Kurnadi Gularso

Startups Harus Terapkan Paradigma Baru dalam Bisnis

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. EDUKASI /
  4. Selasa, 9 April 2019 - 00:40 WIB

Kurnadi Gularso/Humas Binus
Kurnadi Gularso
Foto: Humas Binus

Dalam disertasinya, Kurnadi Gularso menyebutkan, fenomena bisnis yang pada ada saat ini dapat dibagi menjadi tiga hal, yakni disrupsi bisnis di mana-mana, lingkungan bisnis bersifat volatile, dan tingkat kegagalan bisnis digital yang relatif tinggi bisa mencapai 90%.

TOKOHKITA. Universitas Bina Nusantara menggelar sidang akademik dalam rangka Ujian Promosi Doktor Ilmu Manajemen untuk Calon Doktor Kurnadi Gularso, dengan disertasi bertema Peran Inovasi Model Bisnis yang Disruptif dalam Mencapai Keunggulan Transien dengan Moderasi Ikatan Komunitas, Studi pada Usaha Rintisan Digital di Indonesia; The Role of Disruptive Business Model Innovation in Attaining Transient Advantages with the Moderation of Community Engagement, Study on Indonesia Digital Startups.

Sidang disertasi yang digelar Senin (8/4/2019) ini, semula akan dipimpin Prof Dr Ir Harjanto Prabowo, MM, sebagai ketua sidang, digantikan oleh Prof Ir Bahtiar Saleh Abbas, MSc, PhD. Adapun Prof Dr Tirta Nugraha Mursitama, PhD sebagai promotor, dan Dr Pantri Heriyati, SE, M.Comm serta Dr Ir Boto Simatupang, MBP sebagai co-promotor satu dan dua. Sementara ketua penguji, Prof Dr Mts Arief, MM, MBA, CPM, penguji satu, Firdaus Alamsjah, PhD dan penguji dua, Dr Handito Joewono.

Hadir pada sidang disertasi ini, Fajar Harry Sampurno, Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, yang juga sebagai keynote speaker. Hadir pula sejumlah perwakilan BUMN maupun entitas swasta serta pegiat startups.

Dalam disertasinya, Kurnadi Gularso menyebutkan, fenomena bisnis yang pada ada saat ini dapat dibagi menjadi tiga hal. Pertama, disrupsi bisnis di mana-mana. Kedua, lingkungan bisnis bersifat VUCA (volatile atau bergejolak, uncertain dan tidak menentu. Kemudian, bersifat kompleks dan rumit, serta tidak jelas. Ketiga, tingkat kegagalan bisnis digital yang relatif tinggi bisa mencapai 90%. "Dalam menghadapi lingkungan bisnis yang bersifat VUCA tersebut, startups Indonesia harus menerapkan paradigma baru dalam bisnis, yakni berhenti memakai strategi sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan," katanya.

Untuk itu, pelaku startups di Indonesia harus beralih ke strategi rangkaian transient advantages, yakni keunggulan yang bersifat sementara agar bisnisnya dapat bertahan hidup dan bahkan secara kontinyu tumbuh dengan signifikan. Menurut Kurnadi, studi ini menyarankan bahwa, startups perlu menerapkan disruptive business model innovation (DBMI) atau inovasi model bisnis yang bersifat disruptif untuk mencapai transient advantages. Adapun DBMI mengacu pada teori inovasi disrupsi (disruptive innovation theory) dari Christensen (1997).

Sedangkan penerapan transient advantages mengacu pada pedoman dari McGrath (2013). Studi ini menyimpulkan, bahwa dalam rangka implementasi DBMI, startups memerlukan prasyarat yang harus dimilikinya yaitu, founder/C-Level dari startups harus memiliki critical thinking dan entrepreneurial mindset dengan selalu mencari dan menciptakan peluang baru.

Kemudian, fokus pada usersa atu customers dengan mengelola stakeholder (pemangku kepentingan) terpilih yang terkait dengan tujuan startups. Selain itu, organisasi harus memiliki dan selalu meningkatkan kapabilitas merekonfigurasi ulang secara kontinyu (continuous reconfiguration capabilities) sumber dayanya baik sumber daya internal yang dimiliki sendiri maupun sumber daya eksternal melalui kolaborasi. Sementara kapabilitas merekonfigurasi ulang sumber daya secara kontinyu tersebut menjadi prasyarat yang tidak hanya dalam kesuksesan menerapkan transformasi inovasi. Tapi juga dalam rangka scaling up bisnis, sehingga bisnis mencapai transient advantage dengan efektif dan efisien.

Kurnadi dalam risetnya juga menyimpulkan, untuk meningkatkan pencapaian transient advantage, startups perlu menerapkan community engagement (ikatan komunitas) dengan komunitas-komunitas terkait. Targetnya, seperti komunitas users/customers, partners atau mitra baik mitra pendanaan maupun mitra operasi, serta komunitas founders.

Adapun kebaruan studi ini adalah, penerapan disruptive business model innovation (DBMI) atau inovasi model bisnis yang disruptif sebagai initiator atau disruptor pada startups Indonesia, alternatif implementasi alternatif dari dynamic capabilities berupa continuous reconfiguration capability, stakeholder management, dan strategic orientation (entrepreneurship, market, dan technology). Selain itu, terdapat alternatif penerapan pedoman McGrath dalam mencapai transient advantages; serta, Ikatan komunitas (community engagement) tetap diperlukan oleh startups untuk meningkatkan kinerja inovasi agar mencapai transient advantage.

Terkait hasil disertasi ini, Kurnadi memberika saran bagi kebijakan pemerintah terkait startups di Indonesia; Pertama, pemerintah perlu menetapkan satu definisi startups yang dipahami bersama (mengacu pada KBLI/Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) agar efektif dalam mengelola dan memperlakukannya. Kedua, pemerintah diharapkan berkontribusi pada pembangunan ekosistem yang mendukung pertumbuhan startups termasuk pembangunan infrastruktur dan regulasi yang diperlukan institusi. Ketiga, pemerintah sebaiknya terkoordinasi menjadi satu pintu dalam enumbuhkembangkan startups dan ekosistemnya.

Keempat, menerapkan berbagai program akselerator seperti insentif pajak, subsidi dalam pembinaan, dan menjembatani pencarian dengan investor. "Adanya program pembangunan sumber daya manusia dan talent yang siap pakai sesuai dengan teknologi yang berkembang serta membangun masyarakat yang literasi digital," ungkap Kurnadi.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER