Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. EDUKASI /
  4. Senin, 1 Juli 2019 - 09:15 WIB

Bedah buku/Istimewa
Bedah buku
Foto: Istimewa

Buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” tergolong buku yang “menggampangkan” pembaca dari sisi bahasa, mudah dicerna dan renyah. Keunikan buku ini memiliki gaya penulisan bersifat “provokatif” yang menyajikan “tips menulis”.

TOKOHKITA. Tradisi ngomong makin ke sini makin tidak terbendung. Wajar bila hari ini, banyak orang lebih pandai bicara daripada pintar menulis. Berangkat dari realitas itulah, hari ini  dilakukan peluncuran dan bedagh buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” karya Zaenudin HM, seorang jurnalis senior dan writerprenuer di Aula Perpusnas RI, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Minggu (30/6/2019).

Buku terbitan Campustaka ini dibedah oleh Syarifudin Yunus, Dosen Jurnalistik Unindra dan Pendiri Taman Bacaan Lentera Pustaka untuk mengingatkan akan pentingnya budaya menulis. Dimoderatori oleh Madin Tyasawan (pegiat literasi) dan dihadiri oleh 90 peserta membahas tip cara mudah menuangkan ide dan gagasan secara tertulis.

Karena yang tertulis akan abadi, sementara yang terucap akan hilang. “Melalui buku ini, saya ingin mengajak kita semua untuk menulis. Karena siapapun dan apapun dapat ditulis. Maka mulailah untuk menulis, Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!,” ujar Zaenudin HM, sang penulis buku.

Buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” tergolong buku yang “menggampangkan” pembaca dari sisi bahasa, mudah dicerna dan renyah. Keunikan buku ini memiliki gaya penulisan bersifat “provokatif” yang menyajikan “tips menulis”. Agar pembaca mau “memompa semangat” untuk menulis. Sebab menulis adalah perilaku, bukan pelajaran.

Syarifudin, selaku pembahas menyatakan, buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” dianggap sebagai buku provokatif yang mampu memerintah pembaca untuk jadi penulis. Pasalnya dari sisi konten, buku ini terglong paripurna dengan memaparkan proses kreatif seorang penulis dan mau menulis apa? Banyak pilihan untuk pemula, sehingga buku ini bisa jadi panduan menulis bagi para pemula.

Itu sebabnya antusiasme peserta saat bedah buku terasa dibangkitkan. Tidak kurang dari delapan penanya “concern” tentang cara untuk mudah menulis. Menulis dengan tuturan yang mengalir, komunikatif namun tetap menarik untuk dibaca. “Bedahan saya menyimpulkan, buku ‘Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!’ adalah sebuah provokasi untuk menjadi penulis. Dan dalam dunia literasi, hebatnya buku ini mampu memerintah pembaca untuk jadi penulis,” ujar Syarifudin.

Maka jangan cuma ngomong, menulis dong! Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Ubahlah tradisi lisan menjadi budaya tulis. Karena semua, bisa menulis … menulis dan menulis.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER