Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka

64% Taman Bacaan di Indonesia Dikunjungi Tidak Lebih dari 30 Anak

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. EDUKASI /
  4. Minggu, 14 Juli 2019 - 21:56 WIB

Syarifudin Yunus/Istimewa
Syarifudin Yunus
Foto: Istimewa

Sepinya taman bacaan, tentu tidak boleh dibiarkan. Pemerintah bersama-sama orang dewasa pengabdi sosial serta korporasi harus “merasa terpanggil” untuk menghidupkan semarak membaca di kampung-kampung di masyarakat

TOKOHKITA. Taman Bacaan di Indonesia dihadapkan tantangan yang besar. Karena ternyata 64% taman bacaan di Indonesia hanya dikunjungi tidak lebih dari 30 anak pembaca pada setiap jam baca. Itulah simpulan Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia yang dilakukan TBM Lentera Pustaka (30 Juni 2019).

Bila dirinci, ada 7% taman bacaan dengan 1-5 anak; 15?ngan 6-10 anak, dan 42?ngan 11-30 anak. Sementara taman bacaan dengan 31-50 anak 18?n taman bacaan dengan lebih dari 50 anak 18%. Survei ini menjadi sinyal kuat bahwa tradisi baca dan budaya literasi di masyarakat Indonesia tergolong rendah. Kondisi ini pun menegaskan kian kuatnya pengaruh main, gawai, dan tontonan televisi di kalangan anak-anak Indonesia. Akankah ke depan, taman bacaan kian sepi?

Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia ini cerminan pegiat literasi yang ada di 33 lokasi di Indonesia, seperti dari Bogor, Sukoharjo, Banyuwangi, Sumba Tengah, Jambi, Purwokerto, Nias Selatan, Buru Selatan,  Sorong Selatan, Kab. Gowa, Asahan, Padang Panjang, Rappang, Cirebon, Seram, Mamuju Tengah, Tapanuli Utara, Matawae, Landak, Manggarai Barat, Grobogan, Wonogiri, Buton Tengah, Kota Baru, Boyolali, Aceh Barat, Probolinggo, Purworejo, Malang, Semarang, Lampung Timur, Tanggamus, Jeneponto, dan Sumba Barat.

Sepinya taman bacaan, tentu tidak boleh dibiarkan. Pemerintah bersama-sama orang dewasa pengabdi sosial serta korporasi harus “merasa terpanggil” untuk menghidupkan semarak membaca di kampung-kampung di masyarakat. Taman bacaan bukan hanya menjadi tempat pemenuhan kebutuhan informasi tapi juga membentuk karakter anak. Agar tidak tergerus oleh pengaruh buruk dari teknologi dan pergaulan.

Mengapa taman bacaan sepi? Mungkin karena orang tua lebih suka menitipkan anaknya di mal. Atau lebih suka diam di rumah dengan berbagai fasilitas yang belum tentu baik untuk karakter dan masa depan anak. Apalagi bagi orang tua di kampung yang sibuk mencari nafkah siang-malam, seharusnya tidak sulit untuk menyuruh anaknya “nongkrong” di taman bacaan sambil membaca buku. Bila tingkat pengetahuan orang tua terbatas, seharusnya keberadaan taman bacaan adalah solusi.

Di tengah gempuran era digital dan serba instan seperti sekarang, taman bacaan seharusnya dapat dipilih anak-anak atau orang tua untuk memperkuat karakter dan mengembangkan potensi setiap anak yang tidak dilakukan di sekolah. Taman bacaan, tentu bukan hanya kegiatan membaca. Beberapa alasan kenapa anak perlu ke taman bacaan, antara lain:

Pertama, dapat berinteraksi dengan teman sebaya sambil ngobrol tentang dunia mereka sendiri. Tiap anak bisa bercerita sesuai gayanya masing-masing. Kedua, setelah membaca buku, anak-anak pun dilatih untuk menulis sebagai ekspresi ide dan gagasannya sehingga terbiasa menulis daripada berbicara. Ketiga, ditanamkan adab-etika dan perilaku baik pada anak-anak melalui salam, doa, antre, bahkan sopan-santun selama berada di taman bacaan.

Keempat, bisa menonton youtube bersama, sambil belajar internet yang sehat di taman bacaan dengan bimbingan pengelola taman bacaan. Kelima, diajarkan keterampilan, lomba, dan kegiatan positif yang disenangi anak-anak; seperti senam literasi, parade baca buku hingga membaca di alam terbuka. Keenam, disadarkan akan pentingnya sekolah hingga tuntas; agar tidak ada anak yang putus sekolah.

 
Maka seharusnya, taman bacaan tidak boleh sepi. Karena taman bacaan di manapun, adalah ruang publik untuk membangun tradisi baca dan budaya literasi bagi masyarakat setempat. Sehingga mampu menjadi pusat belajar informasi dan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 
 
“Ada yang salah bila taman bacaan sepi. Karena taman bacaan adalah pusat kegiatan anak yang positif, sekaligus tempat membentuk tradisi baca. Maka saya mengimbau, semua pihak baik pemerintah, korporasi maupun individu untuk lebh peduli terhadap taman bacaan di manapun. Zaman boleh maju. Tapi membaca jangan ditinggalkan. Mau jadi apa anak-anak, bila tidak baca?” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dan pegiat literasi, Minggu (14/7/2019).

Harus diakui, saat ini menjadikan anak-anak “dekat” dengan budaya membaca memang tidaklah mudah. Untuk itu, dibutuhkan komitmen dan aksi nyata dalam mengajak anak-anak untuk mau bergelut dengan buku bacaan. Karena itu, pengelola taman bacaan pun harus kreatif dan mampu membuat program taman bacaan yang menarik anak-anak. Karena jika tidak, taman bacaan kian “ditinggalkan” anak-anak.

“Membaca itu kegiatan yang serius dan monoton. Maka membaca di taman bacaan harus dibikin asyik dan menyenangkan anak-anak. Harus puny acara kreatif dalam mengelola taman bacaan,” sebut Syarifudin, yang berprofesi sebagai Dosen Unindra dan tengah menempuh S3 Program Doktor Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan.

Berangkat dari realitas itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kampung Warung Loa, Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari di Kaki Gunung Salak, Bogor tengah mengembangkan konsep “TBM-Edutainment”. Yakni sebuah konsep tata kelola taman bacaan berbasis edukasi dan entertainment. Taman bacaan yang dikemas dengan muatan edukatif dan hiburan; seperti: membaca bersuara, nonton youtube, lab baca di alam terbuka, mendatangkan “tamu dari luar”, pesta jajanan kampung gratis, free wifi tiap sabtu-minggu, bahkan edukasi literasi keuangan.

Alhasil, TBM Lentera Pustaka saat ini memiliki 62 anak pembaca aktif, yang membaca 3tigakali seminggu dan rata-rata setiap anak mampu membaca 5-10 buku per minggu. TBM Lentera Pustaka pun mengembangkan taman bacaan dengan melibatkan relawan, korporasi, dan individu yang peduli terhadap tradisi baca dan budaya literasi anak-anak.

“Sebagai pegiat literasi, saya kelola TBM Lentera Pustaka dengan cara kreatif dan menyenangkan. Agar anak-anak senang berada di taman bacaan. Bahkan di bulan Agustus nanti, kami menggelar Lomba Serba Buku. Lomba apapun sambil memegang buku bacaan. Bukan hanya buat anak-anak taman bacaan tapi juga masyarakat," kata Syarifudin.

Maka ke depan, taman bacaan di manapun tidak boleh sepi. Harus ada kepedulian dan keberpihakan terhadap tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Salam Literasi !

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER