Bakti Sosial Paguyuban Pecinta Wayang Golek Bogor Raya

  1. Beranda /
  2. Komunitas /
  3. Minggu, 14 Juli 2019 - 21:29 WIB

PWG Bogor Raya/Istimewa
PWG Bogor Raya
Foto: Istimewa

Jadilah pelopor bukan pengekor. Jangan malu berbudaya, budaya jati diri bangsa Indonesia. Kehadiran paguyuban PWG Bogor Raya harus bisa dirasakan oleh masyarakat, dan bermanfaat untuk orang banyak

TOKOHKITA.  Dalam rangka hari jadinya yang kedua tahun, Paguyuban Pecinta Wayang Golek (PWG) Bogor Raya mengadakan kegiatan bakti sosial berupa santunan anak yatim. Kegiatan tersebut, dilangsungkan di sekretariat PWG Bogor Raya, Pamoyanan Bogor Selatan, Jawa barat, Minggu (14/7/2019) .

Bakti sosial ini juga dihadiri oleh jajaran pengurus, anggota, dan keluarga besar paguyuban yang selama ini berperan aktif dalam melestarikan, menjaga, dan merawat kesenian di tatar Pasundan, khususnya wayang golek, umumnya kesenian yang ada di Jawa barat.

Ketua Umum PWG Bogor Raya Andy Djava mengatakan, sejak berdirinya paguyuban ini, pihaknya terus mendapatkan apresiasi dan respon positif dari para pelaku seni baik di Bogor dan Jawa barat. "Alhamdulillah kehadiran paguyuban sejak awal berdiri mendapatkan sambutan yang baik dan apresiasi dari para pelaku seni," ujarnya

Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB sampai dengan pukul 15.30 itu diawali dengan do'a, bersama semua jajaran pengurus, anggota dan tamu undangan yang hadir. "Alhamdulillah tidak terasa hari ini paguyuban sudah menginjak tahun kedua. Untuk santunan, jumlah anak yang disantuni tidak kurang dari 30 anak. Mudah-mudahan kita semua diberikan keberkahan dan bermanfaat buat mereka. Sebenarnya, ulang tahun PWG Bogor Raya, 3 Juni hanya saja kita mengadakannya di bulan Juli," jelas Andy.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris PWG Bogor Raya Asep Haelawi menyampaikan terima kasih kepada semua jajaran pengurus, anggota dan keluarga besar paguyuban yang sudah ikut terlibat langsung dari awal hingga terlaksana acara, juga membantu baik moril maupun materil. 

"Tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk para dermawan yang telah sudi ikut mensukseskan kegaitan bakti sosial ini. Insya Allah apa yang sudah kita berikan mendapatkan balasan dari Allah SWT," ucapnya.

Apa yang sudah kita berikan, Asep menambahkan, tentunya menjadi ladang amal buat kita semua. "Kehadiran paguyuban harus bisa dirasakan oleh masyarakat, dan bermanfaat untuk orang banyak. "Seperti apa yang disampaikan oleh pak ketum, jadilah pelopor bukan pengekor. Jangan malu berbudaya, budaya jati diri bangsa Indonesia," tukasnya.

Diakhir acara, digelar makan bersama dengan alas daun pisang atau biasa disebut "ngaliwet". "Ngaliwet seperti ini sudah menjadi tradisi di paguyuban, ini sebagai bentuk kebersamaan," pungkas Asep.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER