Birokrasi Masih Menjadi Tantangan Startup di Indonesia

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Selasa, 8 Januari 2019 - 20:59 WIB

Lars Voedisch, Managing Director perusahaan konsultan komunikasi berbasis di Singapura PRecious Communications/Istimewa
Lars Voedisch, Managing Director perusahaan konsultan komunikasi berbasis di Singapura PRecious Communications
Foto: Istimewa

Perusahaan riset untuk pasar Asia dan Eropa, BOI Research, baru-baru ini merilis hasil penelitiannya mengenai tantangan yang dihadapi startup-startup di Indonesia. Menurut Ingmar van den Brink, Direktur BOI Research, dari pelaku industri startup yang disurvei, rata-rata hambatannya berkisar tentang birokrasi, penjualan, lokasi kantor, pengelola keuangan, rekrutmen pegawai, dan peningkatan kapasitas dari tim yang ada.

TOKOHKITA. Memasuki era Indonesia 4.0 dengan kecepatan internet dan penetrasi pasar ponsel cerdas yang semakin meningkat, perusahaan rintisan digital (startup) akan berperan penting terhadap ekonomi Indonesia ke depan. Dengan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, menjadikan Indonesia sebagai negara ASEAN yang menarik bagi para investor khususnya untuk investasi startup.

Perusahaan riset untuk pasar Asia dan Eropa, BOI Research, baru-baru ini merilis hasil penelitiannya mengenai tantangan yang dihadapi startup-startup di Indonesia. Menurut Ingmar van den Brink, Direktur BOI Research, dari pelaku industri startup yang disurvei, rata-rata hambatannya berkisar tentang birokrasi, penjualan, lokasi kantor, pengelola keuangan, rekrutmen pegawai, dan peningkatan kapasitas dari tim yang ada.

"Dari sisi birokrasi, menurut data yang kami peroleh, rata-rata pelaku startup menganggap sulit mendirikan perusahaan di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangganya. Di Indonesia proses izin dan administrasi untuk mendaftarkan usaha bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan meskipun sudah menggunakan agen atau notaris. Untuk pelaku usaha asing, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai lima bulan. Hal ini disebabkan oleh ketidakjelasan informasi dan persyaratan yang harus dipenuhi. Tentu ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah," tuturnya, Selasa (8/1).

Selain itu, tambah Ingmar, banyaknya startup yang berguguran di tengah jalan selain disebabkan karena kurangnya modal, juga karena rencana bisnis yang kurang matang dan juga produk yang yang tidak unik atau kompetitif.  "Rata-rata startup mendapatkan dana awal dari lingkup terdekatnya, seperti keluarga atau teman. Startup yang menggunakan dana pribadi sering mengalami kesulitan setelah beberapa waktu, mereka kehabisan dana karena perencanaan keuangan yang tidak matang."

selain masalah modal, mayoritas pelaku usaha ingin membuka kantor di Jakarta, karena Ibukota dianggap masih memiliki potensi pasar yang besar. Namun, harga sewa kantor di Jakarta sangatlah tinggi yang akhirnya membuat pelaku usaha untuk menjadikan rumah sebagai kantor atau menggunakan virtual address.

Terkait dengan pertumbuhan bisnis, startup Indonesia mayoritas berharap bisa  break event point (BEP) di tahun ketiga hingga kelima. Faktor rendahnya ekuitas perusahaan serta tingginya kompetisi di industri yang sama menjadi penyebab para pelaku startup tidak bisa mencetak keuntungan di tahun-tahun pertama.

"Sumber daya manusia pun menjadi isu bagi startup di sini. Minimnya keterampilan teknis para lulusan universitas menjadi kendala tersendiri bagi perusahaan untuk berkembang. Mayoritas para pemilik startup mengatakan mereka lulus dari pendidikannya dalam kondisi yang tidak siap dengan dunia kerja. Selain itu, para lulusan ini juga memiliki ekspektasi tinggi yang sering tidak bisa dipenuhi startup" tambah Ingmar.

Meski demikian, kata Ingmar, kesalahan tidak sepenuhnya terletak pada para fresh graduate tersebut. Manajemen startup sendiri pun luput dalam memberikan pelatihan-pelatihan rutin untuk mengembangkan kapasitas sumber daya internalnya.   "Dari yang kami survei, lebih dari setengah responden mengatakan mereka menyediakan pelatihan kepada timnya. Namun sayangnya, tidak rutin diadakan karena keterbatasan waktu."

Riset ini melibatkan 23 startup yang beroperasi di Jakarta, Bandung dan Denpasar dengan masa berdiri kurang dari lima tahun. Sebanyak 64 persen responden adalah CEO dan 36 persen pada posisi manajerial. Selain itu, 53 persen responden berlatar belakang pendidikan bisnis dan ekonomi, 33 persen dari bidang komunikasi dan hubungan internasional, sedangkan 14 persen dari teknik. Dari sisi jender, 64 persen responden adalah pria dan 36 persen wanita.

Lars Voedisch, Managing Director perusahaan konsultan komunikasi berbasis di Singapura PRecious Communications, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat telah menjadikan kawasan Asia Tenggara terdepan dalam ekosistem digital.  “Di Indonesia, dengan populasi lebih dari 250 juta orang, ditambah kelas menengah yang terus bertambah serta semakin tingginya penetrasi internet dan smartphone di Indonesia, peluang untuk menciptakan sesuatu yang besar melalui perusahaan rintisan digital terbuka lebar,” jelasnya.

Menurut Lars, ekosistem bisnis Indonesia berkembang dinamis dengan rata-rata startup bergerak di transportasi dan e-dagang. "Startup Singapura didukung oleh sistem yang komprehensif, sedangkan startup-startup di Indonesia masih menghadapi tantangan infrastruktur dan lingkungan bisnis di dalam negeri, meski banyak juga yang berhasil dan sukses,” ungkapnya.

Menjalankan perusahaan rintisan digital di Indonesia, menurutnya, punya peluang dan resiko yang sama-sama besar. Misalnya ketidakpastian politik menjelang pemilu Indonesia tahun ini.  "Apa yang dapat dikontrol oleh para startup lokal adalah bagaimana menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas, jaringan distribusi yang kuat, mitra yang koperatif terutama untuk startup asing yang masuk ke Indonesia, serta tim yang berkomitmen dalam menumbuhkan bisnis mereka," pungkasnya.

 

Editor: Admin