Di Pilkada Depok, Gerinda Pernah Mengalah untuk PKS

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Kamis, 22 Agustus 2019 - 16:38 WIB

Dulu kita (Gerindra) mengalah memberikan posisi walikota kepada pak Idris, padahal raihan kursi PKS hanya enam, Gerindra sembilan. Alasannya, karena Depok harus dinahkodai oleh sosok yang berpengalaman di pemerintahan, lantaran itu kita percayakan posisi D-1 kepada pak Idris," ungkap Jamal.

TOKOHKITA. Pasangan Walikota/Wakil Walikota Depok, Mohammad Idris dan Pradi Supriatna (Idris-Pradi) bakalan bercerai alias pecah kongsi. Sinyal akan terpisahnya pasangan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Mohammad Idris yang juga caleg terpilih dari PKS, Khairulloh Ahyari, di salah satu media lokal Kota Depok.

Secara vulgar, Khairulloh menyebut Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtara (PKS) Depok, Mohammad Hafidz Nasir, memiliki potensi besar untuk maju bersama Mohammad Idris.  Menurutnya, Idris maupun Hafidz sama-sama punya pengalaman mengelola pemerintahan, sehingga relasi keduanya ketika disatukan akan sangat mumpuni. “Jadi kalau diduetkan dengan Pak Idris, jelas ideal dan kuat. Dia (Hafidz) senior PKS sudah dua periode duduk di DPRD Depok,” jelas Khairulloh.

Saat dikonfirmasi terkait statement Khairulloh tersebut, Ketua Harian DPC Partai Gerindra Kota Depok, Jamaludin, mengaku terkejut. Pasalnya, selama ini Idris-Pradi dan juga partai pengusungnya (Gerindra dan PKS) belum pernah menyuarakan akan pecah kongsi.

"Bang Khairulloh sepertinya ngebet banget ingin memisahkan Pak Idris dan Bang Pradi. Bahkan beliau menyodorkan nama Hafidz Nasir sebagai orang yang pas untuk mendampingi Pak Idris," ujar Jamaludin, Kamis (21/8/2019).

Menurut Jamal, ucapan Khairulloh mengisyaratkan genderang 'perang' Pilkada Depok sudah mulai ditabuh. Menyikapi hal itu, Jamal pun menegaskan bahwa barisan Gerindra siap meladeni.  "Mereka duluan yang ngajak perang, dan kami tentunya sangat siap meladeni. Pecah kongsi, siapa takut... inilah saatnya memperjuangkan Bang Pradi menjadi Walikota Depok," ucap Jamal.

Mengalah
Di bagian lain, Jamal mengisahkan perjalanan politik Idris-Pradi, saat masih sebagai bakal calon hingga menjabat sebagai Walikota dan Wakil Walikota Depok.

"Dulu kita (Gerindra) mengalah memberikan posisi walikota kepada pak Idris, padahal raihan kursi PKS hanya enam, Gerindra sembilan. Alasannya, karena Depok harus dinahkodai oleh sosok yang berpengalaman di pemerintahan, lantaran itu kita percayakan posisi D-1 kepada pak Idris," ungkap Jamal.

Dia menambahkan, sejak awal menjabat hingga saat ini, partainya (Gerindra) tidak pernah merecoki atau merongrong kewibawaan pemerintahan Idris-Pradi, justru mensuport keduanya secara politik. "Ini kok jadi aneh. Di saat kami masih mengawal dan masih berjuang untuk melanjutkan, mereka malah ingin cepet-cepet berpisah. Jadi sudah sangat jelas, habis manis sepah dibuang. Mereka yang mengawali, dan mereka yang ingin mengakhiri," tukas Jamal.

Asal tahu saja, pasangan Idris Abdul Shomad dan Pradi Supriatna menang di Pilkada Depok, Jawa Barat, tahun 2015 lalu. Calon nomor dua dari PKS dan Gerindra ini mengalahkan Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi yang diusung PDIP, PAN, PKB dan NasDem. Idris Abdul Shomad adalah politikus PKS yang saat itu menjabat wakil walikota Depok. Sementera Pradi Supriatna merupakan ketua DPC Gerindra Kota Depok. Duet pasangan ini ditetapkan langsung oleh Presiden PKS saat itu Anis Matta dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Idris menggantikan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang juga kader PKS.

Editor: Tokohkita