Mendorong Kota Baubau jadi penyangga kawasan timur Indonesia

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Senin, 3 Desember 2018 - 19:15 WIB

Pakar Ekonomi Kelautan, Rokhmin Dahuri/Istimewa
Pakar Ekonomi Kelautan, Rokhmin Dahuri
Foto: Istimewa

Saat ini, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara tengah berkembang menjadi salah satu penyangga di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berada pada bagian barat Pulau Buton dan terletak pada perlintasan antara bagian barat (tengah) dan timur Indonesia, Kota Baubau dinilai memiliki posisi yang strategis sebagai jalur transit atau persinggahan yang menghubungkan jalur pelayaran antara Barat dan Timur Indonesia, antara Surabaya dan Makassar, antara Maluku dan Papua.

TOKOHKITA. JAKARTA. Saat ini,  Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara tengah berkembang menjadi salah satu penyangga di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berada pada bagian barat Pulau Buton dan terletak pada perlintasan antara bagian barat (tengah) dan timur Indonesia, Kota Baubau dinilai memiliki posisi yang strategis sebagai jalur transit atau persinggahan yang menghubungkan jalur pelayaran antara Barat dan Timur Indonesia, antara Surabaya dan Makassar, antara Maluku dan Papua.

Posisi strategis Kota Baubau juga ditopang oleh keberadaan pelabuhan alamnya yang menghadap ke utara dan merupakan pelabuhan utama dan menjadi penghubung antar kawasan Barat dan Timur Indonesia pada jalur pelayaran Nusantara. Hal ini menyebabkan sejak dulu kala daerah atau Kota Baubau menjadi pusat sirkulasi dan distribusi barang kebutuhan bagi daerah-daerah dalam kawasan sekitarnya, termasuk barang-barang hasil laut, hasil hutan, hasil pertanian ke luar daerah.

Pakar Ekonomi Kelautan, Rokhmin Dahuri mengatakan, dengan menjadikan Kota Baubau sebagai pusat logistik, industri, dan ekonomi KTI seperti Kota Makassar, maka masalah disparitas pembangunan antar wilayah dan ketimapangan sosial akan secara signifikan dapat diatasi. Dan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Baubau akan lebih besar dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Namun, menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu Kota Baubau memiliki berbagai tantanan untuk menjadi daerah penyangga di Kawasan Timur Indonesia seperti jauhnya jarak (remoteness) Kota Baubau dari pusat konsumen dan pasar nasional (Jawa, khususnya Jabodetabek) maupun pasar global, infrastruktur, dan lain-lain.

“Infrastruktur (pelabuhan, bandara, jaringan jalan, listrik dan gas, telekomunikasi, internet (digital), air bersih, pengolahan limbah, belum memenuhi syarat sebagai kota yang maju, makmur, dan mandiri,” ujarnya saat menjadi narasumber pada acara diskusi terbatas “Bumi Seribu Benteng: Penyangga Kawasan Indonesia Timur di Jakarta, Senin (3/12).

Selain itu, Rokhmin yang juga Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu bilang, sebagian besar unit usaha (sektor pembangunan) di Kota Baubau masih tradisional, belum menerapkan teknologi terakhir dan manajemen modern (economy of scale, sistem rantai suplai terpadu, dan ramah lingkungan serta sosial) produktivitas, daya saing, dan sustainability rendah.

“Iklim investasi dan kemudahan berbisnis (ease of doing business) belum memenuhi kriteria sebagai Kota yang maju dan makmur,” tandasnya.

Adapun kendala lainnya adalah Konsep pembangunan (RPJMD dan Blueprint) belum tepat dan dilaksanakan secara berkesinambungan, emahnya promosi dan pemasaran untuk mendatangkan dana APBN, investor, wisatawan, dan tamu (visitor), SDM yang berkualitas (knowledge, skills, dan work ethics) jumlahnya masih kurang. Di sisi lain, belum ada kawasan industri atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai prime mover pembangunan wilayah, dan daya tarik investasi dan bisnis.

Untuk menghadapi berbagai kendala dan tantangan tersebut, Rokhmin Dahuri mendorong kebijakan pembangunan Kota Baubau menjadi kawasan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Pertama, penyusunan atau revisi(penyempurnaan) dan implementasi RTRW : (1) minimal 30% total luas wilayahnya untuk kawasan lindung (protected area) berupa hutan lindung, RTH, situs budaya, sempadan pantai dan sungai, dll; (2) maksimal 70% wilayahnya untuk kawasan pembangunan (industri maufaktur, idustri kreatif, pariwisata, perikanan, pertanian, pelabuhan, perkantoran, kawasan bisnis, pemukiman, dan infrastruktur); dan (3) jaringan transportasi, drainasi dan irigasi, listrik, telkom, internet, air bersih, pengelolaan limbah (waste management), dan lain-lain.

Kedua, revitalisasi sektor-sektor ekonomi yang ada (existing) supaya lebih produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan (sustainable). Ketiga, pengembangansektor-sektordankawasan- kawasan ekonomi baru yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan sustainable.Empat, membangun KEK didekat pelabuhan atau bandara berbasis: industri manufaktur, maritim, agroindustri, ESDM, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Lima, revitalisasi dan pengembangan sektor-sektor ekonomi pada butir-2, 3, dan 4 diatas harus menerapkan: (1) economy of scale; (2) integrated supply-chain management system (hulu – hilir secara terpadu); (3) teknologi mutakhir di setiap rantai suplai; (4) teknologi Industri-4.0 (seperti digital, IoT, Artificial Intelligent, Big Data, dan bioteknologi); dan (5) ramah lingkungan (sustainable).

Enam, tata kota (layout, landscape, taman kota, gedung, dan bangunan lain) mesti dibuat efisien, bersih, sehat, indah, asri, nyaman, dan aman Sehingga menjadi tempat tinggal yang menyenangkan dan membahagiakan (Smart and Green City).

Editor: Admin

TERKAIT