Iswanto Amperawan

Orang Lapangan Jadi Bos Kontraktor

  1. Beranda /
  2. Kiprah /
  3. Korporasi /
  4. Kamis, 10 Januari 2019 - 01:33 WIB

Iswanto/Istimewa
Iswanto
Foto: Istimewa

TAHUN 2017 lalu menjadi tahun yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang Iswanto Amperawan. Pasalnya, pria yang tahun ini akan menginjak usia 52 tahun ini dipercaya untuk memimpin PT Pembangunan Perumahan (PTPP) Presisi Tbk, anak usaha PTPP (Persero) Tbk.

TOKOHKITA. Lantaran menyukai proses pembangunan gedung bertingkat, seorang Iswanto Amperawan bertekad untuk menjadi insinyur sipil dan bekerja sebagai kontraktor. Cita-citanya pun tercapai. Bahkan kini, Iswanto sukses meraih puncak kariernya di perusahaan jasa konstruksi gedung, PT PP Presisi Tbk sejak tahun2017 lalu. Seperti apa kisahnya?

TAHUN 2017 lalu menjadi tahun yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang Iswanto Amperawan. Pasalnya, pria yang tahun ini akan menginjak usia 52 tahun ini dipercaya untuk memimpin PT Pembangunan Perumahan (PTPP) Presisi Tbk, anak usaha PTPP (Persero) Tbk.

Terpilihnya Iswanto menjadi bos anak perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) konstruksi itu bisa dibilang mengejutkan. Bahkan, untuk Iswanto sendiri. Maklum, selama ini sepanjang kariernya di PTPP, Iswanto lebih banyak bergelut dengan jabatan teknis ketimbang jabatan struktural.

Iswanto mengaku tak pernah memprediksi dirinya akan terpilih memimpin perusahaan anak usaha, yakni Direktur Utama PTPP Presisi. Apalagi, dia mengaku tidak pernah punya target untuk sebuah jabatan dalam perjalanan kariernya. "Saya lebih fokus merintis karier secara profesional dalam arti mengerjakan berbagai proyek-proyek konstruksi," ujar dia.

Iswanto memilih untuk tidak masuk ke struktur perusahaan, karena dengan begitu, dia merasa bisa lebih mengaktualisasikan diri dan berkontribusi semaksimal mungkin terhadap bidang ilmu yang dipelajarinya, yakni teknik sipil. Ada sisi menarik dari pilihan Iswanto mempelajari teknik sipil, yakni kegemarannya melihat proyek pembangunan gedung.

Lelaki kelahiran Bengkulu 30 Mei 1966 ini mengaku lahir dan besar di Sumatera. Pada era 1980-an, di pulau itu masih sangat minim pembangunan gedung bertingkat. Makanya, ketika dia hijrah dari Bengkulu ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah, saat dia melintasi jalanan di Jakarta, Iswanto begitu terkesima melihat pembangunan berbagai gedung tinggi di Ibukota. Dari situlah ia berkeinginan suatu saat akan terlibat dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat.

Setelah lulus SMA, Iswanto pun memilih kuliah di Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia lulus pada tahun 1991 dengan konsentrasi pada gedung. Menjadi insinyur bidang teknik sipil tahun 1991 membuat Iswanto tak sulit mencari pekerjaan. Tak lama setelah lulus kuliah, dia langsung diterima kerja di PTPP dengan posisi perdana sebagai site engineer dan bertahan satu tahun.

Tahun 1992, Iswanto diberi kepercayaan untuk menangani berbagai proyek dengan diangkat menjadi site engineering manager dan site operation manager sejak 1992 hingga 1997. Bahkan, saat jabatan lama masih dipegangnya, Iswanto dipercaya merangkap jabatan dengan memegang posisi sebagai project manager atau general manager/technical advisor pada 1994 dan bertahan hingga 2013.

Dengan jabatan yang diembannya tersebut, jangan pernah berharap Iswanto berada di belakang meja kerjanya setiap hari. Selama 22 tahun kariernya di bagian teknis tersebut, karier Iswanto matang di lapangan dan terlibat dalam sejumlah proyek strategis, seperti pembangunan Rumah Sakit Paser di Kalimantan Timur, Stadion Utama Riau Pekanbaru, dan Stadion Pakansari Cibinong, Bogor.

Selama puluhan tahun mengurusi langsung berbagai pembangunan gedung di seluruh Indonesia, Iswanto memperoleh berbagai pengalaman yang sangat berkesan. Seperti terjadi tahun 2007 silam, saat dirinya ditunjuk menjadi project manager dalam pembangunan Stadion Madya Sempaja di Samarinda, Kalimantan Timur.

Di proyek tersebut, Iswanto mendapat waktu selama enam bulan untuk menyelesaikan pembangunan stadion ini. Namun setelah ditelusuri, ternyata bangunan lama stadion harus dibongkar. Ia perlu mengaudit pondasi yang ada, baru membangunnya kembali.

Namun, target waktu penyelesaian tak bisa ditawar, makanya Iswanto saat itu harus rela tidur di stadion yang sedang dibangun selama berhari-hari. Bahan material bangunannya banyak yang impor. Padahal, bahan yang diimpor itu banyak bahan kimia. Jadi ketika pengiriman itu, saya kawal betul. Saya berbagi tugas dengan yang lain, ujar Iswanto.

Ada lagi pengalaman menarik lainnya, seperti saat mengerjakan proyek Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Saat itu, dirinya harus membangun rumah sakit delapan lantai seluas 40.000 meter persegi dalam waktu enam bulan. Alhasil, kerja lembur dan terkadang siap 24 jam mengawasi proyek harus dilakoninya agar hasilnya tak mengecewakan. Meski ada sejumlah kendala teknis yang dialami, namun Iswanto mengatakan, pekerjaan yang dilakoninya selama di lapangan sangat menarik

Jadi pegawai kantoran

Meski kerap kali harus tidur di lokasi proyek pembangunan dengan suara bising dari mesin dan aktivitas konstruksi, tapi Iswanto merasa nyaman. Ia tak pernah berpikir untuk lengser dari lapangan, dan bergerak ke kantor. Maka tak heran, bila Iswanto mengaku kerap menolak jabatan baru yang akan membawanya lebih banyak di kantor ketimbang di lapangan.

Tahun 2013 adalah fase transisi bagi Iswanto dari "orang lapangan" menjadi pegawai kantoran. Saat itu, Iswanto menerima jabatan sebagai Kepala Cabang 5 PTPP di Semarang. Ia memegang jabatan itu hingga tahun 2015.

Setelahnya, Iswanto ditarik untuk menjadi Kepala Cabang 3 PTPP di Jakarta hingga tahun 2017 sebelum akhirnya ditunjuk menjadi Direktur Utama PTPP Presisi. "Saya merasa tak boleh lagi lari dari tanggung jawab terhadap perusahaan yang memang membutuhkan tenaga saya," ujar dia.

Iswanto beranggapan, ia dipilih menjadi bos PTPP Presisi lantaran pencapaiannya selama ini. Dia merasa pimpinan perusahaan mungkin melihat kinerjanya yang baik dan Iswanto dapat mengatur waktu dalam bekerja, bisa mengembangkan bisnis, serta tahu kapan harus mendapatkan haknya.

Sebagai orang tertinggi di PTPP Presisi, Iswanto menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam memimpin perusahaan ini. Apalagi, PP Presisi sudah melakukan penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO). Dia menyadari, harus terus berupaya untuk membangun PTPP Presisi menjadi perusahaan konstruksi yang lebih besar lagi.

Tantangannya besar sekali. Apalagi sejak kami melakukan IPO. Kami harus tumbuh besar dan harus bisa mencapai apa yang sudah kami canangkan. Pertumbuhannya harus pasti, terang Iswanto.

PTPP Presisi sudah mengalami berbagai transformasi. Perusahaan yang berdiri sejak 2004 ini, dulunya dikenal sebagai PT Prima Jasa Aldodua, yang bergerak dalam jasa penyediaan sewa peralatan konstruksi skala kecil. Fokusnya pada pengembangan alat ringan, dan mengelola alat berat milik PT PP Tbk. Setelah berbagai perubahan tersebut, saat ini perusahaan ini dikenal sebagai PT PP Presisi, yang merupakan perusahaan jasa konstruksi yang berbasis pada diferensiasi produk seperti jasa konstruksi sipil dan gedung.

swanto beranggapan dia belum menghasilkan banyak prestasi selama menjabat sebagai direktur utama. Namun, ia mengatakan, IPO yang mereka lakukan merupakan puncak dari bisnis transformasi tahap 1. Selanjutnya, perusahaan harus terus mengembangkan bisnis dari berbagai kesempatan yang ada.

Di sisi lain, tantangan yang harus dihadapi Iswanto saat ini adalah bekerja dengan banyak anak muda yang minim pengalaman konstruksi di lapangan. Ya, semenjak melakukan proses transformasi, PTPP Presisi merekrut banyak anak muda yang baru lulus dari bangku kuliah. Mereka ditempatkan di bagian teknis konstruksi lapangan.

Iswanto mengatakan, saat ini di PP Presisi terdapat 25% karyawan dengan usia yang muda dari seluruh karyawan yang ada. Iswanto menilai cara kerja generasi saat ini berbeda dengan orang-orang di generasinya. Menurut dia, anak muda sangat mengandalkan teknologi dan tidak mau diatur. Namun, uniknya mereka bisa mencapai target yang ditetapkan dengan cara mereka sendiri.

Anak muda itu sebetulnya hanya cara mengerjakannya yang berbeda. Kalau saya menerangkan goal (target) yang harus dicapai, kadang-kadang prosesnya yang tidak sesuai dengan yang biasa dilakukan sebelumnya. Kalau generasi tua itu bagaimana bekerja keras, tekun. Kalau mereka, kan, tidak mau diatur. Saya harus menyesuaikan, mereka tidak bisa dipaksa bekerja seperti itu, ujar Iswanto.

Iswanto menambahkan, dirinya selalu memantau pekerjaan karyawannya melalui aplikasi pengirim pesan instan. Namun, ia jarang melibatkan diri dalam pembicaraan anak buahnya, supaya tidak ada rasa enggan di antara mereka. Sebagai seseorang yang lama bekerja sebagai bawahan seseorang, Iswanto pun menginginkan setiap karyawan di PT PP Presisi bisa berkomunikasi dengannya.

Karena itu, ketika karyawannya memiliki masalah, Iswanto pun mau mereka menyampaikan keluh kesahnya. Ketika mereka menghadapi masalah, mereka jangan takut berbicara, kuncinya itu saja. Saya selalu berusaha membuka pintu dialog," ujarnya.

Sumber: KONTAN

Editor: Tokohkita