis maka tidak ada yang salah.

Energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan mencapai 442 GW. Juga memiliki sumber yang beragam seperti surya, air, angin, panas bumi, bio energi, dan gelombang samudera.

Energi terbarukan di Jawa Tengah memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan. Jateng memiliki potensi besar dalam pengembangan PLTP. Bahkan potensi daya panas bumi di seluruh area ini mencapai 5.000 MW. Saat ini, ada enam titik panas bumi yang ditangani sejumlah lokasi, seperti di Gunung Ungaran, Gunung Lawu, Baturaden, Guci, Telomoyo, dan Dieng.

PLTA di Indonesia juga memiliki potensi yang besar. PLTA Kayan di Kalimantan Utara sebagai contoh memiliki kapasitas 9.000 MW. Sedangkan PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, berkapasitas 510 MW dan akan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton per tahun atau setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap karbon.

Dadan Kusdiana mengatakan, “Tren bauran energi terbarukan Indonesia tiap tahun meningkat hingga 10.9 persen di tahun 2020. Kontribusi energi terbarukan terbesar kini didominasi oleh energi-energi terbarukan utama yaitu energi hydro/air, panas bumi, bioenergi. Yang mulai membanggakan adalah mulai muncul energi surya dan bayu.”

Realisasi penurunan GRK Sektor Energi Indonesia masih sesuai dengan target dan diperlukan upaya lebih untuk mencapai target NDC 2030. Bagaimana para mahasiswa bisa berkontribusi? Mahasiswa-mahasiswa sekarang punya kreativitas dengan ide-ide yang tidak terpikirkan oleh generasi yang lebih tua. Sekarang sudah banyak yang muncul dengan starter-starter kecil. Bisa juga dengan bisnis-bisnis skala kecil ukm dengan misalnya menggunakan teknologi biogas.

Fabby mengatakan, “PBB sudah memperingatkan krisis iklim harus ditangani secara serius. Ini disebab 70 persen pembakaran bahan bakar energi. Karena sektor energi kontributor terbesar maka implikasinya apa? Jika kita ingin mencegah peningkatan suhu bumi 2 derajat. Maka dua per tiga cadangan energi fossil tidak boleh dibakar dan harus dibiarkan di dalam tanah.”

Berbagai negara punya target yang lebih ambisius seperti China yang menyatakan akan mencapai carbon neutrality pada 2060. Padahal penggunaan energi fosil China setara 30 kali PLTU Indonesia. Pemerintah Jepang dan Korea Selatan menyusul menyatakan akan mencapai carbon neutrality. Sekarang masyarakat internasional menunggu kapan Indonesia membuat komitmen serupa.

Siti Zunariyah menyatakan, “Energi adalah variabel kunci dalam evolusi budaya. Masyarakat membutuhkan teknologi konversi energi untuk bertahan hidup dan berkembang pesat sejak revolusi industri. Sayangnya konsumsi energi bisa menyebabkan hal-hal negatif seperti pelepasan gas-gas rumah kaca.”

Faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi energi adalah cara pandang bahwa alam ini tidak terbatas. Seberapa pun diambil akan tersedia. Padahal yang tersedia di alam terbatas sedangkan yang diinginkan manusia terus berkembang. Ternyata konsumsi energi yang sangat boros berdampak pada krisis iklim.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER