Wayan Supadno

Sebuah Alasan Inisiasi PKS Mini untuk Petani Sawit

  1. Beranda /
  2. Opini /
  3. Senin, 7 Januari 2019 - 16:39 WIB

Wayan Supadno, Pengamat dan Praktisi Pertanian/Istimewa
Wayan Supadno, Pengamat dan Praktisi Pertanian
Foto: Istimewa

Data luas sawit kita belum ada satu pun yang valid. Demikian juga komposisi luas sawit petani, prediksi sekitar 6 juta ha dari total luas 14 juta ha, sisanya milik perusahaan. Jika rerata produktivitasnya milik petani 20 ton per ha per tahun, maka totalnya 120 juta ton tandan buah segar sawit (TBS). Anggap saja 100 juta ton per tahunnya.

Sejak tujuh bulan lalu bahkan lebih lama lagi, harga sawit tak kunjung menyenangkan petani, sekalipun 10 hari terakhir sudah mulai naik lagi.  Walaupn naiknya harga belum di atas harga pokok produksi (HPP), artinya petani merugi massal. Di petani antara Rp 400-Rp 600 per kg dan di (pabrik kelapa sawit (PKS) antara Rp 800-Rp 1.350 per kg, tergantung PKS-nya.

Data luas sawit kita belum ada satu pun yang valid. Demikian juga komposisi luas sawit petani, prediksi sekitar 6 juta ha dari total luas 14 juta ha, sisanya milik perusahaan. Jika rerata produktivitasnya milik petani 20 ton per ha per tahun, maka totalnya 120 juta ton tandan buah segar sawit (TBS). Anggap saja 100 juta ton per tahunnya.

Ruas perdagangan sawit dari petani ke PKS, melalui tengkulak dan supllier, kesemuanya butuh modal dan mengambil laba. Mereka labanya sangat besar termasuk PKS-nya. Sekalipun petani merugi massal dalam waktu yang bersamaan. Ini berdampak serius terhadap proses gjni rasio atau kesenjangan sosial yang makin lebar menganga. Petani yang sudah miskin dimiskinkan lagi secara massal demi memacu percepatan makin kayanya para tengkulak, supplier dan PKS.

Selisih antara harga di petani Rp 600 per kg dengan di PKS Rp 1.350 per kg. Ini mestinya diminimalisir dengan sebuah regulasi dan inovasi membumi. Jika diurai kontribusi ongkos kirimnya sekitar Rp 150 per kg untuk truk, bahan bakarnya biasanya 35%  atau Rp 52 per kg. Sisanya jadi laba tengkulak, pemilik truk, supplier dan tenaga kerja hilir.

Kali ini saya fokus pada jika PKS Mini ada di tengah kebun kumpulan petani tiap 1.000 ha. Maka akan menghemat BBM untuk truk Rp 35/kg TBS x 100 juta ton/tahun = Rp 3,5 triliun/tahun.  Artinya, selama ini kita boros membakar BBM sebanyak itu hanya untuk mendekatkan TBS petani ke PKS yang ada.

Otomatis, petani punya hak harga sama dengan harga di PKS selama ini, yaitu Rp 1.350 per kg. Jika itu terjadi maka petani telah dapat laba sehat. Karena HPP nya maksimal Rp 1.000 per kg. Sisi lain, petani dapat nilai tambah laba dan manfaat besar jangka panjangnya. Misal saja tandan kosong (tankos) yang selama ini banyak numpuk di kebun milik PKS saja.

Kebun mereka saja yang akan makin sehat lestari karena banyak bahan organiknya. Kebun petani makin miskin bahan organik yang sangat dibutuhkan tanaman. Padahal jika TBS-nya petani 100 juta ton per tahun maka tankosnya 20 juta ton per tahun. Luar biasa dampak akumulatifnya bagi kebun petani kita jika itu kembali 100% ke lahan petani.

Hukum alam, jika lahan petani tetap subur karena banyak humus berkat hancurnya tankos maka kebutuhan pupuk kimia kebun petani makin sedikit, HPP petani makin rendah dan makin kompetitif lagi, laba petani makin naik tajam. Moril bertani makin tinggi, gini rasio makin tertekan.

Itu baru pada ruas hulunya, belum ruas hilir nilai tambah pasca proses dari TBS jadi produk turunannya misal minyak goreng atau biornergi yang mudah dipasarkan. Praktis cadangan devisa untuk impor BBM fosil makin sedikit lagi yang terpakai. Hemat devisa, cadangan devisa makin besar dan stabilitas terjaga.

Semoga mimpi petani Inovasi Membumi PKS Mini Hak Petani makin cepat jadi nyata, karena petani punya deposito hasil pungutan sawitnya terkumpul di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP - KS) berjumlah belasan triliun per tahunnya. Sangat mungkin dijadikan PKS Mini Petani, jika Pemerintah serius peduli nasib petani menyisihkan dana BPDP - KS hanya Rp 10 triliun saja maka bisa jadi 3.000 unit PKS Mini yang labanya kembali milik petani.

Pendek kata, jika ada program gerakan cepat mssal oleh Pemerintah terhadap PKS Mini Petani yang dana dari BPDP - KS (yang selama dipungut dari petani), maka petani dapat harga Rp 1.350 per kg, dampaknya mendapat laba sehat dan manfaat nyata dari proses PKS Mini kembali milik petani.

Dalam kerjasama usaha, sesungguhnya pemenang sejati adalah yang memenangkan semua pihak, bukan  dirinya bisa gemuk karena menguruskan pihak lain.

*Wayan Supadno, Pengamat dan Praktisi Pertanian

Editor: Tokohkita