Ena Nurjanah

Kartini Milenial yang Berdaya untuk Perjuangan Indonesia

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Minggu, 21 April 2019 - 14:22 WIB

Ena Nurjanah/Istimewa
Ena Nurjanah
Foto: Istimewa

Perayaan hari Kartini tentunya tanpa pernah bermaksud mengurangi peran perempuan pejuang lainnya. Kartini adalah salah satu dari perempuan pejuang Indonesia, seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Meutia, Maria Walanda Maramis, dan lainnya.

Kaum perempuan Indonesia pastinya tidak akan pernah lupa dengan satu nama ini “Kartini". Nama yang melegenda dan akan selalu dikenal sebagai perempuan penuh inspirasi dan menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia di masa-masa setelahnya.

Perayaan hari Kartini tentunya tanpa pernah bermaksud mengurangi peran perempuan pejuang lainnya. Kartini adalah salah satu dari perempuan pejuang Indonesia, seperti  Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Meutia, Maria Walanda Maramis, dan lainnya.

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Berbagai bentuk peringatan coba dilakukan oleh seluruh perempuan Indonesia. Meskipun bentuk peringatannya sangat beragam, mulai dari yang sifatnya seremonial dengan mengadakan upacara dan berbagai lomba yang digagas dan dilaksanakan oleh kaum perempuan hingga kegiatan yang konseptual seperti mengadakan seminar, talkshow, dan lain lain.

Zaman milenial telah melahirkan begitu banyak Kartini-Kartini era baru yang bertransformasi menjadi perempuan-perempuan  hebat dengan berbagai prestasi yang membanggakan Indonesia. Di tempat-tempat bekerja, kantor, pabrik, sekolah, kampus, kita akan menemukan perempuan-perempuan yang hebat yang mampu menjalankan tugas-tugas pekerjaan seperti halnya yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Sebuah kebanggaan tersendiri dengan kemajuan yang telah dicapai kaum perempuan Indonesia.

Namun, dari semua kemajuan yang telah dicapai kaum perempuan Indonesia, kita tidak juga menutup mata bahwa masih banyak pula kaum perempuan yang tidak berdaya, atau menjadikan dirinya tidak berdaya karena berbagai faktor. Nah, Faktor dari dalam dirinya, seperti sikap tidak mau berkembang, tidak berpikiran terbuka, cenderung  malas, lebih banyak membuang waktu sia-sia dan lain sebagainya. Dan, faktor dari luar dirinya seperti ketidakberdayaan ekonomi yang menghambatnya menuntut ilmu, akses pendidikan yang sulit dan lain lain.

Apapun kondisi yang menghambat kemajuan seorang perempuan, seharusnya kita bisa belajar dari kisah hidup Kartini. Tokoh Kartini merupakan seorang perempuan yang pantang menyerah dengan keadaan dan selalu berusaha secara maksimal dengan segala sumber daya  yang dia miliki.

Kartini sangat suka belajar dan mencari ilmu. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar secara otodidak. Keterbatasan kaum perempuan kala itu terhadap akses pendidikan tidak membuatnya menyerah. Ia rajin belajar sendiri, membaca buku-buku berbahasa Belanda dan Jerman yang disediakan oleh ayahnya di rumah.

Akses bagi kaum perempuan sekarang agar bisa menjadi sehebat dan secerdas ibu Kartini sungguh-sungguh terbuka lebar. Ilmu apapun dapat dengan mudah didapat. Akses Internet telah menghadiahkan berjuta-juta ilmu pengetahuan bagi yang tahu bagaimana memanfaatkan peluang di era jejaring dunia maya sekarang.

Mulai dari bangku sekolah hingga perkuliahan kaum perempuan bisa mengakses ilmu pengetahuan dan buku-buku ilmu pengetahuan berkualitas yang bisa diakses dengan gratis. Seorang ibupun akan mampu menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya karena ia selalu meningkatkan kapasitasnya dengan belajar berbagai keterampilan dan pengetahuan bagaimana mendidik anak-anaknya.

Dan, bukannya justru larut dalam dunia media sosial semata, yang saat ini justru menjadi boomerang bagi para kaum ibu karena lebih banyak yang membuat mereka menjadi lengah dengan peran mulia seorang ibu bagi anak-anak mereka.

Adapun Internet yang menjadi boomerang bagi kaum perempuan pada umumnya, karena media sosial justru melemahkan potensi dirinya karena terjebak dalam dunia maya yang melena-kan dan melarutkan dirinya dalam euphoria, narsistic ataupun gaya hidup yang salah. Padahal, salah satu perjuangan Kartini adalah mendorong peran besar seorang ibu yang harus terus dijaga. Sebab, soso ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya.

Kartini juga sangat peduli dengan kehidupan sosial masyarakat sekitarnya. Kartini selalu memikirkan nasib kaum perempuan di sekitarnya yang tidak punya akses terhadap pendidikan. Maka, sudah sepantasnya kita meniru kemuliaan hati beliau terhadap persoalan masyarakat sekitar.

Kartini-kartini milenial memiliki segudang sumber daya, tentu akan membuatnya bisa melakukan lebih banyak kepedulian sosial. Terutama kemajuan bagi anak-anak dan kaum perempuan Indonesia. Selamat Hari Kartini, bersama Kartini-Kartini milenial kita bangun Indonesia yang lebih ramah bagi anak-anak dan kaum perempuan di Tanah Air tercinta.

*Ketua Lembaga Perlindungan Anak GENERASI

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER