Rokhmin Dahuri

Jalur Rempah Menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Rabu, 23 September 2020 - 18:40 WIB

Rokhmin Dahuri/Istimewa
Rokhmin Dahuri
Foto: Istimewa

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini, ekonomi kelautan bisa memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Atas dasar itu, untuk Indonesia bisa menggunakan jalur rempah ini untuk menjalin kejasama secara win-win dan terhormat dengan China’s OBOR Program dan negara-negara lain.

TOKOHKITA. Rempah Indonesia telah diperdagangkan sekitar 4.500 tahun silam, menempuh Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa. Jalur rempah inilah yang menjadi simpul peradaban bahari Nusantara dan warisan budaya kebanggaan Indonesia. Sebab itu, Indonesia tengah mengusulkan jalur rempah ke UNESCO sebagai world heritage, yang diharapkan disahkan pada 2024 atau 2025.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020-2024 dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR) 2020 yang diselenggarakan Yayasan Negeri Rempah dan Maritim Muda Nusantara dalam rangka  peringatan Hari Maritim Nasional di Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini, ekonomi kelautan bisa memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Atas dasar itu, untuk Indonesia bisa menggunakan jalur rempah ini untuk menjalin kejasama secara win-win dan terhormat dengan China’s OBOR Program dan negara-negara lain. 

Tujuannya, untuk memperkuat dan mengembangkan industri dan ekonomi kelautan nasional melalui investasi, bisnis, transfer teknologi dan etos kerja bagi kepentingan nasional Indonesia. "Gunakan Jalur Rempah untuk memperkuat kapasitas dan power diplomasi Indonesia di tingkat global," jelas Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB ini.

Di sisi lain, kejayaan jalur rempah di masa silam ini ingin kembali dicapai dengan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Presiden Jokowi dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar, telah mendeklarasikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Yang terang, Rokhmin bilang, untuk jalur rempah sebagai platform untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim tidak akan tewujud jika negara kita masih tertinggal dari negara lain, pertumbuhan ekonomi yang rendah karena masih banyak penduduk miskin, angka pengangguran tinggi, dan penguasaan teknologi yang rendah. Padahal, potensi ekonomi kelautan bisa memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional jika diserahkan kepada ahlinya. 

Dalam pandangang Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini, strategi yang harus dijalankan untuk mengembangkan ekonomi maritim agar cita cita sebagai poros maritim dunia adalah dengan revitalisasi seluruh sektor dan bisnis ekonomi kelautan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing, inklusivitas, dan keberlanjutannya.

Selanjutnya, pengembangan sektor-sektor dan bisnis ekonomi kelautan di sepanjang ALKI, wilayah pesisir dan pulau kecil di luar Jawa, dan wilayah terdepan (beranda) NKRI berbasis Kawasan Industri Maritim Terpadu untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan pemerataan pembangunan serta kesejahteraan di seluruh wilayah NKRI. Adapun pengembangan sektor-sektor dan bisnis ekonomi kelautan baru mencakup: industri bioteknologi kelautan, offshore aquaculture, deep sea and ocean going fisheries, ocean energy, dan deep sea mining.

 "Secara potensi, sektor ekonomi kelautan bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Sekali lagi, kalau diserahkan pada ahlinya, bukan yang hanya obral janji," jelasnya. Ia mencontohkan dengan membuka usaha tambak udang vaname seluas 100 ribu hektare per tahun saja dapat menyumbangkan 2 persen pertumbuhan ekonomi per tahun. "Jadi kalau Pak Jokowi enggak ingin repot, sebetulnya waktu lima tahun lalu (pertumbuhan ekonomi) 5 persen, dengan membuka tambak udang saja untuk 7 persen (pertumbuhan ekonomi) dengan sangat mudah digapai. Bukan untuk tenggelam dan moratorium dulu," katanya.

Rokhmin menjelaskan sejumlah alasan mengapa ekonomi kelautan atau kemaritiman bisa jadi penolong bangsa untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Indonesia disebutnya memiliki potensi ekonomi kelautan yang besar lantaran 75 persen wilayahnya berupa laut. Potensi ekonomi tersebut senilai 1,4 triliun dolar AS per tahun atau lima kali APBN 2020 dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi 45 juta penduduk.

Rokhmin mengatakan sebagian besar pembangunan dan bisnis ekonomi kelautan berlangsung di pesisir, wilayah terpencil dan luar Jawa. Hal itu akan dapat mengurangi disparitas pembangunan antarwilayah yang jadi penghambat kemajuan Indonesia.

Indonesia juga memiliki potensi produksi perikanan lestasi sebesar 115,63 juta ton dan baru dimanfaatkan sekitar 20 persennya saja. "Sebelum ada Kementerian Kelautan dan Perikanan, kita hanya ranking enam dunia produsen perikanan terbesar dunia dan sejak 2009 kita jadi produsen terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari China," katanya.

Rokhmin menuturkan perikanan budidaya yang potensinya paling besar di Indonesia, tidak hanya menghasilkan sumber protein hewani saja tetapi juga menghasilkan bahan mentah untuk industri farmasi hingga kosmetik. "Malu sekali kita penghasil teripang terbesar tapi gamat kita impor dari Malaysia. Artiny,a memang hilirisasi atau pengolahan kita lemah. Kita demen atau senang jual barang mentah," ujarnya.

Ia juga menjelaskan sektor-sektor ekonomi kelautan bisa memberi dampak ganda yang sangat besar. Di sisi lain, pengembangan ekonomi kelautan juga mampu mendorong pemerataan ekonomi guna mengatasi ketimpangan antara si miskin dan si kaya. "Pada umumnya orang Indonesia itu bisa melakukan usaha ekonomi kelautan, terutama perikanan tangkap, budidaya, dan pengolahan. Jadi artinya rakyat kecil kalau kita latih dengan bisnis kelautan itu bisa," imbuhnya.

Rokhmin mengatakan dalam rantai pasok global, Indonesia terletak di lokasi strategis di mana 45 persen total perdagangan barang dunia dengan nilai rata-rata 15 triliun dolar AS per tahun dikapalkan melalui laut Indonesia. "Tapi kita jadi pembeli dan konsumen, bukan produsen atau penjual dari rantai global itu. Ini harus dikonversi dari kemaritiman dan yang terkait. Bukan hanya kumpulkan sampah plastik tapi ekonominya tidak dijalankan," katanya.

Pada akhirnya, jika sektor ekonomi kelautan didayagunakan dan dikelola dengan basis inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta manajemen yang benar dan berakhlak mulia, sektor kelautan akan jadi keunggulan komparatif Indonesia. Ekonomi kelautan akan menjadi keunggulan kompetitif yang mengantarkan Indonesia menjadi poros maritim dunia pada 2045.

 

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER