Muhammad E Fuady

Ahmad Dhani, Sufisme, dan Jeruji Penjara

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Selasa, 5 Februari 2019 - 11:58 WIB

Muhammad E Fuady/Istimewa
Muhammad E Fuady
Foto: Istimewa

Dhani adalah sosok yang otentik. Apa adanya. Tak ragu berada dalam arus kontroversi dan terseret di dalamnya. Ia berani tampil berbeda atas apa yang ia yakini.

Banyak yang menilai, Ahmad Dhani adalah sosok arogan, sombong, besar kepala, seenaknya, dominan, dan superior. Berbagai atribut buruk disematkan padanya. Rasanya tak ada hal yang baik dari Dhani yang ditonjolkan media. Kurang lebih seperti itulah citra Ahmad Dhani sejak dulu, tak mengenakkan. Ia tampil dari kontroversi yang satu ke kontroversi berikutnya.

Ahmad Dhani sangat mungkin membentuk citra dirinya sebagaimana yang ingin ia tampilkan di media, boleh jadi pula medialah yang menampilkan sosok Dhani sesuai perspektif mereka. Hasilnya, dalam ingatan publik, hanya kontroversi yang tampak di sekelilingnya. The real Ahmad Dhani, yang tahu adalah orang-orang terdekatnya selama ini.

Bagi Ari Lasso, Dhani adalah sosok cerdas. Saat comback ke blantika musik tanah air, Ari Lasso pernah ungkapkan kesannya tentang Ahmad Dhani. Katanya, Dhani cerdas dalam membuat isu, menciptakan kontroversi, dan membangun opini. Pro dan kontra di sekitarnya, ia kelola dengan mahir untuk membuat Dewa tetap eksis dan menyokong pemasaran album baru.

Soal idealisme Ahmad Dhani di dunia musik, rasanya tak perlu diragukan. Bila ia musisi kacangan, lagu-lagunya tak akan diterima publik dan bertahan dalam kurun waktu  puluhan tahun. Publik pun tak akan fasih melantunkan bait demi bait lagu ciptaannya.

Karya Dhani tak melulu bicara cinta wanita dan pria. Lagunya memiliki sentuhan sufistik. Simbolisme cinta seorang salik (pencari) kepada Tuhannya. Baginya, seorang mistikus adalah pecinta. Ia tampilkan cintanya pada tasawuf dalam banyak wajah. Judul lagu seperti "Cintailah Cinta", "Laskar Cinta", "Atas Nama Cinta", "Bila Surga dan Neraka Tak Pernah Ada" dan nama tokoh sufi ternama untuk ketiga anaknya adalah ekspresi kecintaannya pada sufisme.

Sebenarnya kita tak akan bicara soal musik di sini. Kita mencoba mengenal siapa Ahmad Dhani dari sedikit testimoni orang yang cukup berpengaruh di kalangan mistik (sufi).

Siapa yang tak kenal Syaikh Hisyam Kabbani. Beliau masyhur di kalangan umat Islam sebagai seorang ulama dan syekh sufi dari Timur Tengah. Dia dikenal sebagai pendiri Tarekat Sufi Naqsyabandi-Haqqani di Amerika. Setiap Syaikh Hisyam Kabbani mengunjungi Indonesia, Ahmad Dhani selalu terlihat bersama beliau. Dalam sebuah wawancara dengan media nasional beberapa tahun silam, Syaikh Hisyam pernah menceritakan kesan atau penilaiannya tentang Ahmad Dhani. "Dia memiliki hati yang bersih", katanya.

Publik pasti terhenyak membaca statement positif seorang sufi mengenai sosok musisi yang dikenal arogan itu. Publik selama ini mengenal Dhani sebagai orang yang tampaknya tak begitu. Sebagian orang mungkin mencibir testimoni dari Syaikh Hisyam.

Sebenarnya tak ada yang mengetahui isi hati manusia. Nurcholis Madjid semasa hidup pernah menyatakan bahwa tak ada yang mengetahui lintasan hati, jin, setan, bahkan malaikat sekalipun. Hanya diri individu itu dan Tuhan yang tahu. Namun sufi dan pemimpin tarekat biasanya memiliki ketajaman, kepekaan dan kedalaman pandangan (kasyaf).

Bagi saya, pernyataan Syaikh Hisyam menyentak pikiran sekaligus membuka mata. Kita terlalu mudah menilai orang dari sajian media massa. Kita memandang seseorang sebelah mata, menilai dari tampilan luarnya, mengira bahwa yang tampak adalah kenyataan yang sebenarnya. Padahal selama ini yang membentuk citra seseorang adalah realitas yang diciptakan media.

Syaikh Hisyam Kabbani memberi pelajaran kepada kita untuk berpikir positif terhadap orang lain. Sosok yang dicibir publik sekalipun, mungkin memiliki nilai-nilai kebaikan yang sangat besar dalam dirinya. Soal isi hati hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Seperti kata Gus Dur semasa hidupnya, setiap orang memiliki potensi kebaikan.

Publik lupa bahwa sosok yang ditampilkan oleh seseorang di media belum tentu dirinya yang sebenarnya. Dhani memang bukan seorang Malamatiyah, yang menampilkan berbagai keburukan diri secara sengaja agar tenang dalam membangun hubungan dengan Khaliknya. Dhani adalah sosok yang cukup otentik, yang ingin menampilkan dirinya sebagaimana adanya. Tak dibuat-buat. Tak direkayasa. Ia tak peduli apa kata orang tentang dirinya.

Ia adalah seorang yang jujur, memberikan statement sesuai dengan apa yang dirasakannya. Ia tak normatif, dalam arti bila ia tak suka dengan sebuah hal, ia akan bicara apa adanya dan tak ragu berhadapan dengan hal yang berbeda. Dicaci pun ia tak khawatir.  

Dalam kasus Luna Maya yang berseteru dengan pekerja infotainment gegara cara mereka mencari berita misalnya, para artis dan selebritis memberikan pernyataan yang normatif, dirasakan aman, netral, atau berada di tengah kedua pihak yang berseteru. Berbeda dengan artis lain, Dhani tak ragu membela Luna Maya. Dhani berkomentar pedas mengenai cara pekerja infotainment mencari berita. "Wajar aja cara media seperti itu, yang cari berita bukan lulusan jurnalistik", katanya dengan nada sinis. Dhani memang nyinyir terhadap cara pekerja media yang mengutak atik privasi mereka yang bekerja di bidang seni dan hiburan.  

Ia pernah berseteru dengan Front Pembela Islam, namun kini ia satu barisan bersama mereka atas apa yang ia yakini. Setelah berinteraksi, ia percaya bahwa FPI betul-betul ormas mencintai NKRI, padahal mereka dulu ibarat air dan minyak. 

Dhani adalah sosok yang otentik. Apa adanya. Tak ragu berada dalam arus kontroversi dan terseret di dalamnya. Ia berani tampil berbeda atas apa yang ia yakini.  

Dhani mempercayai bahwa kritis terhadap regime adalah hal lumrah. Ia tak takut bersuara bila merasa terjadi ketidakadilan, dalam kasus penistaan agama misalnya. Ia merasa regime tak adil. Ia kini mulai menjalani hukuman akibat cuitannya tentang "meludahi penista agama". Dhani divonis bersalah atas tuduhan pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.  

Kita tak dapat menafikan, publik merasakan keresahan yang sama dengan Ahmad Dhani. Bukan karena mereka menyokong capres yang sama, melainkan rasa dan aroma ketidakadilan. Kritik bahwa regime ini tebang pilih sering dilontarkan banyak pihak. Laporan terhadap pihak yang membela petahana tak diproses, sementara pihak yang kritis selalu menjadi sasaran. 

Sabtu lalu, dalam Konser Dewa 19 feat Ari Lasso & Once Mekel Reunion Live in Malaysia, hadir Al Ghazali alias Al dan Abdul Qadir Jailani alias Dul. Mereka berdua larut dalam tangis, terutama saat lagu "Hadapi dengan Senyuman" dilantunkan. Bagi fans, Ahmad Dhani menjadi korban ketidakadilan. Bagi Al, El dan Dul, Dhani adalah ayah yang penyayang, bertanggung jawab, dan pemberani, Bagi mereka bertiga, Dhani adalah pahlawan.  

Bagi Dik Doank, jeruji penjara menjadi momen bagi Dhani untuk naik kelas. "Jeruji itu adalah goa kamu, tempat persembunyianmu dari dunia luar, seperti goa-goa para Nabi, goa Tsur, goa Ashabul Kaffi, Gua Hira", katanya. "Jangan melihat masalahnya, jangan melihat yang lain kecuali Allah", nasihat yang sangat sufistik dari Dik Doank kepada sahabatnya.

Muhammad E Fuady, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba)
*Tulisan ini telah dimuat di Republika Online

Editor: Tokohkita

TERKAIT