Junaidi Gaffar

Menyoal Ekslusivitas dan Sekolah Favorit Pada PPDB

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Rabu, 26 Juni 2019 - 10:57 WIB

Junaidi Gaffar/Dokumen pribadi
Junaidi Gaffar
Foto: Dokumen pribadi

Sekolah favorit itu tidak penting. Yang paling penting adalah guru favorit. Guru yang membuat suasana belajar menyenangkan. Guru yang tidak sekedar menyampaikan apa yang ia tahu tapi juga mampu membangun minat dan motivasi siswa.

Penjelasan Dinas Pendidikan DKI tentang pelaksanaan sistem zonasi di PPDB DKI yang berbeda dengan apa yang ditentukan oleh pemerintah pusat  menunjukkan ketidakpahaman tentang tujuan utama pemberlakuan sistem Zonasi oleh Kementerian Pendidikan.

Jika kita berasumsi bahwa kualitas sekolah DKI sudah merata, maka justru sistem zonasi harusnya diberlakukan secara ketat dan mengikuti proporsi yang sudah diatur kementerian. Artinya siswa tidak perlu jauh-jauh berangkat sekolah dari rumah. Tidak menambah macet jalan raya, tidak menambah polusi. Tidak mengundang potensi tawuran, dan tidak harus berangkat sekolah hanya beberapa saat setelah azan subuh bergema. Toh kualitas semua sekolah sama. Kalau ada yang dekat mengapa mesti harus pilih yang jauh.

Sebagai bahan analisa kita bincangkan DKI Jakarta. Anies Baswedan selaku gubernur harus meninjau ulang aturan PPDB DKI di waktu mendatang. Tidak perlu terlihat berbeda kalau hanya untuk melanggengkan diskriminasi pendidikan. Sebagai seorang yang tahu betul hakekat pendidikan dan bagian penting dari dunia pendidikan Indonesia, harusnya Anies Baswedan bahkan berada di barisan terdepan untuk mengikis habis diskriminasi dan keruwetan dunia pendidikan di Jakarta. Menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Jika tidak percaya bahwa kebijakan yang berbeda dengan kementerian pendidikan ini hanya melanggengkan eksklusivitas sekolah elit sebagai tempat berkumpulnya siswa pintar dan latar belakang ekonomi orang tua yang kaya, silahkan pantau PPDB tahap pertama di sekolah-sekolah yang selama ini mendapat julukan sekolah favorit. Tidak ada bedanya dengan yang sudah-sudah bahkan mungkin makin mengukuhkan eksklusivitas yang telah lama ada.

Batas nilai terendah yang diterima sangat tinggi dan dengan rentang yang jauh lebih sempit. Misalnya di SMAN 8 dan 81 Jakarta untuk program IPA , nilai tertinggi 9,9 dan terendah 9.5.  Bayangkan, hanya dalam rentang 0.4 poin. Apa ini namanya kalau bukan eksklusivitas kaum pandai dan berada.

Untuk tahun ini, anggaplah ini sebagai kealpaan melihat masalah secara utuh plus lemahnya kemampuan birokrasi pendidikan DKI dalam melihat  masalah pendidikan DKI secara lebih komprehensif. Orang-orang di Dinas pendidikan yang masih hidup dengan paradigma eksklusivitas berbasis potensi akademik, sehingga nekad membuat aturan PPDB dengan melebarkan area cover zonasi harus disegarkan dengan figur-figur yang lebih punya motivasi untuk menjadikan pendidikan yang lebih inklusif, lebih adil dan lebih berorientasi untuk menjadikan pendidikan bukan sebatas memindahkan pengetahuan dari kepala ke kepala, tapi yang lebih penting menyiapkan pribadi-pribadi yang berwatak mulia, menghormati perbedaan dan keragaman  dan siap menghadapi tantangan dunia di masa mendatang.

Sekolah Favorit
Sekolah favorit itu tidak penting. Yang paling penting adalah guru favorit. Guru yang membuat suasana belajar menyenangkan. Guru yang tidak sekedar menyampaikan apa yang ia tahu tapi juga mampu membangun minat dan motivasi siswanya untuk tahu lebih dari apa yang bisa ia berikan di kelas. Guru yang tidak berhenti belajar, tidak tergoda untuk larut dalam riuh rendah persoalan yang bukan ranah pendidikan manusia. Guru yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk menjadi bagian dari proses pendewasaan siswa baik secara akademik maupun sikap mental

Profesor Yohanes Surya pernah berkata, tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanyalah siswa yang tidak bertemu guru yang tepat. Guru yang tepat inilah yang sekarang sulit dicari. Sudah cukup lama guru-guru terkotak-kotak antara mereka yang disuguhi siswa dengan potensi akademik yang tinggi plus sarana pembelajaran yang lengkap dengan mereka yang harus berhadapan dengan siswa dengan potensi akademik yang tidak terlalu bagus dengan banyak problematika ikutan sebagai dampak dari latar belakang ekonomi, tempat tinggal dan lain sebagainya. Keduanya menjalani proses belajar mengajar yang timpang kualitasnya.

Guru-guru di sekolah yang masuk kategori kurang bagus juga mengalami inferiority complex. Merasa bangga jika bisa dipindah ke sekolah yang masuk kategori sekolah favorit dan merasa rendah diri ketika terus menerus harus mendidik mereka yang secara akademik kurang bagus. Hal sebaliknya bisa berlaku bagi mereka yang mengajar di sekolah favorit tapi harus pindah ke sekolah yang tidak bagus kualitasnya. Ada semacam perasaan kecewa di sana. Padahal mereka dipindah justru untuk menaikkan kualitas pengajaran di sekolah yang baru.

Sistem zonasi yang digagas pemerintah dimaksudkan untuk menghapus diskriminasi semacam itu. Sudah saatnya semua siswa mendapat kesempatan belajar dari guru yang sama baik atau buruknya. Yang baik dipertahankan dan yang buruk diperbaiki dgn berbagai cara atau jika tidak berubah mutu pengajarannya bisa dipindah ke tugas-tugas administratif di sekolah.

Pada sahabat-sahabat guru, mari terus berbenah. Masa depan anak bangsa ini ditentukan oleh kualitas para guru yang mendidik dan mengajar siswa saat ini. Sudah saatnya semua upaya ditujukan untuk membangun kualitas diri agar bisa menghasilkan strategi pembelajaran terbaik yang akan berdampak besar bagi perkembangan kecerdasan akademik dan sikap mulia peserta didik.

Menjadi guru berarti menjadi pribadi yang tak kenal kata berhenti menimba ilmu. Hanya dengan cara itu para guru bisa terus mendidik tanpa ketinggalan pengetahuan di tengah kemajuan teknologi saat ini. Menjadi guru itu pekerjaan yang baik, dan  akan berubah menjadi pekerjaan yang mulia manakala apa yang kita lakukan bisa mengubah kualitas pengetahuan dan sikap moral siswa.

*Penulis adalah Lecturer di Surya University dan Head of Membership and Legal Support  Indonesian Publishing

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER