Fahri Hamzah

Penolakan Ekspor Lobster Untungkan Penyelundup

  1. Beranda /
  2. Parlemen Kita /
  3. Minggu, 5 Juli 2020 - 21:00 WIB

Fahri Hamzah/Istimewa
Fahri Hamzah
Foto: Istimewa

"Bisnis Lobster ini adalah bisnis nelayan pesisir yang hidup dari laut. Mereka ingin tangkapan mereka dibeli secara legal. Tidak seperti selama ini dibeli penyelundup. Nanti mereka dikorbankan. Padahal itu hidup mereka sehari-hari," ujar Fahri.

TOKOHKITA. Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, menyesalkan pihak-pihak yang menentang pencabutan larangan penangkapan dan ekspor lobster. Sebab aturan ini, diakui Fahri, menjadi antitesis dari penyelundupan.

"Justru kalau ekspor terbuka, penyelundupan hilang. Logikanya ngapain nyelundup kalau jalur legal lebih jelas. Menurut saya justru penolakan ekspor menguntungkan penyelundup dengan permainan terbatas dan menyogok sepanjang jalan," kata Fahri di akun Twitter pribadinya, Minggu (5/7).

Fahri menjelaskan, pembukaan ekspor lobster seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 12/2020, selain menguntungkan negara dari segi devisa, secara luas juga menyelamatkan kehidupan nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari lobster. 

"Bisnis Lobster ini adalah bisnis nelayan pesisir yang hidup dari laut. Mereka ingin tangkapan mereka dibeli secara legal. Tidak seperti selama ini dibeli penyelundup. Nanti mereka dikorbankan. Padahal itu hidup mereka sehari-hari," ujar Fahri. 

Karena itu, dia mendukung kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menganulir pelarangan penangkapan lobster, baik untuk keperluan budidaya maupun ekspor. "Kebijakan yang baik harus diambil. Pengusaha harus didorong hidupkan sektor swasta. Negara enggak kuat jika penopangnya tidak banyak. Saya terima kasih disorot media, semoga jadi sebab bisa mendapat mitra dalam usaha," selorohnya. 

Seperti diketahui, Fahri menjadi sorotan dalam berita Majalah Tempo berjudul "Musim Kenduri Berburu Bayi". Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia itu disebut mulai bermain di bisnis lobster menjadi pemodal di satu dari 30 perusahaan yang telah ditetapkan sebagai eksportir benih lobster, PT Nusa Tenggara Budidaya. 

Dia tidak menampik hal itu. Menurut dia, kampung halamannya Nusa Tenggara Barat sengaja dipilih agar berdampak positif terhadap pembangunan di daerahnya. "Dulu saya mendorong pembangunan pakai dana negara (APBN) sekarang saya dorong pembangunan pakai dana swasta apa salahnya?" ujarnya mempertanyakan.

Fahri mengakui, bukan anak kemarin sore di bisnis Lobster karena dia adalah orang pesisir. Keluarganya juga keluarga nelayan dan petambak ikan serta udang. "Lobster bukan dunia baru. Saya paham peta," tegasnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER