Menjaga Kewarasan di Tengah Perang Survei Politik

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Senin, 11 Maret 2019 - 22:49 WIB

Hasil survei/Istimewa
Hasil survei
Foto: Istimewa

Tak seperti 2009, pada pileg 2019, delapan lembaga survei kompak memprediksi kejayaan partai Moncong Putih (PDIP) di Senayan. Jika dibandingkan dari hasil pileg 2014, angka prediksi kemenangan lebih tinggi.

TOKOHKITA. Mendekati hari pemungutan suara pemilu 2019, 17 April, hasil survei elektabilitas partai politik berseliweran di semua media arus utama. Tak ayal, iklim politik pun semakin memanas, bahkan kegaduhan merambat dari para elite hingga akar rumput.

Kendati kegaduhan dalam demokrasi dianggap keniscayaan, ada etika dan aturan yang mesti ditegakkan agar politik tidak menjadi pemicu perpecahan di masyarakat. Hasil survei tak bisa dijadikan sandaran dan tolok ukur yang memastikan masa depan. Meski begitu sejumlah pihak menggunakan data lembaga survei (manapun) yang dianggap menguntungkan partai atau calonnya sebagai bahan perang propaganda kampanye.

Harapannya tak lain agar calon pemilih terpengaruh, dan mencoblos calon yang memiliki peluang menang paling besar. Padahal hasil survei tak menjamin kesamaan kondisi dan konteks saat hari pencoblosan.

Pada pemilu legislatif (pileg) 2004, misalnya, tak ada perbedaan yang signifikan antara hasil survei dengan hasil pileg 2004. Namun kenyataan berbeda terjadi saat pileg 2009, sejumlah lembaga survei gagal memprediksi pergerakan Partai Demokrat sebagai partai baru dalam pertarungan politik memperebutkan kursi di Senayan.

Satu di antaranya Indobarometer (5-6 Juni 2008) yang memprediksi kemenangan Demokrat hanya 9,6 persen atau kurang dari separuh hasil pileg 2009, 20,85 persen. Ada pula Indonesian Research and Development Institute (IRDI) yang memprediksi Demokrat menggaet hanya 11,2 persen suara per Juli 2008 dan Puskaptis yang mengestimasi perolehan suara Demokrat hanya 19,8 persen per Maret 2009.

Ketiga lembaga survei di atas justru masih melihat partai lama seperti PDIP masih berjaya pada pemilu 2009 dan dibayangi Partai Golkar. Burhanudin Muhtadi menyebut prediksi kemenangan Demokrat yang dirilis LSI saat itu dituding sebagai bentuk "melacurkan" diri pada partai besutan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Kenyataan berkata lain. Demokrat menjadi pemenang pileg dengan perolehan suara 20,85 persen. Kemenangan ini mengantar 150 kursi bagi Demokrat atau meningkat hampir 3 kali lipat dari periode sebelumnya. Kegagalan sejumlah lembaga survei memprediksi Demokrat menurut Daniel Dakhidae (1999) lantaran absennya akurasi atau benar tidaknya ramalan (correctness) dan presisi atau ketepatan ramalan (exactness).

Burhanudin juga berpendapat, kesahihan survei dilihat dari seberapa representatif sampel yang diambil mewakili populasi. Tak berselang lama, SBY terpilih dalam pilpres 2009 dengan kemenangan telak (61 persen) mengalahkan pesaingnya Megawati Soekarnoputri (27 persen) dan Jusuf Kalla (12 persen).

Saiful Mujani dan William Liddle dalam artikel bertajuk Personalities, Parties, and Voters menyebutkan kepemimpinan tokoh partai dan kesamaan identitas (ideologi) pemilih dengan partai berpengaruh pada perolehan suara pileg 1999 dan 2004.

Tapi pola tersebut cenderung berbeda pada pileg 2009 yang menunjukkan kepemimpinan tokoh partai menguat. Sementara identitas kepartaian justru melemah.

Demokrat saat itu diuntungkan oleh kepemimpinan SBY (baca survei tokoh di sini) yang menjadi presiden pada 2004-2009. Ketokohan SBY sebagai Presiden RI dan pemimpin Demokrat memengaruhi kemenangan dalam kontes pileg.

Selain itu, ada pula faktor persepsi masyarakat soal pertumbuhan ekonomi dan berbagai kebijakan SBY saat itu yang cukup memengaruhi pilihan saat pileg. Faktor ini tak ditemukan pada Pemilu 2004 dan 2009.

Belajar dari 2009, lembaga survei makin berhati-hati pada survei pileg 2014. Kemenangan Demokrat berhasil diprediksi tak akan bertahan lama pada 2014. Survei pileg 2014 dari berbagai lembaga survei memprediksi Demokrat mendapat 8,29 persen (angka rata-rata) dari total perolehan suara. Realitanya tak beda jauh, yakni 10,19 persen.

Raihan angka tersebut tak lagi mengantar Demokrat menjadi pemenang pileg 2014. Mereka kalah dari PDIP yang memperoleh 19,95 persen.

Dikutip dari Lokadata Beritagar.id, terlihat bagaimana perbandingan survei 2019 dengan hasil pileg untuk 2014. Lembaga survei yang digunakan adalah mereka yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) seperti LSI Denny JA, Cyrus Network, Lembaga Survei Indonesia, Saiful Mujani Research Centre, Poltracking, Populi Center, Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Litbang Kompas, Indikator, dan Charta Politika.

Karena keterbatasan data, tidak semua survei longitudinal diambil. Hanya survei terakhir yang dilakukan oleh tiap lembaga survei atau yang bisa diakses datanya. Pertanyaan survei yang diajukan kepada responden: Jika pemilu legislatif (DPR) dilakukan sekarang, partai politik apa yang menjadi pilihan

anda?  Hasil survei dan realita

Tak seperti 2009, pada pileg 2019, delapan lembaga survei kompak memprediksi kejayaan partai Moncong Putih (PDIP) di Senayan. Jika dibandingkan dari hasil pileg 2014, angka prediksi kemenangan lebih tinggi.

LSI Denny JA, misalnya, memprediksi kemenangan PDIP 23,7 persen atau berbeda 4,95 persen dari perolehan 2014.Bahkan, mayoritas dari delapan lembaga survei memprediksi Gerindra menduduki posisi nomor dua. Pola sama pada 2009 kembali berulang pada 2019 ketika ketokohan menjadi faktor penentu pemilihan.

Pada 2019, pimpinan Gerindra, Prabowo Subianto, maju menjadi capres. Artinya, popularitas Prabowo pun mendongkrak partainya.Golkar menyusul di urutan ketiga. Golkar dengan tokoh identiknya, Jusuf Kalla, yang masih berada di pemerintahan (wakil presiden) turut menguntungkan elektabilitas partai beringin ini.

Temuan menarik lainnya adalah ada setidaknya 11 partai yang diprediksi tak akan lolos treshold --empat di antaranya sempat lolos ke Senayan dan menduduki kursi parlemen. Mereka adalah PKS, PPP, PAN, dan Hanura.Rezim reformasi kata Burhanudin Muhtadi, memberikan kebebasan kepada peneliti untuk melakukan survei opini elektabilitas partai politik untuk pileg dan kandidat capres untuk pilpres.

Pada Pemilu 1999, ada lima lembaga yang mengadakan survei opini; Resource Productivity Center (RPC), International Foundation for Election Systems (IFES), LP3ES, Litbang Harian Kompas, dan KPP-Lab Politik UI. Pada saat itu, lembaga survei sukses memprediksi kemenangan PDIP.

Survei kembali marak 2004 dengan kemunculan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS), Danareksa Research Institute (DRI) dll. Di Pemilu 2004, LSI membuktikan akurasi prediksi kemenangan PDIP saat Pileg.Pemilu 2009, setidaknya ada 22 lembaga yang tergabung di Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI). Belum lagi yang tergabung di Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI).

Bagaimana menilai hasil survei tersebut? Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Philips Jusario Vermonte, menyatakan cara termudah mengawasi hasil survei politik, dengan meminta mereka membuka data mentah dalam bentuk berkas digital kepada publik, dan ditayangkan di situs resmi KPU. "Cara paling gampang mengawasi lembaga survei politik, jangan hanya membiarkan lembaga survei merilis hasil surveinya," ungkap Philips, seperti dikutip JPNN.

Editor: Tokohkita

TERKAIT