Johan J Anwari

Sumpah Pemuda dalam Generasi Milenial

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Selasa, 29 Oktober 2019 - 19:08 WIB

Tawarkan konsep perubahan yang lebih baik. Dobrak segala hal yang tidak memberikan peluang bagi terjadinya perubahan. Berikan satu visi yang memiliki lompatan besar terhadap kemajuan bangsa ini. Bukan sebaliknya pemuda menjadi benalu dan virus yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa.

Kaum muda sekarang ini dikenal dengan generasi milenial. Ya, generasi yang akrab dengan   penggunaan teknologi komunikasi, media, dan teknologi digital. Pada tahun 2012, seperti dikutip livescience.com dari USA Today, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa generasi milenial lebih terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli untuk membantu sesama.

Generasi ini bila dilihat dari sisi negatifnya, merupakan pribadi yang pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Akan tetapi, di sisi lain mereka memiliki sisi positif. Antara lain adalah generasi milenial merupakan pribadi yang pikirannya terbuka, pendukung kesetaraan hak. Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaannya, pribadi liberal, optimistis, dan menerima ide-ide dan cara-cara hidup.

Begitulah gambaran generasi muda sekarang ini, sangat berbeda dengan zaman dahulu. Lahir Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi tonggak sejarah perjuangan pemuda Indonesia dalam peran sertanya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Jika kita lihat secara filosofis makna dari Sumpah Pemuda adalah persatuan dan kesatuan untuk bangsa dan negara.

Dasar pikiran itulah yang mendorong tokoh-tokoh pemuda pada zaman itu bersatu untuk merebut kemerdekaan dengan melakukan ikrar suci atas nama Sumpah Pemuda. Dalam masa sekarang ini semangat Sumpah Pemuda dimplementasikan dalam bentuk dan cara yang berbeda dengan zaman ketika Sumpah Pemuda itu lahir. Meskipun berbeda zaman namun makna perjuangan menurut beberapa orang tidaklah berubah.

Yang mungkin berbeda hanya situasi dan kondisinya saja. Sebab itu pulalah strategi perjuangan perlu disesuaikan dengan kebutuhan.  Sumpah Pemuda mengajarkan kita untuk cinta tanah air, maka generasi muda saat ini harus bangga dan berusaha untuk terus berkarya demi kemajuan bangsa ini. Salah satu contoh sikap yang mencerminkanya adalah bangga dan menggunakan hasil produk dalam negeri.

Sumpah Pemuda menegaskan akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa dengan mejauhkan segala perselisihan dan  perbedaan antar bangsa. Berbeda pilihan dalam segala hal termasuk pilihan politik tidak menjadikan harus terpecah belah. Semangat persatuan dan kesatuan harus terus ditanamkan dan diutamakan dalam diri generasi muda sekarang ini. Bersatulah untuk membangun negeri. Hindari perpecahan bangsa.

Dengan keunggulan yang dimiliki oleh generasi milenial hendaknya dapat digunakan sebagai modal pembangunan negara ini. Jadilah pemuda yang membawa pembaharuan bagi lingkungannya. Posisikan diri pada pengubah, penyelesai masalah. Bukan sebaliknya, justru menjadi bagian pencipta masalah. Anda saat ini sangat ditunggu-tunggu peranannya dalam kehidupan sosial masyarakat, politik, dan ekonomi. Tawarkan konsep perubahan yang lebih baik. Dobrak segala hal yang tidak memberikan peluang bagi terjadinya perubahan. Berikan satu visi yang memiliki lompatan besar terhadap kemajuan bangsa ini. Bukan sebaliknya pemuda menjadi benalu dan virus yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa.

Adapun generasi milinial dalam tataran santri pondokan, maka seyogianya kaum pondokan ini bisa menyesuaikan dengan kondisi dan kecenderungan perkembangan zaman, dengan tetap tidak meninggalkan budaya dan tradisi lama. Sebab, prinsip santri yang sejati yaitu al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

 Artinya, generasi muda santri mampu membuka diri untuk modern dan digital. Namun semua itu harus dibekali dengan etika dan pola pikir yang benar. Nah, salah satunya tidak diperbudak alat modern, tapi menjadikan gawai, laptop, teknologi kominikasi dan inpormasi dan sejenisnya sebagai media untuk mengaji dan mengkaji lebih dalam lagi kelimuan, kemandirian, dan tentunya menjadi penjaga nilai-nilai keutuhan NKRI, sebagaimana terkandung dalam amanat Sumpah Pemuda.

 *Penulis adalah Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar), Sekretaris Umum GP Ansor Jabar dan Wakil Ketua DPD KNPI Jabar

Editor: Tokohkita

TERKAIT