Kiwil

Kita Berpemilu dengan Akhlak Umat Islam

  1. Beranda /
  2. Perspektif /
  3. Selebis /
  4. Minggu, 17 Februari 2019 - 01:47 WIB

Kiwil/Tokohkita
Kiwil
Foto: Tokohkita

Belakangan ini, mulai jarang tampil televisi.Usut punya usut, ia memiliki kesibukan lain yakni menjadi pendakwah. Hal itu dilakukannya sejak tahun 2017 lalu. “Kegiatan gue sekarang banyak pengajian,” aku Kiwil saat berbincang dengan Tokohkita, belum lama ini.

TOKOHKITA. Siapa yang tak kenal dengan pelawak Kiwil. Pria yang kini berusia 46 tahun ini pertama kali terjun ke dunia hiburan di era 90-an. Bersama dua rekannya, Yadi dan Murfi, pria bernama asli Wildan Delta itu membentuk grup lawak bernama Sembako. Naik turun pamor Kiwil di dunia hiburan sudah dilalui. Namanya semakin tenar, ketika bergabung dengan pelawak Komeng, yang juga sahabatya di Radio Suara Kejayaan. 

Memang, Sembako aktif melawak di Radio Suara Kejayaan sejak 1993. Saat itu, mereka tampil bersama grup lawak lain, seperti Warkop DKI, Bagito, dan Patrio. Tapi saat Radio Suara Kejayaan mengalami resesi dan berubah nama Hard Rock FM pada 1997, Kiwil beserta grup Sembako ikut berhenti siaran. Berhentinya Radio Suara Kejayaan sempat membuat Kiwil mengalami masa-masa yang sulit.

Kiwil sering kali ikut mengisi di program 'Spontan' bersama Komeng. Meski peran Kiwil di 'Spontan' tidak besar, orang-orang mulai mengenalnya sebagai sosok yang mampu menirukan suara da'i kondang, Zainuddin MZ. Memasuki era 2000, karier Kiwil mulai kembali bangkit. Tapi di puncak kejayaan kariernya sekitar tahun 2003, Kiwil tersandung masalah rumah tangga dan isu poligami.

Kiwil yang sudah beristri Rochimah diketahui menikah lagi dengan Meggy Wulandari. Meski mulanya menolak dimadu, hingga kini Rochimah dan Meggy masih bisa jadi bagian dari keluarga poligami Kiwil. Yang jelas, hidup berpoligami tidak membuat karier Kiwil amburadul.

Belakangan ini, mulai jarang tampil televisi.Usut punya usut, ia memiliki kesibukan lain yakni menjadi pendakwah. Hal itu dilakukannya sejak tahun 2017 lalu. “Kegiatan gue sekarang banyak pengajian,” aku Kiwil saat berbincang dengan Tokohkita, belum lama ini.

Meski disibukkan dengan berdakwah, Kiwil memastikan tidak akan meninggalkan dunia hiburan. Tapi berupaya menjadikan dunia hiburan sebagai ladang dakwah. Di sisi lain, Kiwil juga sering terlihat di aktivitas politik pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi. Pemeran film horor komedi ini mengaku sebagai simpatisan Prabowo.

Kiwil juga menyampaikan keprihatinannya mengamai kondisi politik saat ini malah sarat dengan perdebatan yang tidak subtansial, banyak ujaran kebencian, berita bohong dan fitnah yang bisa berpotensi merusak persatuan umat dan bangsa Indonesia. Di luar itu, Kiwil blak-blakan soal pilihan politiknya yang mendukung Prabowo. Apa pertimbangannya? Berikut petikan wawancaranya:

Sudah mulai jarang menghiasi layar kaca, kesibukan saat ini apa?

Shooting-shooting sih masih jalan, kegiatan off air juga. Ngisi ceramah juga, kemarin baru dapat undangan mengisi pengajian dari Polres. Ke pengajian-pengajian lah.

Yang disampaikan saat pengajian apa?

Temanya soal pemilu damai. Pemilu dikaitkan dengan tauhid.

Maksudnya?

Menjalin ukhuwah Islamiah dalam penyelenggaraan pemilu. Mengikuti pemilu ini dengan akhlakul karimah. Menjadikan pemilu sebagai demokrasi yang damai, tenang, tentram dengan mengedepankan ahlak umat Islam. Jangan gara-gara pemilu, akhlak kita menjadi berubah dan buruk. Jadi ribut-ribut.

Nyatanya, sepanjang masa pemilu ini umat terpecah-pecah, ujaran kebencian dan fitnah banyak beredar di media sosial?

Gue bilang itu orang norak, norak banget. Fitnah orang tanpa dasar, mecela dan memaki itu bukan akhlak umat Islam. Jangan mudah menilai orang lain jahat. Kalau kita menerima fitnahan, jangan ikut memfitnah. Tahu dari mana dia jahat, apalagi kalau engak tahu apa-apa, hanya ikut-ikutan saja. Banyak-banyaklah berperasangka baik ke orang lain, harus banyak khusnudzan karena itu akhlakul karimah yang diajarkan Islam. Orang gampang menfitnah itu karena tidak kenal, kalau cerdas harus cari tahu, tidak kenal coba lakukan pendekatan sehingga mendapat informasi yang benar. Umat Islam harus sering tabayun.

Tapi kenapa orang di media sosial ini cenderung pemarah, suka menghina dan menfitnah karena beda pilihan politik. Juga tak sedikit yang melakukan itu justru orang berpendidikan?

Kalau bener, kebayakan begitu ya itu orang tolol aja. Jadi orang itu harus pintar, enggak boleh jahat-jahatin orang kalau hanya kenal sesaat. Kita harus mengedapankan sikap akhlakul karimah, kembali pada akhlak umat Islam. 

Terkadang,orang hanya bermaksud mengkritik tapi dipahami sebagai upaya menjelek-jelekan atau menjatuhkan lawan politik?

Jangan kita menilai orang karena kadang-kadang, umpamanya, misal begitu-begini lah. Kalau itu, ya kadang-kadang juga otak, lu. Kalau pengen tahu, ya deketin orangya. Orang cerdas pasti akan mencari informasi yang benar.Tapi doyan nyebar fitnah, itu gue bilang tadi, norak.

Semestinya, meski beda pilihan politik tapi tetap persatuan yang harus dikedepankan?

Pastinya harus seperti itu. Soal dukung-mendukung tidak apa-apa, karena pilihan ya. Kalau kamu tak suka Jokowi ya pilih Prabowo. Kalau enggak suka Prabowo, pilihlah Sandi. Kan, kelar tuh. Saya ini simpatisan Prabowo, kalau ditanya kamu dukung siapa, pasti Prabowo dan tidak akan ragu-ragu bilang itu, masa milihnya Jokowi. Tapi soal dukungan ini nanti, saat pencoblosan. Suara gue tergantung nyoblos, entar.

Tensi politik pemilu sekarang dengan pemilu terdahulu agak berbeda. Kenapa?

Ya bedalah, pemilu dulu gue masih muda sedangkan pemilu sekarang sudah tua. Lebih ramai karena ada media sosial aja. Tapi yang perlu dipahami itu, setiap presiden itu sama melakukan pembangunan untuk kemajuan rakyatnya. Nah, kalau kita berpikir cerdas, setiap presiden akan menjalankan tugasnya, melakukan pembangunan. Antara presiden yang ini dan presiden yang itu, sama melakukan pembangunan, presiden dulu dan sekarang juga menjalankan tugas pembangunan. Pembangunan itu untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa, menjadi negara yang baik, baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur. Ada  pemimpin yang berwibawa, bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa, itu kan pemimpin yang baik.

Pemerintahan sekarang juga gencar menjalakan program pembangunan, artinya sudah benar?

Konsep pembangunan pemerintahan saat ini sudah dipahami, harus kerja, kerja, kerja. Dan itu sudah gue lakuin. Tapi maaf-maaf saja, lahir dan batin, yang ada sumpah malah blangsak. Ternyata memang ada pemimpin yang, ayo kerja, kerja, kerja dan ibadah. Ternyata, bener juga kita membangun negara itu tidak terlepas dari Yang Maha Kuasa, Tuhan, semuanya yang punya Allah SWT. Kalau kerja, kerja, kerja, Firaun juga begitu, bikin pembangunan. Tapi ujungnya apa, dihancurkan. Qorun pun begitu. Dulu, gue enggak ngaji, sekarang gue terus belajar ngaji. Pemimpin yang percaya akan Tuhannya, yang harus dipegang. Pemimpin yang mendekatkan dengan rakyatnya dan mendekatkan diri pada Tuhan, nah itu yang dipegang. Dan, Prabowo, akan jadikan itu. Jadi boleh saja membangun, tapi harus ingat semua ini atas izin Allah.

Jokowi sudah terbukti melakukan pembangunan, dekat juga dengan rakyat dan ulama. Tapi kalau Prabowo baru calon, kan, belum berbuat apa-apa?

Ha ha ha, gini aja, kapan kamu bisa melakukan kalau tak diberi kesempatan. Kalau waktunya sudah tepat, tapi itulah politik masyarakat juga harus paham. Kalau gue sendiri, ini Kiwil kal mempertanggungjawaban dan menyerahkan kepemimpinan nanti kepada Allah. Soal urusan pemimpin yang dipilih melenceng juga, kita serahkan saja kepada Allah. Gue tinggal tengadahkan tangan , ya Allah, ya rabbal 'alamin. Tapi setidaknya, gue dalam memilih pemimpin juga lihat-lihat dulu. Gue sudah tua dan punya pikiran, kan. Jadi pilih Prabowo karena beliau sudah mubahalah, sudah berjanji akan membangun bangsa ini dengan demi Allah. Kelar tuh, beliau sudah mubahalah.

Editor: Tokohkita

TERKAIT